LENSA BALI: Tradisi & Budaya

Hot


Tampilkan postingan dengan label Tradisi & Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi & Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2026

𝗛𝗮𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗧𝘂𝗸𝘀𝗲𝗱𝗼 𝗔𝘂𝘁𝗼 𝗮𝗻𝗱 𝗙𝗮𝘀𝗵𝗶𝗼𝗻 𝗚𝗮𝗹𝗮 𝟮𝟬𝟮𝟲, 𝗣𝘂𝘁𝗿𝗶 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗧𝗲𝗻𝘂𝗻 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗧𝗲𝗺𝗯𝘂𝘀 𝗣𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗴 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮

September 19, 2026 0
Hadiri Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026, Putri Koster Dorong Tenun Bali Tembus Panggung Dunia

GIANYAR, Lensabali.id – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mengapresiasi penyelenggaraan Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 di Tuksedo Studio, Gianyar, Jumat (18/9/2026). Ajang tersebut mempertemukan kreativitas otomotif dan fesyen dalam satu panggung, sekaligus memberi ruang bagi desainer untuk mengeksplorasi kain tenun endek dan berbagai kain berciri khas Bali.

Menurut Ny. Putri Koster, kegiatan yang membuka ruang bagi desainer dan pelaku industri kreatif perlu terus digelar secara konsisten. Keberlanjutan agenda semacam ini dinilai penting untuk membangun ekosistem fesyen Bali sekaligus memperkuat posisi kain tenun tradisional sebagai bagian dari identitas budaya yang memiliki nilai ekonomi.

“Teruslah digaungkan, angkat juga kearifan tenun tradisional kita, hingga suatu saat Bali tidak hanya terkenal karena tariannya, tidak hanya terkenal dengan tembangnya, tetapi suatu saat nanti Bali bisa menjadi kiblat mode dunia selain negara-negara di Eropa,” ujar Ny. Putri Koster.

Ia menyebut cita-cita tersebut membutuhkan perjalanan panjang, konsistensi, serta dukungan dari berbagai pihak. Fesyen berbasis budaya tidak dapat berkembang secara instan. Karena itu, ruang untuk berkarya, berkreasi, sekaligus mempromosikan produk desainer dan kain tradisional Bali perlu terus diperluas hingga mampu menjangkau pasar nasional dan internasional.

Hadiri Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026, Putri Koster Dorong Tenun Bali Tembus Panggung Dunia

Ny. Putri Koster kemudian mencontohkan kiprah desainer Bali, Nyoman Adi, melalui TAKSU yang telah mendapat kesempatan membawa karyanya ke berbagai agenda fesyen di luar negeri, termasuk Paris dan Jepang. Menurutnya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa karya kreatif Bali memiliki peluang untuk memperoleh apresiasi yang lebih luas di tingkat global.

Momentum tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak desainer Bali yang berani mengeksplorasi kekayaan budaya lokal. “Semoga dari acara ini akan bangkit desainer-desainer Bali lainnya,” harapnya.

Sementara itu, CEO Tuksedo Studio, Pudji Handoko, mengatakan Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 sekaligus menjadi momentum peluncuran First Lady. Kendaraan tersebut dirancang di Bali dengan konsep yang mengambil inspirasi dari mobil klasik era 1930-an serta sentuhan gaya Art Deco.

Peluncuran kendaraan tersebut kemudian dipadukan dengan peragaan busana yang menampilkan karya sejumlah desainer berbahan kain tenun endek dan kain khas Bali lainnya. Kolaborasi ini menghadirkan pertemuan antara dunia otomotif dan fesyen dalam sebuah panggung kreatif yang mengedepankan identitas lokal.

Dekranasda Provinsi Bali terus mendorong tumbuhnya ruang-ruang kreativitas yang mengangkat kekayaan budaya sebagai sumber inspirasi. Pemanfaatan kain tradisional dalam industri kreatif diharapkan semakin membuka peluang bagi perajin dan desainer, sekaligus meningkatkan nilai tambah serta daya saing produk kerajinan Bali. (*/ap)
Read More

Jumat, 18 September 2026

𝗧𝗮𝗸 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗙𝗲𝘀𝘁𝗶𝘃𝗮𝗹 𝗦𝗲𝗻𝗶, 𝗕𝗮𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗖𝗮𝗸𝗮 𝗙𝗲𝘀𝘁 𝟮𝟬𝟮𝟳 𝗗𝗶𝗯𝗶𝗱𝗶𝗸 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗠𝗮𝗴𝗻𝗲𝘁 𝗪𝗶𝘀𝗮𝘁𝗮𝘄𝗮𝗻

September 18, 2026 0

Tak Sekadar Festival Seni, Badung Caka Fest 2027 Dibidik Jadi Magnet Wisatawan

BADUNG, Lensabali.id - Pemerintah Kabupaten Badung mulai mematangkan persiapan Badung Caka Fest 2027. Festival budaya tahunan tersebut diarahkan untuk berkembang dari pertunjukan seni lokal menjadi salah satu ikon pariwisata Badung yang mampu menarik wisatawan mancanegara.

Kepala Dinas Kebudayaan Badung I Gede Sukadana mengatakan persiapan dilakukan sejak jauh hari dengan mengevaluasi pelaksanaan sebelumnya. Pemkab Badung juga menggandeng Komite Ekonomi Kreatif untuk memperkuat konsep festival.

"Persiapan, kami memang sudah jauh-jauh hari agar matang secara perencanaan. Ada banyak yang kami evaluasi. Kami melibatkan komite ekonomi kreatif untuk mematangkan konsepnya," kata Sukadana, Rabu (16/9/2026).

Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan Disbud Badung, Ida Bagus Agung Munika, mengatakan salah satu pengembangan utama ialah memperkuat keterlibatan wisatawan mancanegara dalam rangkaian acara. Persiapan akan diawali workshop pada 12-18 Oktober 2026, kemudian dilanjutkan dengan penyaluran dana motivasi dan kreativitas bagi sekaa teruna.

"Ajang ini bakal jadi ikon pariwisata baru Kabupaten Badung karena melibatkan tamu dari mancanegara. Persiapan diawali workshop pada 12-18 Oktober 2026, lalu dilanjutkan penyaluran dana motivasi dan kreativitas untuk sekaa teruna," ujar Munika.

Konsep festival juga diarahkan agar wisatawan asing tidak hanya hadir sebagai penonton. Komite Ekonomi Kreatif Badung tengah menyiapkan sejumlah inovasi yang memungkinkan wisatawan berinteraksi dan terlibat langsung dalam atraksi budaya yang ditampilkan.

Pengembangan tidak hanya berpusat pada Badung Caka Fest. Sejumlah kawasan penyangga pariwisata juga mulai disiapkan untuk menjadi lokasi pertunjukan budaya saat Sasih Kesanga. Langkah ini sekaligus ditujukan untuk menyebarkan konsentrasi massa dan memperluas titik atraksi wisata.

Ketua Komite Ekonomi Kreatif Badung, Nyoman Primahita Gunadarma, mengatakan sedikitnya tiga wilayah baru di luar Pecatu, Bualu, dan Kuta akan diproyeksikan sebagai lokasi uji coba pertunjukan ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan.

"Kami menargetkan minimal tiga wilayah baru di luar Pecatu, Bualu, dan Kuta sebagai pilot project pertunjukan ogoh-ogoh pada malam Pengerupukan. Wilayah dekat akomodasi wisata, seperti Canggu dan Munggu, mulai kami bidik agar perayaan Sasih Kesanga tidak menumpuk di satu titik," ujar Primahita.

Menurut Primahita, pengembangan agenda budaya berskala internasional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Dinas terkait, pelaku industri pariwisata, asosiasi hingga agen perjalanan diharapkan ikut mengambil peran agar rangkaian kegiatan semakin hidup dan memberi dampak lebih luas.

"Perayaan Kesanga Fest bukan cuma tanggung jawab Dinas Kebudayaan semata. Dinas Pariwisata, asosiasi hingga agen perjalanan harus ikut berkontribusi meramaikan event di Sasih Kesanga," jelas Primahita. (ap)
Read More

Rabu, 16 September 2026

𝗧𝘂𝘁𝘂𝗽 𝗨𝗗𝗚 𝗫𝗫𝗫𝗜𝗜𝗜 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲, 𝗚𝘂𝗯𝗲𝗿𝗻𝘂𝗿 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗥𝗲𝗴𝗲𝗻𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗷𝗲𝗴 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗕𝗮𝗹𝗶

September 16, 2026 0
Tutup UDG XXXIII Bali 2026, Gubernur Koster Tekankan Regenerasi dan Ajeg Budaya Bali

DENPASAR, Lensabali.id – Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup Utsawa Dharma Gita (UDG) ke-33 Tingkat Provinsi Bali Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Rabu (16/9). Mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, pelaksanaan UDG mendapat apresiasi karena mampu melibatkan masyarakat secara luas, termasuk anak-anak dan generasi muda.

Koster menilai antusiasme peserta menunjukkan masih kuatnya kecintaan masyarakat terhadap seni, sastra, bahasa dan budaya Bali. Ia juga memberi perhatian terhadap penampilan para peserta yang dinilai rapi dan mencerminkan identitas budaya Bali.

“Kalau kita sudah berbusana dengan apik dan rapi, itu juga menjadi identitas krama Bali,” ujar Gubernur Koster.

Menurutnya, cara berbusana tidak semata berkaitan dengan penampilan, tetapi juga menjadi bagian dari ekspresi karakter dan jati diri. Ketertiban yang ditunjukkan para peserta UDG dinilai mencerminkan masyarakat Bali yang tetap menjunjung budaya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau semua orang seperti ini, Bali akan menjadi Bali yang tertib dan berbudaya.”

Koster juga mengaku bangga melihat kemampuan masyarakat Bali, khususnya anak-anak, dalam menggunakan bahasa Bali. Di tengah kemampuan tersebut, generasi muda juga mampu menguasai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kondisi itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan menutup diri dari perkembangan zaman.

UDG, lanjut Koster, memiliki arti penting dalam memastikan regenerasi budaya Bali. Keterlibatan anak-anak bersama peserta dari kalangan remaja dan dewasa menjadi pertanda bahwa nilai-nilai budaya terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, pengalaman mengikuti kegiatan kebudayaan akan membantu anak-anak mengenal, memahami sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya Bali.

Koster menilai masyarakat Bali harus mampu mengikuti kemajuan teknologi tanpa kehilangan identitas. Ia melihat teknologi modern dan kebudayaan dapat berjalan berdampingan sepanjang masyarakat memiliki fondasi budaya yang kuat. Hal tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian penting pembangunan Bali.

Ia juga menyoroti perkembangan demografi Bali, termasuk semakin berkurangnya generasi yang menggunakan nama berdasarkan urutan kelahiran seperti Nyoman dan Ketut. Koster berharap jumlah masyarakat Bali tidak terus menurun karena keberlangsungan budaya sangat berkaitan dengan keberadaan masyarakat Bali sebagai pelaku sekaligus pewaris tradisi.

Tutup UDG XXXIII Bali 2026, Gubernur Koster Tekankan Regenerasi dan Ajeg Budaya Bali

“Siapa yang menjalani ritual dan upacara keagamaan kalau bukan masyarakat Bali?” tegasnya.

Pada penutupan tersebut, Koster turut memberikan sejumlah catatan untuk penyelenggaraan UDG berikutnya. Ia meminta piala penghargaan dibuat lebih praktis, elegan dan berkualitas dengan tetap menampilkan ciri khas Bali. Produk lokal juga diharapkan lebih banyak digunakan sehingga penghargaan sekaligus dapat menjadi ruang bagi kreativitas masyarakat Bali.

Selain itu, nilai hadiah bagi para pemenang UDG akan ditingkatkan pada pelaksanaan tahun depan. Kebijakan tersebut diharapkan menambah semangat peserta sekaligus membuat penyelenggaraan UDG semakin menarik.

Mengakhiri sambutannya, Koster berpesan kepada anak-anak dan generasi muda agar terus bekerja dengan tulus dan lurus serta menjalankan karma yang baik. Mereka, kata Koster, merupakan calon pemimpin yang akan menentukan arah masa depan Bali.

“Masa depan kebudayaan dan ajeg Bali ada di tangan kalian,” pesan Gubernur Koster.

Pada kesempatan itu, Koster juga memberikan apresiasi kepada Kabupaten Badung yang berhasil menjadi Juara Umum UDG ke-33 Tingkat Provinsi Bali Tahun 2026. Badung mencatatkan perolehan 21 Juara I, 11 Juara II dan tiga Juara III. (hms/ap)
Read More

Senin, 14 September 2026

𝗦𝗲𝗻𝗶 𝗟𝗶𝗻𝘁𝗮𝘀 𝗔𝗴𝗮𝗺𝗮 𝗠𝗲𝗿𝗶𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗧𝗶𝗿𝘁𝗮 𝗚𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗔𝗿𝘁 𝗙𝗲𝘀𝘁𝗶𝘃𝗮𝗹 𝗱𝗶 𝗞𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝘀𝗲𝗺

September 14, 2026 0
Seni Lintas Agama Meriahkan Tirta Gangga Art Festival di Karangasem

KARANGASEM, Lensabali.id - Tirta Gangga Art Festival kembali digelar di Karangasem, Bali, dengan menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya dari berbagai latar belakang. Festival yang berlangsung pada 13-19 September 2026 itu tidak hanya menampilkan kesenian Bali dan Hindu, tetapi juga seni budaya lintas agama.

Kepala Pengelola Taman Tirta Gangga, Anak Agung Made Kosalya, mengatakan festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan sekaligus memperkenalkan beragam kesenian dan kebudayaan yang berkembang di Bali.

Selain tari massal, rangkaian kegiatan juga diisi parade budaya dan sejumlah perlombaan yang berlangsung selama festival.

"Sudah tentunya festival ini kami menyelenggarakan atau menampilkan seni-seni budaya, bukan saja seni budaya Hindu atau Bali, tetapi kami juga menampilkan seni budaya dari lintas agama," kata Kosalya saat ditemui di sela-sela acara, Minggu (13/9/2026).

Menurut Kosalya, keberagaman menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Bali. Pulau Dewata tidak hanya memiliki tradisi seni yang erat dengan budaya Hindu, tetapi juga kehidupan masyarakat dari berbagai agama yang hidup berdampingan dengan toleransi.

Selain menjadi wadah pelestarian budaya, festival ini diharapkan mampu memberikan dampak terhadap perkembangan pariwisata, khususnya di Karangasem. Kehadiran festival diharapkan menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan untuk berkunjung ke Gumi Lahar.

"Harapan kami dengan penyelenggaraan festival ini, jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Bali khususnya ke Karangasem makin meningkat," harap Kosalya.

Ia juga mengajak pelaku pariwisata, pemerintah, serta berbagai pihak lainnya untuk bersama-sama mendorong kebangkitan pariwisata Karangasem. Salah satunya melalui kegiatan seni dan budaya yang dapat memperkaya daya tarik daerah.

Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata atau Gus Par turut menyambut positif penyelenggaraan Tirta Gangga Art Festival. Menurutnya, festival tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas potensi pariwisata Karangasem sekaligus mendorong peningkatan jumlah kunjungan.

Gus Par berharap festival ini dapat semakin memperkuat citra Karangasem sebagai salah satu tujuan wisata di Bali. Pertumbuhan pariwisata juga diharapkan membawa dampak ekonomi yang lebih luas, termasuk membuka peluang masuknya investasi ke daerah.

"Ini sangat bagus sekali untuk mengangkat nama Karangasem untuk ke depannya. Mudah-mudahan ke depan pariwisata makin meningkat, kunjungan wisata juga makin meningkat," harap Gus Par. (ap)
Read More

Sabtu, 12 September 2026

𝗕𝘂𝗸𝗮 𝗨𝗗𝗚 𝗫𝗫𝗫𝗜𝗜𝗜 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲, 𝗚𝘂𝗯𝗲𝗿𝗻𝘂𝗿 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗧𝗲𝗸𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗶𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮 𝗦𝗗𝗠 𝗨𝗻𝗴𝗴𝘂𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗲𝗴𝗿𝗶𝘁𝗮𝘀

September 12, 2026 0
Buka UDG XXXIII Bali 2026, Gubernur Koster Tekankan Pentingnya SDM Unggul dan Berintegritas

DENPASAR, Lensabali.id – Gubernur Bali Wayan Koster membuka Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Denpasar, Jumat (11/9/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 16 September 2026 tersebut menjadi momentum memperkuat pelestarian sastra, bahasa, dan budaya Bali sekaligus membentuk sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berintegritas.

Mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, UDG XXXIII Bali diikuti dalam 11 bidang lomba dengan 37 kategori. Bidang yang dipertandingkan meliputi membaca Sloka, Palawakya, Kakawin, Kidung, Nyanyian Keagamaan Hindu, Gaguritan, Dharmawacana Bahasa Bali, Dharmawacana Bahasa Inggris, Menghafal Sloka, Dharmawiwada, dan Dharmacarita.

Dalam sambutannya, Gubernur Koster menegaskan UDG tidak semata-mata menjadi arena perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini dinilai memiliki peran strategis dalam membangun SDM Bali yang unggul sebagaimana diarahkan dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.

Koster mengatakan gagasan mengenai pentingnya SDM unggul tidak muncul begitu saja. Pemikiran tersebut, menurutnya, lahir setelah mempelajari berbagai hasil penelitian dan literatur yang merekam perjalanan peradaban Bali, mulai dari masa Bali Kuno hingga perkembangan Bali saat ini.

“Kenapa saya mengangkat SDM Bali unggul? Karena saya membaca berbagai dokumen hasil riset dan buku-buku tentang peradaban Bali, mulai dari Bali Kuno hingga perkembangan Bali sampai sekarang,” ujar Gubernur Koster.

Ia menyebut nilai-nilai dalam Nangun Sat Kerthi Loka Bali juga berakar dari kekayaan sastra dan peradaban Bali masa lalu. Berbagai nilai tersebut menggambarkan karakter ideal masyarakat Bali yang dikenal tekun, rajin, ulet, jujur, serta menjunjung tinggi kesetiaan pada kebenaran.

“Orang Bali itu jemet, tekun, ulet, rajin, jujur, berpegang pada satya, dan lebih mendahulukan kewajiban daripada hak,” tegasnya.

Namun, Koster melihat perubahan zaman turut memengaruhi kehidupan masyarakat. Kemajuan yang hadir bersamaan dengan perkembangan zaman juga membawa tantangan terhadap karakter dan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Bali.

Ia menyinggung munculnya sejumlah persoalan sosial, seperti perilaku tidak jujur dan korupsi, serta tindakan yang dinilai tidak lagi mencerminkan kesantunan. Meski demikian, ia menegaskan fenomena tersebut tidak menggambarkan masyarakat Bali secara keseluruhan.

“Memang ada penurunan dari kesunatian orang Bali. Mulai ada korupsi, ada yang nakal, ada yang jahat. Tetapi yang begitu tidak banyak. Yang masih banyak adalah orang-orang yang baik,” ungkapnya.

Buka UDG XXXIII Bali 2026, Gubernur Koster Tekankan Pentingnya SDM Unggul dan Berintegritas

Karena itu, Gubernur Koster mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama memperkuat kembali integritas dan karakter orang Bali. Nilai luhur yang pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat harus terus dijaga dan ditanamkan kepada generasi penerus.

Menurutnya, penguatan karakter tidak dapat dipisahkan dari bahasa, aksara, dan sastra Bali. Ketiga unsur tersebut bukan hanya bagian dari kebudayaan, tetapi juga menjadi ekosistem yang menyimpan pengetahuan, nilai kehidupan, serta identitas masyarakat Bali.

“Bahasa Bali dan aksara Bali itu adalah ekosistem kehidupan orang Bali,” kata Gubernur Koster.

Melalui UDG XXXIII, Koster berharap dharmagita dan kekayaan sastra Bali tidak berhenti pada kegiatan lomba maupun seremoni. Nilai yang terkandung di dalamnya harus terus dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan UDG juga menjadi ruang bagi masyarakat dan generasi muda untuk mengembangkan kemampuan dalam sastra dan seni keagamaan Hindu, sekaligus memperkuat kecintaan terhadap bahasa serta aksara Bali. Dari proses tersebut diharapkan tumbuh SDM Bali yang cerdas, berkarakter, berintegritas, dan memiliki jati diri yang kuat.

Dengan tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, UDG XXXIII Bali 2026 diharapkan semakin memperkuat dharmagita sebagai bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus menjadi salah satu fondasi dalam menjaga keberlanjutan peradaban Bali. (hms/ap)
Read More

Jumat, 11 September 2026

𝗜𝗯𝘂 𝗣𝘂𝘁𝗿𝗶 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿: 𝗔𝗸𝘀𝗮𝗿𝗮 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗧𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗶, 𝗗𝗶𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗶𝘄𝗮𝗿𝗶𝘀𝗸𝗮𝗻

September 11, 2026 0
Ibu Putri Koster Aksara Bali Harus Terus Dipelajari, Digunakan dan Diwariskan

DENPASAR, Lensabali.id – Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus mengenal, mempelajari, menggunakan, dan mewariskan bahasa, aksara, serta sastra Bali. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra” di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Kamis (10/9/2026).

Menurut Putri Koster, keberadaan aksara menjadi salah satu penanda penting perjalanan peradaban sebuah masyarakat. Bali patut berbangga karena memiliki sistem aksara sendiri yang merupakan peninggalan leluhur dan hingga kini masih digunakan dalam berbagai kehidupan masyarakat.

“Dari seluruh suku yang ada di Indonesia, kita harus berbangga bahwa Bali memiliki aksaranya sendiri,” ujar Putri Koster.

Ia menilai pelestarian aksara Bali tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Regulasi memang menjadi landasan, tetapi keberlangsungan aksara sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat untuk tetap menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari serta mengenalkannya kepada generasi penerus.

Putri Koster mengingatkan, sebuah warisan budaya dapat kehilangan eksistensinya apabila mulai ditinggalkan oleh masyarakat pemiliknya. Karena itu, penggunaan bahasa dan aksara Bali harus terus dipupuk melalui kesadaran bersama.

“Ketika kita sudah beralih, tidak mau memakai lagi, itu sudah tanda-tanda kita akan kehilangan warisan leluhur kita. Maka, ayo tumbuhkan kesadaran bahwa kita harus melestarikan sastra dan aksara Bali yang telah diwariskan para leluhur kepada anak cucu kita,” tegasnya.

Dalam upaya tersebut, Pemprov Bali telah memiliki landasan regulasi melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Namun, Putri Koster menekankan aturan tersebut perlu diterjemahkan dalam praktik nyata di tengah masyarakat.

Ia juga mengajak masyarakat tidak menjadikan faktor usia sebagai alasan untuk berhenti belajar. Bahasa, aksara, dan sastra Bali merupakan kekayaan budaya yang memiliki nilai luhur sehingga harus terus dipahami, digunakan, sekaligus diwariskan lintas generasi.

Putri Koster berharap Seminar “Nyastra” tidak berhenti sebagai forum bertukar gagasan. Menurutnya, kegiatan semacam ini harus mampu melahirkan langkah dan karya konkret, baik dalam bentuk buku maupun berbagai karya lain yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat dan generasi muda.

Ibu Putri Koster Aksara Bali Harus Terus Dipelajari, Digunakan dan Diwariskan

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Aksara Kawi dan Bali “Nyastra”, Wayan Sila Sayana, melihat perkembangan teknologi digital justru dapat menjadi peluang untuk memperluas penggunaan aksara Kawi dan Bali. Hingga kini, telah dikembangkan 46 jenis font aksara Bali oleh perancang huruf dari Indonesia maupun luar negeri.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi aksara tradisional. Sebaliknya, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan, mengembangkan, sekaligus memperluas penggunaan aksara Bali.

Seminar “Nyastra” menghadirkan Peneliti Ahli Madya BRIN Drs. I Gusti Made Suarbhawa dengan materi “Prasasti Sembiran: Menguak Keberaksaraan Kuno di Pesisir Bali Utara” dan I Made Suatjana, kreator Bali Simbar, yang membawakan materi “Perkembangan dan Tantangan Font Aksara Bali Simbar”.

Melalui seminar tersebut, pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali diharapkan semakin berkembang sebagai gerakan bersama. Pemerintah, masyarakat, serta generasi muda didorong mengambil peran agar aksara Bali tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah kemajuan teknologi. (hms/ap)
Read More

Kamis, 10 September 2026

𝗛𝗨𝗧 𝗸𝗲-𝟯 𝗙𝗼𝗿𝗴𝗮𝘀 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗔𝗱𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗷𝘂𝗮𝗻

September 10, 2026 0

𝗛𝗨𝗧 𝗸𝗲-𝟯 𝗙𝗼𝗿𝗴𝗮𝘀 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗔𝗱𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗷𝘂𝗮𝗻


DENPASAR, Lensabali.id – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (Forgas) Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Rabu (9/9/2026).

Peringatan tahun ini mengangkat tema “Strategi Ngemargiang Sad Kerthi Loka Bali, Ngajegang Tradisi, Adat lan Budaya Nusantara”. Tema tersebut dinilai memiliki semangat yang sejalan dengan arah pembangunan Bali, khususnya dalam menjaga kesucian, keharmonisan, adat, tradisi, dan kebudayaan.

Wagub Giri Prasta mengapresiasi keberadaan Forgas sebagai wadah pemersatu sekaligus bagian dari gerakan pelestarian adat, tradisi, agama, seni, dan budaya Nusantara. Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, Forgas diharapkan konsisten menjaga nilai luhur dan kearifan lokal agar tetap dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia juga menitipkan pentingnya menjaga kerukunan, baik antarumat beragama maupun di dalam internal umat beragama. Bagi masyarakat Bali, kerukunan tersebut perlu berjalan beriringan dengan komitmen menjalankan adat dan dresta Bali sebagai bagian dari identitas kehidupan masyarakat.

Dalam menjaga jati diri, Giri Prasta mengingatkan pesan yang dikaitkan dengan Bung Karno bahwa masyarakat Indonesia dalam menjalankan keyakinannya tidak boleh kehilangan identitas sebagai bangsa Nusantara. Pesan tersebut dinilai semakin relevan ketika perkembangan global membawa perubahan yang begitu cepat.

Menurutnya, Bali dibangun dan diwariskan para leluhur melalui kekuatan adat, tradisi, budaya, agama, dan seni yang membentuk taksu Bali. Karena itu, seluruh unsur tersebut harus dijaga bersama agar kemajuan Bali tidak membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya.

Semangat itu, kata Giri Prasta, sejalan dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru”. Ia menilai pengangkatan Sad Kerthi dalam tema HUT Forgas menunjukkan kesamaan semangat antara gerakan masyarakat adat dengan Pemerintah Provinsi Bali.

Nilai Sad Kerthi, lanjutnya, perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Atma Kerthi dapat diterapkan dengan memelihara kehidupan spiritual, ritual, dan upacara adat. Jana Kerthi dilakukan melalui keterlibatan lintas generasi dalam menjaga adat, tradisi, dan budaya. Sementara Jagat Kerthi diarahkan untuk membangun keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Nusantara.

Giri Prasta menegaskan bahwa pelestarian adat bukan berarti menutup diri dari kemajuan. Begitu pula menjaga tradisi tidak berarti menolak perkembangan zaman. “Bali boleh maju, tetapi kemajuannya jangan sampai menggerus akar budaya, adat, dan tradisi,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi melalui pengembangan desa digital. Digitalisasi dinilai dapat membantu transparansi berbagai kegiatan di banjar dan desa, termasuk pengelolaan dana kegiatan keagamaan sehingga masyarakat dapat mengetahui dan memantau penggunaan serta peruntukannya.

𝗛𝗨𝗧 𝗸𝗲-𝟯 𝗙𝗼𝗿𝗴𝗮𝘀 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗔𝗱𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗷𝘂𝗮𝗻

Giri Prasta mengajak seluruh jajaran Forgas di kabupaten/kota terus bergandengan tangan dengan Pemprov Bali dalam menjaga warisan leluhur. Kolaborasi yang telah terjalin selama tiga tahun diharapkan menjadi fondasi untuk memperluas kerja sama yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Ketua DPD Forgas Bali Kadek Arya Bagiastra menyampaikan komitmen organisasinya untuk berjalan beriringan dengan program dan visi Pemprov Bali, terutama dalam melestarikan serta melindungi adat dan budaya Bali dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai dan kultur masyarakat.

Memasuki usia tiga tahun, Forgas bertekad semakin solid dan dewasa serta berkontribusi dalam menjaga kedamaian, toleransi, dan keberagaman. Sinergi dengan desa adat akan diperkuat, termasuk melalui kaderisasi generasi muda agar tetap mengenal, menggunakan, dan melestarikan bahasa serta aksara Bali.

Forgas juga diarahkan menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai elemen kebudayaan Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Gerakan adat diharapkan tetap mampu menjaga akar budaya tanpa menjadi eksklusif, melainkan terbuka terhadap keberagaman dan perkembangan zaman.

Forgas hadir bukan untuk menolak kemajuan, tetapi memastikan kemajuan tidak menghapus identitas. Semangat tersebut sekaligus meneguhkan komitmen terhadap Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai perekat kehidupan berbangsa dan bernegara. (hms/ap)
Read More

Rabu, 09 September 2026

𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗦𝗶𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗗𝘂𝘁𝗮 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗮𝗶𝗸 𝗟𝗲𝘄𝗮𝘁 𝗨𝗗𝗚 𝗫𝗫𝗫𝗜𝗜𝗜, 𝗣𝗲𝗿𝘀𝗮𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗷𝘂 𝗡𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗗𝗶𝗺𝘂𝗹𝗮𝗶

September 09, 2026 0

Bali Siapkan Duta Terbaik Lewat UDG XXXIII, Persaingan Menuju Nasional Dimulai

DENPASAR, Lensabali.id – Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 segera digelar. Mengangkat tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, ajang seni dan sastra keagamaan Hindu ini berlangsung 11–16 September 2026 di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali.

Pembukaan UDG XXXIII dijadwalkan dilakukan Gubernur Bali Wayan Koster pada Jumat, 11 September 2026. Selain menjadi ruang kompetisi, kegiatan ini sekaligus menjadi tahap seleksi untuk memilih duta terbaik Bali yang akan tampil pada UDG tingkat nasional 2027 di Sulawesi Tengah.

Anggota Tim Kurator UDG XXXIII, Prof. Dr. I Made Surada, M.A., menyebutkan terdapat 11 bidang lomba dengan 37 kategori. Bidang tersebut mencakup membaca sloka, palawakya, kakawin, kidung, nyanyian keagamaan Hindu, gaguritan, dharmawacana bahasa Bali dan Inggris, menghafal sloka, dharmawiwada, serta dharmacarita.

“UDG tahun 2026 ini untuk mencari juara I yang nantinya akan mewakili Provinsi Bali di tingkat nasional yang akan digelar tahun 2027. Sebanyak 11 bidang lomba ini disesuaikan dengan UDG di tingkat nasional yang akan diadakan di Sulawesi Tengah,” kata Prof. Surada di sela Rapat Pleno di Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Selasa (8/9/2026).

Guru Besar UHN I Gusti Bagus Sugriwa tersebut mengatakan persiapan peserta dari sembilan kabupaten/kota telah dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Pembinaan oleh Widyasaba telah berlangsung sejak Juli untuk mematangkan kemampuan peserta di seluruh bidang yang diperlombakan.

Kesiapan itu juga terlihat dalam technical meeting yang melibatkan Dinas Kebudayaan kabupaten/kota, Widyasaba, para pembina, dan koordinator juri. Masing-masing daerah telah menyiapkan peserta yang akan tampil sebagai perwakilan daerah.

“Widyasaba telah melakukan pembinaan sejak Juli lalu untuk 11 bidang lomba di sembilan kabupaten/kota,” tegasnya.

Bali Siapkan Duta Terbaik Lewat UDG XXXIII, Persaingan Menuju Nasional Dimulai


Bahasa Inggris Jadi Salah Satu Perhatian

Salah satu perhatian dalam UDG tahun ini adalah dharmawacana bahasa Inggris. Prof. Surada menilai kategori tersebut relevan dengan posisi Bali sebagai destinasi pariwisata internasional.

Menurutnya, penyampaian nilai adat, budaya, dan agama Hindu tidak cukup hanya melalui bahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa Inggris dibutuhkan agar pesan-pesan tersebut dapat menjangkau masyarakat internasional.

“Dharmawacana bahasa Inggris juga untuk mendapatkan juara yang akan mewakili Bali. Di tingkat nasional juga ada dharmawacana bahasa Inggris dan bahasa Indonesia,” paparnya.

Untuk dharmawacana bahasa Indonesia, Bali tidak menggelarnya pada tingkat provinsi. Sebaliknya, dharmawacana bahasa Bali tetap dipertahankan sebagai bagian dari upaya memperkuat sekaligus melestarikan bahasa Bali.

Peserta yang meraih juara akan memperoleh pembinaan lanjutan sebelum berlaga di tingkat nasional. Materi dharmawacana bahasa Bali nantinya disesuaikan agar dapat disampaikan dalam bahasa Indonesia di tingkat nasional.

“Bagi peserta yang menang nantinya, materi dharmawacana bahasa Bali tersebut harus diubah ke dalam bahasa Indonesia ketika mengikuti tingkat nasional. Oleh karena itu, akan ada pembinaan ulang,” jelasnya.

Peserta dan Pendanaan Masih Jadi Tantangan

Di sisi lain, Prof. Surada menyoroti belum meratanya keikutsertaan peserta dari sembilan kabupaten/kota. Sejumlah daerah belum mampu mengirimkan wakil pada seluruh bidang lomba, salah satunya akibat keterbatasan anggaran.

Kabupaten Badung tercatat menjadi satu-satunya daerah yang mengirim peserta secara lengkap di 11 bidang. Sementara Bangli dan Buleleng menjadi daerah dengan jumlah bidang yang diikuti paling sedikit.

“Kabupaten yang mengirimkan peserta secara lengkap untuk seluruh 11 bidang hanya Kabupaten Badung. Namun, daerah yang paling minim mengirimkan peserta adalah Kabupaten Bangli dan Buleleng yang hanya mengirim tiga atau empat bidang saja,” imbuhnya.

Ia berharap persoalan tersebut menjadi perhatian pemerintah sehingga pelaksanaan UDG ke depan dapat berlangsung lebih merata di seluruh kabupaten/kota, seperti halnya Bulan Bahasa Bali.

“Kami rasa selama ini belum serempak sehingga jumlah peserta yang dikirimkan setiap daerah bervariasi. Daerah yang memiliki kemampuan pendanaan lebih besar, seperti Badung, mengirimkan peserta secara lengkap. Bahkan, sebelumnya mengadakan utsawa di tingkat kecamatan,” ujarnya.

Menurutnya, UDG memiliki peran penting dalam pembinaan generasi Hindu. Para peserta terbaik tidak hanya membawa nama daerah, tetapi nantinya juga menjadi representasi Bali di tingkat nasional.

“Padahal, jika dibandingkan dengan Bulan Bahasa Bali, UDG juga penting karena nantinya para peserta akan bertanding di tingkat nasional. Dalam ajang tersebut, mereka akan membawa nama Bali yang selama ini berturut-turut menjadi juara umum UDG tingkat nasional,” katanya.


Bali Dituntut Pertahankan Tradisi Juara

Persaingan UDG nasional diperkirakan semakin ketat. Sejumlah daerah seperti Lampung, Sulawesi Tengah, dan Jayapura mulai menggelar seleksi serta pembinaan secara mandiri untuk menyiapkan wakil terbaiknya.

“Lampung bahkan juga melaksanakan UDG di daerahnya untuk menjaring juara yang akan dikirim ke tingkat nasional. Bukan comot-comot seperti sebelumnya. Demikian pula Sulawesi Tengah dan Jayapura yang juga melaksanakan UDG. Mereka didanai daerahnya masing-masing,” ungkapnya.

UDG tingkat nasional 2027 diproyeksikan diikuti 38 provinsi. Persaingan yang semakin terbuka membuat Bali perlu mempersiapkan para dutanya secara lebih serius dan berkelanjutan.

Bali selama ini memiliki tradisi prestasi kuat dan menjadi salah satu barometer UDG nasional. Karena itu, UDG XXXIII bukan sekadar ajang mencari juara, melainkan juga momentum mempertahankan posisi Bali sebagai juara umum di tingkat nasional.

Setelah menjalani pembinaan sejak Juli, para peserta kini memasuki tahap akhir persiapan. Enam hari pelaksanaan di Art Center akan menjadi panggung untuk menentukan wakil terbaik Bali menuju UDG tingkat nasional 2027 di Sulawesi Tengah. (hms/ap)
Read More

Selasa, 25 Agustus 2026

𝗦𝘂𝗻𝘀𝗲𝘁 𝗶𝗻 𝗣𝗮𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗨𝗹𝗮𝗺 𝗖𝗮𝗿𝗶𝗸 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗜𝗸𝗼𝗻 𝗙𝗲𝘀𝘁𝗶𝘃𝗮𝗹 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗟𝗼𝘁 𝟮𝟬𝟮𝟲

Agustus 25, 2026 0
Sunset in Paradise dan Ulam Carik Jadi Ikon Festival Tanah Lot 2026

TABANAN, Lensabali.id – Festival Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 kembali digelar di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali. Festival yang berlangsung pada 28-30 Agustus 2026 ini mengangkat dua ikon utama, yakni Sunset in Paradise dan Ulam Carik.

Manajer DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, mengatakan Sunset in Paradise akan dikemas melalui Parade Gebogan dan Baleganjur yang digelar saat matahari mulai terbenam. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan budaya sekaligus menyaksikan panorama sunset Tanah Lot.

"Nanti pengunjung bisa menyaksikan parade budaya ini sekaligus menikmati sunset di Tanah Lot," ujar Sudiana, Senin (24/8/2026).

Menurut Sudiana, Parade Gebogan dan Baleganjur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari festival karena telah menjadi ikon Tanah Lot sejak awal penyelenggaraan. Pada periode festival, jumlah kunjungan ditargetkan meningkat hingga sekitar 9.000-10.000 orang per hari.

Di luar penyelenggaraan festival, kunjungan harian ke Tanah Lot berkisar 3.000-4.500 orang. Manajemen juga menargetkan perputaran ekonomi selama tiga hari festival mencapai Rp 10 miliar, seiring tingginya kunjungan wisatawan pada musim ramai Agustus.

Bendesa Adat Beraban I Ketut Sujana mengatakan parade tahun ini melibatkan 15 banjar adat di Desa Adat Beraban. Setiap hari, lima banjar akan tampil membawa Gebogan dan Baleganjur dengan nuansa tridatu, yakni merah, putih, dan hitam.

"Ada 15 banjar adat yang dilibatkan. Tahun ini untuk parade gebogan dan baleganjur khusus dilakukan oleh Desa Adat Beraban. Setiap hari, ada lima banjar yang tampil," ujar Sujana.

Selain pertunjukan budaya, festival menghadirkan Ulam Carik yang mengangkat kuliner warisan leluhur khas Tabanan. Hidangan yang disajikan menggunakan bahan-bahan dari kawasan persawahan, seperti lindung metunu atau belut panggang dengan sambal bejek, jukut gondo, kakul dengan bumbu suna cekuh, serta pesan testes berbahan ikan air tawar.

Pengunjung juga dapat mencicipi berbagai minuman dan kudapan tradisional, di antaranya rujak bir, jaje uli tape, rujak tibah atau mengkudu, serta loloh cemcem. Bahan kuliner tersebut diperoleh dari produsen lokal di Kabupaten Tabanan dan dapat dinikmati secara gratis pada waktu tertentu selama festival.

Sekda Tabanan I Gede Susila yang mewakili Bupati Tabanan menegaskan festival harus terus digelar sebagai bagian dari upaya mempromosikan destinasi wisata Tabanan, khususnya Tanah Lot. Meski telah dikenal hingga mancanegara, promosi dinilai tetap penting untuk menjaga daya tarik destinasi.

"Festival ini tidak boleh berhenti, tidak harus digelar secara besar, namun tidak sederhana juga. Dalam tiap momen kita selalu perkenalkan apa saja yang ada, dan hal baru yang ditampilkan agar tidak terkesan template setiap tahun," ujar Susila.

Pemkab Tabanan, lanjutnya, terus mendorong Tanah Lot agar tetap menjadi destinasi unggulan dan mampu menjaga tingginya kunjungan wisatawan. Festival juga diharapkan memperkuat posisi Tabanan sebagai ruang berkumpul bagi masyarakat dan berbagai komunitas di Bali. (ap)
Read More

Rabu, 19 Agustus 2026

𝗟𝗲𝘀𝘁𝗮𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶, 𝗣𝗲𝗿𝗹𝘂𝗮𝘀 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿: 𝗜𝗡𝗦𝗧𝗜𝗞𝗜 𝗗𝗶𝗴𝗶𝘁𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗷𝗶𝗻 𝗞𝗮𝗶𝗻 𝗣𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗕𝗮𝗹𝗶

Agustus 19, 2026 0
Lestarikan Tradisi, Perluas Pasar: INSTIKI Digitalisasi Perajin Kain Prada Bali

DENPASAR, Lensabali.id – Upaya menjaga keberlanjutan kain prada Bali kini tidak hanya bertumpu pada keterampilan tradisional. Para perajin juga didorong memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat pengelolaan usaha sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Langkah tersebut dilakukan Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang mendapat pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Program bertajuk “Pemberdayaan Perajin Kain Prada Bali melalui Transformasi Digital Manajemen Produksi dan Pemasaran untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi Budaya” itu menggandeng Agung Prada Bali, UMKM perajin kain prada yang berada di Denpasar.

Tim pengabdian yang terdiri atas Theresia Hendrawati, Christina Purnama Yanti, dan Ni Kade Ayu Nirwana mendampingi perajin yang telah memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun. Meski menguasai teknik tradisional, mitra masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan produksi, keuangan, branding, serta pemasaran digital.

Digitalisasi untuk Perkuat Manajemen

Ketua tim pengabdian, Theresia Hendrawati, mengatakan teknologi dalam program tersebut ditempatkan sebagai pendukung, bukan pengganti proses tradisional yang menjadi karakter utama kain prada Bali.

"Teknologi kami tempatkan sebagai alat bantu bagi perajin. Nilai utama kain prada tetap berada pada keterampilan dan budaya yang diwariskan, sedangkan teknologi membantu dari sisi pencatatan, pengelolaan produksi, branding, dan pemasaran," ujar Theresia dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).

Pada pengelolaan produksi dan keuangan, tim menerapkan sistem sederhana menggunakan Microsoft Excel. Sistem tersebut membantu mitra mencatat transaksi, bahan baku, persediaan, hasil produksi hingga menghitung Harga Pokok Produksi (HPP).

Pemilihan sistem sederhana dilakukan agar mudah dipelajari dan dapat digunakan secara mandiri tanpa membebani mitra dengan biaya berlangganan. Tim juga menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Produksi Kain Prada Bali sebagai panduan dari persiapan bahan dan motif hingga proses finishing serta pemeriksaan produk.

Perkuat Branding dan Pemasaran Digital

Pendampingan juga menyasar aspek pemasaran. INSTIKI membantu Agung Prada Bali membangun logo dan identitas visual yang konsisten, sekaligus menghasilkan foto serta video produk untuk kebutuhan media sosial dan katalog digital.

Anggota tim pengabdian Christina Purnama Yanti mengatakan kualitas visual menjadi faktor penting untuk memperkenalkan kain prada kepada pasar yang lebih luas.

"Kain prada memiliki kekuatan visual yang sangat khas. Karena itu, kami membantu mitra mendokumentasikan produk dengan lebih baik agar motif, detail prada, dan karakter produknya dapat terlihat secara optimal ketika dipasarkan melalui media digital," jelas Christina.

Tim selanjutnya mendampingi pengelolaan Instagram Agung Prada Bali, termasuk cara mengatur profil, mengunggah konten, menyampaikan informasi produk, serta memanfaatkan media sosial sebagai saluran pemasaran.

E-Catalog Jadi Etalase Produk

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah e-catalog berbasis website. Platform tersebut berfungsi sebagai etalase digital yang memuat foto, nama produk, motif, ukuran, hingga harga kain prada.

Dengan katalog tersebut, calon konsumen dapat memperoleh informasi produk tanpa harus datang langsung ke tempat usaha.

"Mitra juga mendapatkan pelatihan penggunaan e-catalog agar tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi mampu memanfaatkan dan mengelola media digital tersebut dalam kegiatan usaha," ungkapnya.

Program tidak berhenti pada pembuatan perangkat digital. Pelatihan dan pendampingan diberikan agar perajin dapat mengoperasikan serta mengembangkan teknologi secara mandiri.

Sejumlah luaran telah dihasilkan, mulai dari sistem manajemen produksi, keuangan dan HPP berbasis Excel, SOP produksi, logo dan identitas visual, foto serta video produk, Instagram mitra, e-catalog website, hingga integrasi WhatsApp dan Instagram.

Tradisi Tetap Menjadi Fondasi

INSTIKI menilai digitalisasi tidak dimaksudkan untuk menggantikan proses tradisional, melainkan memperkuat keberlanjutan usaha berbasis budaya. Keterampilan membuat kain prada tetap menjadi fondasi, sementara teknologi membuka peluang untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.

Melalui program tersebut, Agung Prada Bali diharapkan memiliki tata kelola usaha yang lebih terstruktur dan saluran pemasaran yang semakin luas. Di saat yang sama, identitas budaya serta keterampilan tradisional yang melekat pada kain prada Bali tetap terjaga. (ap)
Read More

Senin, 03 Agustus 2026

𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗟𝗼𝘁 𝗔𝗿𝘁 𝗮𝗻𝗱 𝗙𝗼𝗼𝗱 𝗙𝗲𝘀𝘁𝗶𝘃𝗮𝗹 𝗩𝗜𝗜 𝗛𝗮𝗱𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗶𝗯𝘂𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗿𝗼𝗺𝗼𝘀𝗶 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸 𝗨𝗠𝗞𝗠

Agustus 03, 2026 0
Tanah Lot Art and Food Festival VII Hadirkan Hiburan dan Promosi Produk UMKM

TABANAN, Lensabali.id - Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot kembali bersiap menggelar Tanah Lot Art and Food Festival VII pada akhir Agustus 2026. Festival tahunan ini diharapkan menjadi ajang yang mampu memperkuat posisi Tanah Lot sebagai salah satu destinasi wisata unggulan kelas dunia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat lokal.

Selama pelaksanaan festival, pengunjung akan disuguhkan beragam pertunjukan seni dan budaya, mulai dari penampilan musisi lokal Bali, tari tradisional, parade budaya, hingga berbagai hiburan yang menampilkan kekayaan tradisi Pulau Dewata.

Manajer Operasional DTW Tanah Lot, I Waya Sudiana, mengatakan festival tersebut tidak hanya menjadi ruang ekspresi bagi para seniman, tetapi juga memberikan peluang promosi bagi pelaku usaha kuliner dan ekonomi kreatif di sekitar kawasan wisata.

"Selain menjadi ruang apresiasi bagi para seniman, festival ini juga menjadi wadah promosi produk kuliner dan ekonomi kreatif lokal, sehingga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar kawasan Tanah Lot," ujar Sudiana, Minggu (2/8/2026).

Menurutnya, penyelenggaraan festival yang telah memasuki tahun ketujuh ini tidak hanya menonjolkan panorama alam dan nilai spiritual Tanah Lot yang telah dikenal luas. Festival juga dirancang untuk memperkuat upaya pelestarian budaya Bali melalui kolaborasi antara seniman, pelaku UMKM, komunitas, dan masyarakat Kabupaten Tabanan.

"Melalui penyelenggaraannya yang ketujuh, kami ingin kembali menghadirkan pertunjukan yang berkualitas, memperluas ruang bagi pelaku seni dan UMKM lokal, serta memberikan pengalaman yang berkesan bagi setiap pengunjung," jelasnya.

Panitia optimistis festival tahun ini mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Keberhasilan pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya menjadi modal penting untuk menghadirkan konsep yang lebih menarik tanpa meninggalkan identitas budaya lokal yang menjadi ciri khas acara.

Selain menjadi agenda hiburan, festival ini juga diharapkan memperkuat sinergi antara sektor pariwisata, seni budaya, dan ekonomi kreatif sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat sekitar.

Sudiana menegaskan semangat kebersamaan menjadi fondasi utama penyelenggaraan festival. "Dengan semangat kebersamaan, seluruh pihak optimistis festival tahunan ini akan kembali meraih kesuksesan seperti penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya serta memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Tabanan," pungkasnya. (ap)
Read More

Minggu, 02 Agustus 2026

𝗥𝗮𝗿𝗲 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗖𝘂𝗹𝘁𝘂𝗿𝗲 𝗙𝗲𝘀𝘁 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗮𝗿𝗮𝗸𝘁𝗲𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗖𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗕𝗮𝗹𝗶

Agustus 02, 2026 0
Rare Bali Culture Fest Jadi Ajang Pembentukan Karakter dan Cinta Budaya Bali

DENPASAR, Lensabali.id - Rare Bali Culture Festival 2026 menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan seni budaya Bali sejak usia dini. Festival bertema "Yuga Dharma Lestari: Pengabdian Luhur untuk Melestarikan Budaya Sepanjang Masa" itu digelar pada 25–26 Juli 2026 di HEPI Garden, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.

Festival perdana tersebut diikuti 132 peserta tingkat Sekolah Dasar (SD) dari berbagai kabupaten di Bali. Beragam lomba diselenggarakan sebagai sarana pengembangan bakat dan kreativitas, mulai dari megender berpasangan, tari condong, ogoh-ogoh mini, tapel, mesatua Bali, hingga peragaan busana adat Bali.

Ketua Panitia Kadek Reno Subudiawan mengatakan kegiatan ini lahir dari kepedulian terhadap semakin terbatasnya ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan budaya daerah di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat. Festival ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional yang dikemas melalui pendekatan seni dan budaya.

"Melalui festival ini kami ingin menghadirkan wadah yang edukatif sekaligus menyenangkan agar anak-anak semakin mencintai budaya Bali, mengembangkan kreativitas, serta membangun karakter sejak usia dini," ujar Reno.

Menurutnya, peserta usia 7 hingga 12 tahun dipilih karena fase tersebut merupakan masa penting dalam pembentukan karakter sekaligus penanaman kecintaan terhadap warisan budaya. Karena itu, festival dirancang tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

Selain mengasah kemampuan berkesenian, para peserta juga didorong untuk memahami nilai-nilai disiplin, sportivitas, tanggung jawab, dan rasa percaya diri. Penilaian lomba dilakukan oleh akademisi, praktisi seni, dan seniman yang berkompeten sesuai bidang masing-masing.

Antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta, dukungan orang tua, sekolah, hingga komunitas seni yang turut berpartisipasi. Peserta datang dari berbagai daerah di Bali, termasuk dari Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, yang menjadi daerah terjauh dalam ajang tersebut.

Reno berharap Rare Bali Culture Fest dapat menjadi langkah awal dalam mencetak generasi penerus seni budaya Bali. Menurutnya, pelestarian budaya harus dimulai dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk tampil, belajar, dan berkarya sejak dini.

"Kalau sejak kecil mereka sudah diberi kesempatan tampil dan berkarya, maka akan lahir generasi yang siap menjaga keberlanjutan seni budaya Bali," katanya.

Festival ini dibuka oleh perwakilan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar dan dihadiri unsur pemerintah, tokoh adat, perangkat desa, serta para sponsor. Ke depan, panitia berharap Rare Bali Culture Fest dapat menjadi agenda tahunan yang menjangkau lebih banyak peserta serta terus berkembang sebagai ruang pembinaan generasi muda pecinta budaya Bali. (ap)
Read More

Rabu, 15 Juli 2026

𝗣𝘂𝘁𝗿𝗶 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿: 𝗙𝗲𝘀𝘁𝗶𝘃𝗮𝗹 𝗦𝗲𝗻𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗝𝗮𝗻𝗶 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗪𝗮𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗹𝗲𝗻𝘁𝗮 𝗠𝘂𝗱𝗮 𝗕𝗮𝗹𝗶

Juli 15, 2026 0
Putri Koster Festival Seni Bali Jani Jadi Wadah Pengembangan Talenta Muda Bali

DENPASAR, Lensabali.id – Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, menegaskan bahwa Festival Seni Bali Jani (FSBJ) memiliki peran penting dalam membangun ruang kreativitas bagi generasi muda Bali agar terus berkembang di tengah derasnya arus digitalisasi dan penggunaan teknologi.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri pagelaran musik “Sang Surya Sampun Metangi: Menyongsong Indahnya Permata Khatulistiwa” yang dibawakan Sanggar Eka Mahardika Putra dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 di Taman Budaya Art Center Denpasar, Selasa (14/7).

Pertunjukan yang dibawakan para seniman muda itu menghadirkan perpaduan harmonis antara musik pop modern dan unsur etnik Bali. Selain menawarkan pengalaman musikal yang menarik, pertunjukan tersebut juga menyampaikan pesan edukatif tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui kebiasaan memilah sampah berdasarkan sumber dan jenisnya.

Menyaksikan penampilan para generasi muda tersebut, Putri Koster mengaku bangga melihat potensi seni yang terus tumbuh dan berkembang di kalangan anak muda Bali.

"Saya sangat senang melihat bakat talenta-talenta muda yang semakin terasah," ujarnya.

Menurutnya, generasi muda tidak hanya perlu menguasai kemampuan akademik, tetapi juga harus didorong untuk mengembangkan berbagai keterampilan nonteknis seperti kreativitas, kemampuan bekerja sama, serta keberanian mengekspresikan diri melalui seni dan budaya.

Karena itu, Festival Seni Bali Jani dinilai memiliki posisi strategis sebagai ruang pembinaan yang mampu menumbuhkan ekosistem seni yang sehat sekaligus membuka peluang bagi talenta muda untuk terus berkarya dan berinovasi.

Putri Koster Festival Seni Bali Jani Jadi Wadah Pengembangan Talenta Muda Bali

"Itulah salah satu tujuan Festival Seni Bali Jani, yakni mewadahi dan mengembangkan talenta-talenta muda agar tetap aktif dan berkreativitas di tengah gempuran gawai," katanya.

Ia berharap semangat pembinaan yang telah dibangun melalui Festival Seni Bali Jani dapat terus diperluas hingga tingkat kabupaten dan kota sehingga semakin banyak ruang kreatif yang tersedia bagi generasi muda Bali.

Putri Koster juga menilai perpaduan musik modern dengan instrumen tradisional Bali yang ditampilkan para peserta menjadi bukti bahwa perkembangan seni kontemporer dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian budaya.

"Ini merupakan perpaduan musik pop modern dengan nuansa Bali yang menghasilkan sajian musik yang unik. Unsur etnik, akar budaya, instrumen, dan gamelan Bali berpadu harmonis sehingga menghadirkan pengalaman musikal yang khas," ungkapnya.

Menurutnya, Festival Seni Bali Jani harus terus menjadi ruang apresiasi, edukasi, dan regenerasi bagi lahirnya seniman-seniman muda yang kreatif, inovatif, dan tetap berpijak pada identitas budaya Bali. (hms/ap)
Read More

Senin, 13 Juli 2026

𝗚𝘂𝗯𝗲𝗿𝗻𝘂𝗿 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗔𝗻𝘂𝗴𝗲𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗱𝗶 𝗦𝗲𝘄𝗮𝗸𝗮 𝗡𝘂𝗴𝗿𝗮𝗵𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝟭𝟮 𝗦𝗲𝗻𝗶𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗹𝗶

Juli 13, 2026 0
Gubernur Koster Anugerahkan Adi Sewaka Nugraha kepada 12 Seniman dan Budayawan Bali

DENPASAR, Lensabali.id – Gubernur Bali Wayan Koster menganugerahkan Penghargaan Adi Sewaka Nugraha kepada 12 seniman, budayawan, dan pengabdi seni yang dinilai berjasa dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi, seni klasik, dan seni rakyat Bali. Penghargaan tersebut diserahkan pada malam penutupan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (11/7).

Dua belas penerima penghargaan berasal dari berbagai bidang seni, mulai dari tari, karawitan, pedalangan, sastra daerah, seni rupa, drama gong hingga arsitektur tradisional Bali. Mereka dinilai telah memberikan kontribusi nyata dalam melestarikan sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Bali di tengah dinamika zaman.

Pada kesempatan itu, Gubernur Koster menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk penghormatan Pemerintah Provinsi Bali kepada para pelaku seni yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga eksistensi kebudayaan Bali.

Selain piagam penghargaan, masing-masing penerima juga memperoleh bantuan dana sebesar Rp50 juta sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian mereka terhadap seni budaya Bali.

“Gubernur tidak bisa membuat karya seni, tetapi hanya bisa membuat kebijakan. Akan tetapi kebijakan tanpa ada pelaku, tidak akan ada artinya. Jadi kita harus berterima kasih kepada pelaku seni budaya Bali, mereka sebagai pelestari yang memajukan seni budaya Bali harus kita apresiasi,” ujar Koster.

Menurutnya, keberlangsungan seni budaya Bali tidak dapat dilepaskan dari peran para seniman yang secara konsisten berkarya, mengajar, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya. Karena itu, penghargaan kepada para pengabdi seni merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan panjang yang mereka lakukan.

Gubernur Koster Anugerahkan Adi Sewaka Nugraha kepada 12 Seniman dan Budayawan Bali

Gubernur Bali dua periode itu juga mengungkapkan rasa syukur atas sinergi berbagai elemen yang membuat pelaksanaan PKB terus hidup dan berkembang. Ia menyebut terdapat empat unsur penting yang saling mendukung, yakni pencipta karya seni, pelaku seni, pemerintah sebagai pemberi dukungan kebijakan, serta masyarakat sebagai penikmat karya seni.

Menurutnya, ekosistem budaya yang sehat hanya dapat tumbuh apabila seluruh unsur tersebut berjalan beriringan dan saling menguatkan. Oleh sebab itu, pemerintah akan terus memberikan ruang dan dukungan bagi para seniman agar dapat terus berkarya.

Menutup sambutannya, Koster mengajak seluruh pemimpin di Bali untuk memiliki komitmen yang sama dalam mencintai dan melindungi seni budaya daerah. Ia menegaskan bahwa tugas seorang pemimpin bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memastikan kebudayaan tetap tumbuh sebagai identitas utama Bali.

Penghargaan Adi Sewaka Nugraha sendiri merupakan anugerah tertinggi yang diberikan Pemerintah Provinsi Bali kepada seniman, budayawan, dan pengabdi seni atas dedikasi mereka dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan seni budaya Bali secara berkelanjutan. (*/ap)
Read More

Minggu, 12 Juli 2026

𝗣𝗞𝗕 𝗫𝗟𝗩𝗜𝗜𝗜 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁 𝗥𝗲𝗸𝗼𝗿 𝗕𝗮𝗿𝘂, 𝗗𝗶𝗸𝘂𝗻𝗷𝘂𝗻𝗴𝗶 𝟭,𝟴 𝗝𝘂𝘁𝗮 𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝗛𝗮𝘀𝗶𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗢𝗺𝘇𝗲𝘁 𝗟𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗥𝗽𝟭𝟲 𝗠𝗶𝗹𝗶𝗮𝗿

Juli 12, 2026 0

PKB XLVIII Catat Rekor Baru, Dikunjungi 1,8 Juta Orang dan Hasilkan Omzet Lebih dari Rp16 Miliar

DENPASAR, Lensabali.id – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 kembali membuktikan posisinya sebagai perhelatan seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama satu bulan penyelenggaraan, ajang tahunan yang resmi ditutup Gubernur Bali Wayan Koster di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center Denpasar, Sabtu (11/7), tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni budaya, tetapi juga memberi dampak nyata bagi perekonomian masyarakat.

Tingginya partisipasi komunitas seni menjadi salah satu indikator keberhasilan PKB tahun ini. Sebanyak 673 sekaa, sanggar, komunitas, dan lembaga seni ambil bagian dengan melibatkan 20.929 seniman serta pelaku seni dari berbagai daerah di Bali.

Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang mencatat keterlibatan 517 lembaga seni. Peningkatan juga terlihat pada jumlah seniman yang terlibat, bertambah lebih dari 900 orang dibandingkan tahun 2025.

Tidak hanya dari sisi partisipasi, produktivitas karya seni yang ditampilkan juga menunjukkan perkembangan signifikan. Sepanjang PKB 2026, sebanyak 879 sajian dan karya seni dipentaskan, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 529 karya seni.

Antusiasme masyarakat terhadap berbagai pertunjukan yang disajikan pun terus meningkat. Hingga 11 Juli 2026, jumlah kunjungan tercatat mencapai 1.822.857 orang, termasuk 5.743 wisatawan mancanegara yang turut menikmati berbagai sajian seni budaya Bali.

“Tahun lalu pengunjung Pesta Kesenian Bali hanya mencapai 1,6 juta lebih, jadi pada tahun 2026 ini pengunjungnya meningkat sekitar 200.000 orang lebih. Begitu juga jumlah wisman yang datang ke Pesta Kesenian Bali semakin banyak pada tahun ini, dibandingkan pada tahun 2025 jumlahnya hanya mencapai 2.400 orang,” ujar Gubernur Koster.

PKB XLVIII Catat Rekor Baru, Dikunjungi 1,8 Juta Orang dan Hasilkan Omzet Lebih dari Rp16 Miliar

Selain kunjungan langsung, PKB juga menjangkau masyarakat luas melalui platform digital. Siaran langsung berbagai pertunjukan melalui kanal YouTube mencatat 2.124.927 tayangan, menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap seni budaya Bali, baik di dalam maupun luar daerah.

Lebih dari sekadar festival budaya, PKB juga menjadi etalase ekonomi kreatif masyarakat Bali. Melalui Pameran IKM Bali Bangkit yang melibatkan 124 pelaku industri kecil dan menengah, transaksi penjualan hingga 10 Juli 2026 mencapai Rp11,27 miliar.

Sementara itu, Pameran Kuliner Tradisional Bali yang diikuti 75 stan mencatat omzet sebesar Rp5,06 miliar. Capaian tersebut menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk kuliner lokal sekaligus memperkuat peran PKB sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

Menurut Gubernur Koster, keberhasilan PKB tidak hanya diukur dari jumlah penonton atau kualitas pertunjukan seni, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan para pelaku usaha lokal. “Jadi selain menyaksikan seni budaya di Pesta Kesenian Bali, kita juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi IKM dan pedagang kuliner tradisional khas Bali,” tegasnya.

Dengan total omzet yang melampaui Rp16 miliar, PKB XLVIII semakin menegaskan dirinya sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat Bali yang berkelanjutan. (hms/ap)
Read More

𝗗𝗣𝗥𝗗 𝗕𝗮𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗗𝘂𝗸𝘂𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗣𝗞𝗕 𝗫𝗟𝗩𝗜𝗜 𝗱𝗮𝗻 𝗙𝗲𝘀𝘁𝗶𝘃𝗮𝗹 𝗦𝗲𝗻𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗝𝗮𝗻𝗶 𝗩𝗜𝗜𝗜

Juli 12, 2026 0
DPRD Badung Dukung Pelestarian Budaya melalui PKB XLVII dan Festival Seni Bali Jani VIII

DENPASAR, Lensabali.id – Ketua DPRD Kabupaten Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri penutupan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Sabtu (11/7/2026).

Pada kesempatan tersebut, Anom Gumanti mendampingi Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama jajaran pemerintah daerah dari berbagai kabupaten/kota di Bali. Acara juga dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh masyarakat, seniman, budayawan, serta berbagai elemen yang selama ini berperan dalam pengembangan seni dan budaya Bali.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pementasan seni budaya yang menampilkan kekayaan ekspresi seni Bali, dilanjutkan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba dan penerima apresiasi seni. Momentum tersebut kemudian ditandai dengan prosesi penutupan PKB XLVII sekaligus pembukaan Festival Seni Bali Jani VIII yang secara resmi dilakukan Gubernur Bali I Wayan Koster.

Kehadiran Ketua DPRD Kabupaten Badung menjadi bentuk dukungan terhadap upaya berkelanjutan dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya Bali sebagai identitas yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

PKB selama ini dikenal sebagai ruang pelestarian seni tradisional Bali, sementara Festival Seni Bali Jani hadir sebagai wadah ekspresi seni modern dan kontemporer yang tetap berlandaskan nilai-nilai budaya lokal.

Kedua agenda budaya tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat ekosistem kesenian Bali sekaligus memberikan ruang kreatif bagi para seniman untuk terus berkarya sesuai perkembangan zaman.

Melalui sinergi antara tradisi dan inovasi, PKB dan Festival Seni Bali Jani diharapkan mampu menjaga keberlanjutan budaya Bali sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat kebudayaan yang berpengaruh di tingkat nasional maupun internasional. (*/ap)
Read More