TABANAN, Lensabali.id – Festival Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 kembali digelar di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, Bali. Festival yang berlangsung pada 28-30 Agustus 2026 ini mengangkat dua ikon utama, yakni Sunset in Paradise dan Ulam Carik.
Manajer DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, mengatakan Sunset in Paradise akan dikemas melalui Parade Gebogan dan Baleganjur yang digelar saat matahari mulai terbenam. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan budaya sekaligus menyaksikan panorama sunset Tanah Lot.
"Nanti pengunjung bisa menyaksikan parade budaya ini sekaligus menikmati sunset di Tanah Lot," ujar Sudiana, Senin (24/8/2026).
Menurut Sudiana, Parade Gebogan dan Baleganjur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari festival karena telah menjadi ikon Tanah Lot sejak awal penyelenggaraan. Pada periode festival, jumlah kunjungan ditargetkan meningkat hingga sekitar 9.000-10.000 orang per hari.
Di luar penyelenggaraan festival, kunjungan harian ke Tanah Lot berkisar 3.000-4.500 orang. Manajemen juga menargetkan perputaran ekonomi selama tiga hari festival mencapai Rp 10 miliar, seiring tingginya kunjungan wisatawan pada musim ramai Agustus.
Bendesa Adat Beraban I Ketut Sujana mengatakan parade tahun ini melibatkan 15 banjar adat di Desa Adat Beraban. Setiap hari, lima banjar akan tampil membawa Gebogan dan Baleganjur dengan nuansa tridatu, yakni merah, putih, dan hitam.
"Ada 15 banjar adat yang dilibatkan. Tahun ini untuk parade gebogan dan baleganjur khusus dilakukan oleh Desa Adat Beraban. Setiap hari, ada lima banjar yang tampil," ujar Sujana.
Selain pertunjukan budaya, festival menghadirkan Ulam Carik yang mengangkat kuliner warisan leluhur khas Tabanan. Hidangan yang disajikan menggunakan bahan-bahan dari kawasan persawahan, seperti lindung metunu atau belut panggang dengan sambal bejek, jukut gondo, kakul dengan bumbu suna cekuh, serta pesan testes berbahan ikan air tawar.
Pengunjung juga dapat mencicipi berbagai minuman dan kudapan tradisional, di antaranya rujak bir, jaje uli tape, rujak tibah atau mengkudu, serta loloh cemcem. Bahan kuliner tersebut diperoleh dari produsen lokal di Kabupaten Tabanan dan dapat dinikmati secara gratis pada waktu tertentu selama festival.
Sekda Tabanan I Gede Susila yang mewakili Bupati Tabanan menegaskan festival harus terus digelar sebagai bagian dari upaya mempromosikan destinasi wisata Tabanan, khususnya Tanah Lot. Meski telah dikenal hingga mancanegara, promosi dinilai tetap penting untuk menjaga daya tarik destinasi.
"Festival ini tidak boleh berhenti, tidak harus digelar secara besar, namun tidak sederhana juga. Dalam tiap momen kita selalu perkenalkan apa saja yang ada, dan hal baru yang ditampilkan agar tidak terkesan template setiap tahun," ujar Susila.
Pemkab Tabanan, lanjutnya, terus mendorong Tanah Lot agar tetap menjadi destinasi unggulan dan mampu menjaga tingginya kunjungan wisatawan. Festival juga diharapkan memperkuat posisi Tabanan sebagai ruang berkumpul bagi masyarakat dan berbagai komunitas di Bali. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar