LENSA BALI

Hot



Minggu, 04 Oktober 2026

𝗔𝗜 𝗠𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗠𝗮𝗿𝗮𝗸, 𝗣𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗗𝗶𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗠𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗗𝗮𝘁𝗮 𝗧𝗲𝗿𝗳𝗿𝗮𝗴𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶

Oktober 04, 2026 0
AI Makin Marak, Perusahaan Indonesia Dihadapkan pada Masalah Data Terfragmentasi

Lensabali.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus berkembang. Namun, ketika perusahaan mulai membawa teknologi tersebut dari tahap uji coba menuju penggunaan operasional, kesiapan fondasi data masih menjadi salah satu persoalan utama.

Data Streaming Report Confluent yang diterbitkan Juli 2026 mencatat, 82 persen pemimpin teknologi informasi (TI) di Indonesia pernah menghadapi sedikitnya tiga tantangan saat meningkatkan skala inisiatif AI.

Silo data menjadi kendala yang paling banyak disoroti. Sebanyak 83 persen pemimpin TI mengaku menghadapi persoalan data yang tersebar dan terkotak-kotak di berbagai sistem.

Kondisi tersebut membuat informasi perusahaan berada di sejumlah aplikasi, basis data, hingga sistem pelaporan yang tidak selalu terhubung. Data pelanggan, keuangan, dan operasional pun dapat tersimpan di platform yang berbeda sehingga AI tidak selalu memperoleh konteks bisnis terbaru dan konsisten.

Selain silo data, 80 persen pemimpin TI menyebut keterbatasan keterampilan dan keahlian AI sebagai tantangan. Sebanyak 79 persen lainnya menghadapi infrastruktur yang belum memadai untuk mendukung pemrosesan data secara real-time.

Persoalan kualitas data juga masih menjadi perhatian. Sebanyak 77 persen organisasi menghadapi masalah terkait asal-usul, ketepatan waktu, dan kualitas data, sementara 76 persen berhadapan dengan sumber data yang tidak konsisten. Enam dari 10 organisasi bahkan menghadapi sedikitnya lima tantangan data secara bersamaan saat meningkatkan penggunaan AI.

Senior Vice President & General Manager APAC Confluent Greg Taylor mengatakan, persoalan kualitas dan konsistensi data sebenarnya bukan hal baru. Namun, dampaknya menjadi lebih besar ketika data digunakan sebagai dasar sistem AI.

"Meski bukan masalah baru, dampaknya kini telah berubah secara signifikan. Dataset yang usang atau sumber data yang tidak konsisten dahulu mungkin hanya berujung pada laporan yang terlambat atau dasbor yang diperdebatkan. Kini, masalah yang sama dapat memengaruhi setiap rekomendasi, prediksi, atau keputusan otomatis yang dibuat sistem AI," ujar Greg dikutip Minggu (4/10/2026).

Menurut Greg, perusahaan tidak cukup hanya memiliki data dalam jumlah besar. Data tersebut harus tersedia ketika dibutuhkan sehingga setiap transaksi, interaksi pelanggan, perubahan inventaris, hingga aktivitas operasional dapat mengalir ke berbagai sistem secara cepat.

Kesiapan aliran data ini menjadi penting karena sejumlah proyek AI dapat bekerja dengan baik saat masih berada pada tahap pilot, tetapi menghadapi kendala ketika diterapkan dalam skala operasional. Model AI mungkin sudah siap, namun fondasi data yang menopangnya belum tentu mampu memenuhi kebutuhan bisnis secara real-time.

Confluent menilai ada tiga hal yang perlu diperhatikan perusahaan. Pertama, membangun fondasi data real-time dengan mengurangi ketergantungan pada pembaruan secara batch. Kedua, memastikan tata kelola data berjalan sejak informasi bergerak antarsistem, termasuk pemantauan kualitas, asal-usul, dan keamanan data.

Ketiga, perusahaan perlu meningkatkan kualitas data sedekat mungkin dengan sumbernya. Pendekatan shift-left memungkinkan data divalidasi, dibersihkan, dan dikelola sebelum masuk ke data warehouse maupun model AI sehingga potensi kesalahan dan persoalan kepatuhan dapat ditemukan lebih awal.

Greg menilai perusahaan dengan arsitektur data yang masih terfragmentasi dan mengandalkan sistem batch akan lebih sulit membawa AI melampaui tahap pilot. Sebaliknya, pengelolaan data sebagai aliran informasi berkelanjutan dinilai membuat perusahaan lebih siap memanfaatkan AI berdasarkan kondisi bisnis terkini.

"Di era AI, keberhasilan tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki model terpintar. Keberhasilan ditentukan oleh siapa yang memiliki data terbaru," kata Greg. (ap)
Read More

𝗗𝗲𝘀𝗮 𝗕𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗶𝗵 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗟𝗲𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴 𝗩𝗶𝗹𝗹𝗮𝗴𝗲 𝟮𝟬𝟮𝟲

Oktober 04, 2026 0
Desa Batuan Raih Penghargaan Internasional Learning Village 2026

GIANYAR, Lensabali.id - Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, meraih Juara I kategori Learning Village dalam Innovation CitySEAM & Learning Village Award 2026. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan internasional atas upaya desa mengembangkan budaya dan kehidupan masyarakat sebagai ruang pembelajaran berkelanjutan.

Ajang tersebut diinisiasi Badan Pengembangan Sains dan Teknologi (STA) Thailand bersama Universitas Phayao, National Innovation Agency (NIA), NESDC Kementerian Pendidikan Thailand, EO SEPS, serta Politeknik Pariwisata Bali. Desa Batuan menjadi salah satu dari dua pemenang utama bersama Baan Ton Haen Noi, Chiang Mai, Thailand.

Dari lima desa asal Bali yang masuk nominasi, Batuan menjadi satu-satunya yang meraih predikat pemenang. Empat desa lainnya, yakni Desa Tua, Celuk, Kuku, dan Tegaljadi, memperoleh sertifikat partisipasi.

Kepala Desa Batuan Ari Anggara mengatakan penghargaan tersebut tidak diperoleh dari satu kegiatan sesaat. Sekitar dua bulan sebelum penetapan, desa menjalani proses pengumpulan data, fakta, dan dokumentasi berbagai inovasi yang telah dikembangkan selama beberapa tahun.

"Khususnya dalam membangun ekosistem pembelajaran berbasis kebudayaan," jelas Ari Anggara saat dikonfirmasi Minggu (4/10/2026).

Menurut Ari, konsep Learning Village dipilih karena sesuai dengan karakter Batuan sebagai desa seni dan budaya. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga tumbuh dari kehidupan sehari-hari melalui seni, tradisi, sejarah, lingkungan hingga tata kelola desa.

“Fokus kami adalah Learning Village. Bagaimana inovasi-inovasi desa diarahkan untuk proses pembelajaran berkelanjutan di bidang kebudayaan. Kami punya sanggar, kegiatan seni dan berbagai aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” jelas Ari.

Konsep tersebut kemudian dikembangkan melalui Batuan Experiences, paket wisata edukatif yang mengajak pengunjung tidak sekadar melihat objek wisata, tetapi berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mempelajari seni serta tradisi setempat. Program ini telah berjalan sekitar dua tahun dan disebut turut meningkatkan pendapatan asli desa melalui BUMDes Praja Kerta.

“Paket Batuan Experience ini sudah berjalan sejak dua tahun lalu dan terbukti mendongkrak pendapatan asli desa melalui BUMDes Praja Kerta,” katanya.

Konsep itu juga diperkenalkan kepada sekitar 50 akademisi dari berbagai negara dalam Batuan Experiences: Batuan Village - Living Heritage of Gianyar pada 25 September 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari International Conference IJCHT 2026 tersebut mengajak peserta mengenal rumah tradisional Bali, Pura Puseh Desa Adat Batuan, seni lukis, tari, ukiran kayu hingga pengelolaan sampah melalui TPS3R.

Ari menilai kekuatan Batuan terletak pada warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Desa tersebut dikenal sebagai salah satu desa kuno di Bali dan tercatat dalam Prasasti Baturan pada 944 Saka atau 1022 Masehi, masa pemerintahan Raja Bali X, Sri Aji Marakata.

Jejak sejarah itu terus diwariskan melalui seni lukis, tari, tradisi, arsitektur rumah Bali, sanggar, komunitas hingga berbagai aktivitas sosial. Karena itu, konsep Learning Village tidak hanya menampilkan kekayaan budaya, tetapi menjadikannya sebagai pengetahuan yang terus dipelajari dan dikembangkan lintas generasi.

Bagi Desa Batuan, penghargaan tersebut bukan menjadi akhir. Predikat internasional itu justru memperkuat komitmen untuk menjaga budaya sekaligus menjadikannya sumber pembelajaran dan kekuatan ekonomi masyarakat.

“Ini mengukuhkan posisi kita. Ikon kita sebelumnya adalah bagaimana mengembangkan Batuan Experience menjadi satu paket wisata edukatif yang membelajarkan. Jadi bukan hanya wisata, tetapi ada proses pembelajaran di dalamnya,” kata Ari.

Penghargaan tersebut rencananya diserahkan di Bali pada 3 Desember 2026. Dari desa kuno yang namanya tercatat lebih dari seribu tahun lalu, Batuan kini membawa sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakatnya ke panggung internasional melalui konsep desa sebagai ruang belajar yang hidup. (*ap)
Read More

𝗞𝗼𝗹𝗮𝗯𝗼𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗮𝗶 𝗪𝗮𝘁𝗰𝗵, 𝗚𝗲𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗞𝘂𝗹𝗸𝘂𝗹 𝗣𝗞𝗞 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗼𝘀𝘆𝗮𝗻𝗱𝘂 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗶𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗮𝘄𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗸𝗮𝘂 𝗦𝗶𝗱𝗮𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮

Oktober 04, 2026 0

Kolaborasi Sungai Watch, Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu Bersihkan Kawasan Bakau Sidakarya

DENPASAR, Lensabali.id – Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu kembali dilaksanakan serentak di sembilan kabupaten/kota se-Bali, Minggu (4/10). Di Kota Denpasar, kegiatan dipusatkan di kawasan Hutan Bakau Pantai Sidakarya dengan melibatkan jajaran TP PKK dan TP Posyandu Provinsi Bali serta Kota Denpasar, TP PKK Desa Sidakarya, Sungai Watch, masyarakat, dan relawan.

Gerakan tersebut menjadi bagian dari agenda rutin yang digelar setiap Minggu pertama setiap bulan. Masyarakat diajak membersihkan lingkungan rumah hingga kawasan di sekitarnya sebagai langkah membangun kepedulian dan kebiasaan menjaga kebersihan secara berkelanjutan.

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara bersamaan di sembilan kabupaten/kota. Langkah ini ditujukan untuk memastikan Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang memperkuat kepedulian lingkungan, interaksi sosial, dan semangat gotong royong.

Manajer Lapangan Sungai Watch, Made Dwi Bagiasa, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan di Sidakarya. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kolaborasi perdana Sungai Watch dengan TP PKK dan TP Posyandu Provinsi Bali serta Kota Denpasar dalam membersihkan aliran sungai di kawasan pesisir Denpasar.

“Harapannya ke depan tidak hanya bersih-bersih saja, tetapi bagaimana kita mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai karena semua akan bermuara ke pantai selatan kita,” ujar Made Dwi Bagiasa.

Ia menilai persoalan sampah harus ditangani secara menyeluruh. Sampah yang berasal dari permukiman maupun aliran sungai dapat terbawa menuju kawasan pesisir hingga laut apabila tidak dikelola dengan baik.

Kolaborasi Sungai Watch, Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu Bersihkan Kawasan Bakau Sidakarya

Karena itu, edukasi mengenai pengurangan dan pengelolaan sampah perlu dilakukan secara konsisten dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Kebiasaan menjaga kebersihan, menurutnya, harus dibangun dari lingkungan terdekat sebelum diperluas ke ruang-ruang publik.

Made Dwi Bagiasa juga memberikan apresiasi terhadap Ketua TP PKK dan Posyandu Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, yang terus mendorong kader dan anggota PKK untuk bergerak menjaga kebersihan lingkungan secara rutin.

“Kita lihat semangat Ibu, Bunda Putri ini sebagai semangat untuk memobilisasi ibu-ibu PKK agar rutin membersihkan lingkungan di sekitarnya. Bagaimanapun juga, kita harus bijak memperlakukan sampah,” ungkapnya.

Melalui Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu, TP PKK Provinsi Bali terus menguatkan budaya bersih dan gotong royong sebagai bagian dari keseharian masyarakat. Gerakan tersebut dimulai dari lingkup paling dekat, seperti telajakan dan lingkungan rumah masing-masing, kemudian berkembang ke ruang publik yang menjadi tanggung jawab bersama. (hms/ap)
Read More