BADUNG, Lensabali.id – Sejumlah wisatawan asing tampak antusias mengikuti pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang digelar di Zando Fight Camp, Ungasan, Kuta Selatan, Badung, Kamis (14/05/2026) malam. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan sesi diskusi yang dihadiri mahasiswa, masyarakat umum, hingga wisatawan mancanegara.
Salah seorang penonton asal Rusia, Julia, mengaku awalnya belum mengetahui detail film tersebut. Namun ia sebelumnya sempat mendengar berbagai persoalan yang terjadi di Papua. Setelah menyaksikan dokumenter itu, Julia menilai eksploitasi alam yang ditampilkan dalam film menjadi gambaran ketimpangan sistem kapitalisme modern.
“Ini benar-benar cerita yang menyedihkan. Saya merasa dunia kapitalis sekarang semakin gila dan tidak mendukung rakyatnya sendiri. Apa yang terjadi terhadap masyarakat Papua seperti sebuah kejahatan,” ujar Julia usai pemutaran film.
Film dokumenter Pesta Babi mengangkat isu hilangnya kawasan hutan di Papua akibat konversi menjadi perkebunan industri atas nama ketahanan pangan dan transisi energi. Dokumenter tersebut juga merekam perjuangan masyarakat adat mempertahankan tanah leluhur mereka.
Julia menilai masyarakat Papua memiliki keterikatan kuat dengan hutan sebagai sumber kehidupan. Karena itu, menurutnya, pengrusakan kawasan hutan akan berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat setempat.
“Masyarakat hidup di hutan dan mencari makanan dari sana. Hutan memberikan banyak hal penting bagi mereka. Apa yang dilakukan pemerintah terhadap hutan itu adalah sebuah kejahatan,” katanya.
Ia juga membandingkan kondisi tersebut dengan situasi di Rusia, khususnya di wilayah Siberia Utara yang disebut mengalami eksploitasi hutan dalam skala besar demi kepentingan ekonomi.
Sementara itu, wisatawan asal Peru, Janine, mengaku tertarik mengikuti nobar karena sebelumnya telah mendengar isu mengenai Papua. Salah satu adegan yang paling membekas baginya adalah saat alat berat menggusur kawasan hutan.
“Saat bulldozer menebangi semua pohon dan saya memikirkan orang-orang serta hewan-hewan di sana. Itu membuat saya sedih,” tutur Janine.
Penyelenggara kegiatan sekaligus pemilik Zando Fight Camp, Belda Brig Sando, mengaku tidak menyangka pemutaran film tersebut mendapat perhatian besar dari warga asing. Ia menyebut kegiatan itu bertujuan memperkenalkan realitas Papua kepada wisatawan yang tinggal maupun berlibur di Bali.
“Nggak nyangka nih, antusias dari bule-bule juga banyak jadi ya baguslah, senang juga. Untung bisa tayang sampai selesai,” ungkap Belda. (ap)


