LENSA BALI

Hot



Sabtu, 03 Oktober 2026

𝗥𝗔𝗠 𝗟𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮 𝗚𝗮𝗿𝗮-𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗔𝗜, 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝘀𝗲𝗻 𝗛𝗣 𝗠𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗣𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘀 𝗦𝗽𝗲𝘀𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶

Oktober 03, 2026 0
RAM Langka Gara-gara AI, Produsen HP Mulai Pangkas Spesifikasi

Lensabali.id - Ledakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) mulai memberikan dampak terhadap industri smartphone. Besarnya kebutuhan chip memori untuk pusat data AI membuat pasokan RAM dan penyimpanan semakin ketat, yang pada akhirnya berpotensi mendorong harga ponsel naik.

International Data Corporation (IDC) memperkirakan harga jual rata-rata smartphone secara global mencapai USD 581 atau sekitar Rp9,6 juta pada 2026. Nilai tersebut meningkat 27,6% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan harga terutama dipicu melonjaknya biaya komponen memori. IDC mencatat harga DRAM dan NAND telah meningkat lebih dari 300% secara tahunan. Infrastruktur AI kini bersaing memperebutkan kapasitas produksi memori yang selama ini juga digunakan untuk smartphone, laptop, dan perangkat elektronik lainnya.

Dampaknya mulai terlihat di sejumlah pasar. The Guardian melaporkan beberapa model iPhone di Inggris mengalami kenaikan harga hingga 100 poundsterling. Sementara Google Pixel 11 Pro XL dijual sekitar 80 poundsterling lebih mahal dibandingkan generasi sebelumnya, meski hadir dengan konfigurasi memori yang lebih rendah.

Tekanan paling besar diperkirakan dirasakan produsen smartphone murah. Menurut IDC, biaya memori kini dapat mencapai lebih dari 65% dari total biaya komponen pada perangkat kelas bawah.

Kondisi tersebut turut menekan pasar smartphone global. IDC memperkirakan pengiriman ponsel pada 2026 turun 16,7% menjadi sedikit di atas 1 miliar unit. Penurunan ini disebut sebagai yang terdalam yang pernah dicatat lembaga tersebut.

Segmen ponsel dengan harga di bawah USD 100 menjadi salah satu yang paling terdampak. Pengirimannya tercatat anjlok hampir 60% secara tahunan pada kuartal II-2026. Sejumlah produsen Android pun mulai mengurangi model murah dan mengalihkan portofolio ke perangkat dengan harga lebih tinggi.

Bagi konsumen, dampak krisis memori bukan sekadar kenaikan harga. Produsen juga berpeluang memangkas kapasitas RAM maupun penyimpanan untuk mempertahankan harga jual. IDC sebelumnya memperingatkan, ponsel yang sebelumnya menawarkan RAM 12 GB dan penyimpanan 256 GB bisa digantikan model dengan RAM 8 GB dan penyimpanan 128 GB pada kisaran harga yang sama.

Krisis RAM Bisa Berlanjut hingga 2027

Tekanan pasokan memori diperkirakan belum segera berakhir. Reuters melaporkan sejumlah produsen smartphone dan laptop yang lebih kecil bahkan mulai mendesain ulang produknya karena kesulitan memperoleh komponen memori.

Jolla, misalnya, menyiapkan dua desain motherboard agar dapat menggunakan konfigurasi chip yang berbeda. Framework mengandalkan desain RAM modular, sementara sejumlah produsen lain harus memesan komponen jauh hari meski belum mengetahui secara pasti harga maupun jumlah yang akan tersedia.

CEO SK Hynix sebelumnya memperingatkan bahwa 2027 berpotensi menjadi tahun terburuk dari sisi kapasitas pasokan. Sejumlah pelaku industri bahkan belum memperkirakan kondisi pasar memori kembali normal sebelum 2028.

Jika tekanan pasokan terus berlanjut, konsumen bukan hanya menghadapi potensi kenaikan harga smartphone, tetapi juga kemungkinan mendapatkan spesifikasi RAM dan penyimpanan yang lebih rendah pada kelas harga yang sama. (*ap)
Read More

𝗣𝗿𝗼𝗷𝗲𝗰𝘁 𝗦𝘂𝗻𝗰𝗮𝘁𝗰𝗵𝗲𝗿, 𝗔𝗺𝗯𝗶𝘀𝗶 𝗚𝗼𝗼𝗴𝗹𝗲 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗣𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗗𝗮𝘁𝗮 𝗔𝗜 𝗱𝗶 𝗢𝗿𝗯𝗶𝘁

Oktober 03, 2026 0
Project Suncatcher, Ambisi Google Bangun Pusat Data AI di Orbit

Lensabali.id - Google bersiap menguji teknologi pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa melalui Project Suncatcher. Pada tahap awal, perusahaan tidak langsung mengirim pusat data berukuran penuh, melainkan satelit eksperimental berukuran sekitar lemari es.

Satelit yang diberi nama MVP tersebut membawa empat akselerator AI Tensor Processing Unit (TPU) buatan Google. Perangkat ini dirancang untuk menjalankan inferensi sekaligus melatih model AI. Peluncurannya dijadwalkan pada 1 Oktober menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Untuk memasok energi, satelit dilengkapi panel surya yang mampu menghasilkan daya sekitar satu kilowatt. Kapasitas tersebut kurang lebih setara dengan kebutuhan daya sebuah pengering rambut atau microwave.

Google menyebut perangkat keras pusat data mini tersebut telah melalui pengujian di darat. Namun, pengujian di orbit diperlukan untuk mengetahui kemampuan TPU menghadapi lingkungan luar angkasa yang memiliki suhu ekstrem dan paparan radiasi tinggi.

Radiasi dapat merusak komponen chip dan memicu fenomena yang dikenal sebagai bit flips. Selain itu, perangkat juga harus menghadapi getaran serta gaya gravitasi besar ketika proses peluncuran berlangsung.

Tantangan berikutnya adalah menjaga suhu akselerator AI. TPU menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga sistem pendinginan konvensional dengan radiator dinilai tidak cukup efektif untuk kebutuhan tersebut.

Google mencoba mengatasinya dengan menggunakan lapisan material antarmuka termal yang fleksibel. Material tersebut menghubungkan chip dengan pipa berbahan aluminium dan tembaga untuk membantu menyalurkan panas menuju luar angkasa.

Dalam pengujian, Google berencana menjalankan model Gemini menggunakan TPU yang dibawa satelit. Namun, pengoperasiannya tidak dapat berlangsung terus-menerus karena sistem pendingin hanya mampu bekerja sekitar 15 menit. Setelah itu, TPU harus dimatikan untuk menurunkan suhunya.

Meski masih menghadapi berbagai kendala teknis, Google telah menyiapkan pengembangan Project Suncatcher dalam skala lebih besar. Dua satelit serupa direncanakan meluncur tahun depan, dengan target jangka panjang mencapai 80 satelit yang terbang dalam formasi rapat untuk menangani permintaan AI secara lebih efektif.

Google bahkan mempertimbangkan pengembangan satelit berukuran jauh lebih besar, hingga seukuran lapangan sepak bola, sebagai bagian dari visi pusat data AI di orbit. (*ap)
Read More

𝗣𝘂𝘁𝗿𝗶 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿: 𝗣𝗲𝗹𝗲𝘀𝘁𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗘𝗻𝗱𝗲𝗸 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗗𝗶𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗛𝘂𝗹𝘂 𝗵𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗛𝗶𝗹𝗶𝗿

Oktober 03, 2026 0

Putri Koster: Pelestarian Endek Bali Harus Dijaga dari Hulu hingga Hilir

BADUNG, Lensabali.id – Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, menegaskan bahwa upaya menjaga keberadaan kain tenun tradisional Endek Bali harus dilakukan secara menyeluruh. Perlindungan tidak hanya menyentuh aspek promosi dan pemasaran, tetapi juga proses produksi agar kualitas, motif, serta karakter Endek tetap menjadi bagian dari identitas budaya Bali.

Hal itu disampaikan Ibu Putri Koster saat menghadiri Journey of Wastra, rangkaian peringatan HUT ke-36 Discovery Kartika Plaza Hotel, di Beach Gate Discovery Kartika Plaza Hotel, Badung, Jumat (2/10).

Menurut Putri Koster, penguatan Endek pada sisi hilir melalui peningkatan penggunaan dan pemasaran harus berjalan beriringan dengan pembenahan di sektor hulu. Dengan demikian, perkembangan pasar tidak justru menggeser karakter asli kain tenun tersebut.

“Untuk menjaga keberadaan kain tenun tradisional Endek Bali, harus ada upaya perlindungan dari hulu hingga hilir. Ketika di hilir keberadaannya mulai diangkat, maka di hulu dan bagian tengahnya juga harus dijaga. Jangan sampai produksinya keluar dari koridor yang akhirnya membuat kita kehilangan identitas warisan leluhur,” ujar Ibu Putri Koster.

Ia mengatakan, setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan wastra dengan karakter yang berbeda. Kekhasan tersebut, menurutnya, perlu dipertahankan karena selain menjadi identitas budaya, wastra juga mempunyai nilai ekonomi bagi perajin dan masyarakat.

Perlindungan juga perlu menyentuh aspek kekayaan intelektual, khususnya ide, desain, dan motif yang dihasilkan para perajin. Regulasi serta penegakan hukum diperlukan agar karya yang lahir dari kreativitas perajin tidak digunakan pihak lain tanpa memperhatikan hak penciptanya.

“Kalau ada yang memiliki ide dan motif kemudian diambil oleh pihak lain, aturan dan sanksinya harus ditegakkan. Kalau kita diam saja, kita akan semakin kehilangan warisan kita. Jangan menyamakan satu daerah dengan daerah lainnya karena masing-masing harus memiliki dan mempertahankan ciri khasnya,” tegasnya.

Dari sisi ekonomi, Putri Koster mendorong terbentuknya ekosistem yang mempertemukan perajin dengan pasar secara lebih luas. Dekranasda Provinsi Bali, salah satunya, menyediakan ruang di Art Center sebagai tempat pemasaran produk kerajinan lokal agar karya perajin semakin dikenal dan memiliki akses pasar yang lebih terbuka.

Menurutnya, peningkatan permintaan terhadap Endek Bali dapat menjadi peluang bagi perajin untuk meningkatkan produksi sekaligus mengembangkan kreativitas dan variasi motif. Namun, pertumbuhan tersebut tetap harus disertai pengendalian kualitas serta menjaga karakter Endek dari daerah asalnya.

Keberlanjutan Endek juga bergantung pada regenerasi konsumen. Generasi muda perlu diperkenalkan dan ditumbuhkan kecintaannya terhadap produk lokal, sekaligus diberi keleluasaan mengembangkan pemanfaatan Endek mengikuti selera dan perkembangan fesyen tanpa menghilangkan identitas wastranya.

Putri Koster: Pelestarian Endek Bali Harus Dijaga dari Hulu hingga Hilir

“Anak-anak muda harus kita ajarkan mencintai produk lokal terlebih dahulu. Setelah itu, biarkan mereka menggunakan dan mengembangkannya sesuai selera masing-masing, tetapi tetap dengan bahan Endek yang kita miliki,” katanya.

Untuk memperkuat ekosistem tersebut, ia mendorong kolaborasi antara Dekranasda Provinsi Bali, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta berbagai pemangku kepentingan. Masing-masing pihak diharapkan menjalankan tugas dan kewenangannya, termasuk dalam perlindungan kekayaan intelektual dan penegakan aturan.

Sementara itu, Journey of Wastra menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kekayaan wastra Bali kepada khalayak yang lebih luas, termasuk wisatawan mancanegara. Kegiatan ini sekaligus membuka ruang promosi bagi perajin dan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) Bali.

Rangkaian acara diisi pameran karya perajin IKM Bali, kegiatan membatik, talk show, hingga peragaan busana. Talk show menghadirkan Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya Kementerian Perindustrian Dickie Sulistya Aprilyanto, Creative Director Idon Pande, serta Coordinator of Fashion Design Tjok. Istri Ratna.

Peragaan busana turut menampilkan karya desainer Cok Abi, Padmi, serta desainer dari Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya Kementerian Perindustrian. Melalui kegiatan tersebut, wastra Bali diharapkan semakin berkembang sebagai identitas budaya sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi perajin dan pelaku industri kreatif. (hms/ap)
Read More