KARANGASEM, Lensabali.id - Investor asal China mulai menjajaki peluang pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Butus, Karangasem. Saat ini, investor tersebut masih melakukan kajian terkait teknologi yang akan digunakan sekaligus kebutuhan investasinya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karangasem, I Made Wiguna, mengatakan pihak investor sebelumnya telah meninjau langsung kondisi TPA Butus pada pertengahan Agustus 2026. Kajian masih berlangsung untuk menentukan konsep pengolahan yang paling sesuai.
"Sudah sempat survei lokasi pertengahan Agustus 2026 lalu, sekarang masih dikaji oleh mereka. Gambaran awalnya sampah akan diolah semuanya, tidak perlu dipilah lagi," kata Wiguna, Selasa (1/9/2026).
Teknologi yang ditawarkan disebut memiliki konsep menyerupai insinerator, tetapi menggunakan metode berbeda. Sampah yang masuk nantinya direncanakan dapat langsung diolah tanpa melalui proses pemilahan terlebih dahulu.
Konsep tersebut dinilai lebih praktis dibandingkan teknologi insinerator yang sebelumnya sempat diuji coba di Karangasem. Kendati demikian, rencana investasi ini masih berada pada tahap penjajakan sehingga belum ada kepastian mengenai teknologi maupun nilai investasi yang akan ditanamkan.
Jika rencana tersebut berlanjut, Pemkab Karangasem kemungkinan perlu memberikan sejumlah kemudahan, termasuk berkaitan dengan perizinan dan penyediaan lahan. Investor juga membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan sampah sebagai bahan baku pengolahan.
"Investor juga membutuhkan kepastian pasokan terkait pasokan sampah, minimal berapa ton. Karena pasti ada minimal jumlah sampah yang harus kita sediakan tiap harinya," ujar Wiguna.
Apabila investasi terealisasi, seluruh sampah dari berbagai wilayah di Karangasem berpeluang dikonsolidasikan ke TPA Butus untuk kemudian diolah. Skema tersebut diharapkan dapat mengurangi persoalan sampah yang tercecer di berbagai wilayah.
"Jika ini terealisasi, sampah-sampah se-Kabupaten bisa ditarik ke TPA Butus untuk diolah," ucap Wiguna.
DLH Karangasem berharap proses penjajakan bersama investor China tersebut dapat berlanjut hingga tahap realisasi. Terlebih, kondisi TPA Butus saat ini telah mengalami kelebihan kapasitas sehingga membutuhkan solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. (ap)



.jpeg)