LENSA BALI

Hot



Minggu, 15 Februari 2026

𝗧𝗶𝗴𝗮 𝗝𝗮𝗺𝗯𝗿𝗲𝘁 𝗞𝗮𝘀𝘂𝘀 𝗠𝗮𝘂𝘁 𝗱𝗶 𝗞𝗲𝗿𝗼𝗯𝗼𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹 𝗗𝗶𝗿𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝘀 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘀𝗶

Februari 15, 2026 0
Tiga Jambret Kasus Maut di Kerobokan Berhasil Diringkus Polisi

BADUNG, Lensabali.id - Pelarian tiga pelaku jambret yang menyebabkan seorang perempuan tewas di Jalan Pengubengan Kauh, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, akhirnya berakhir. Ketiganya ditangkap tim gabungan Polsek Kuta Utara dan Satreskrim Polres Badung pada Jumat (13/2/2026).

Penangkapan dilakukan di dua lokasi berbeda, masing-masing di wilayah Tabanan dan Denpasar Selatan. Informasi di lapangan menyebutkan, salah satu pelaku sempat berupaya melarikan diri ke luar Pulau Bali, namun berhasil dicegat petugas di Tabanan.

“Informasi (pelaku) sudah diamankan dan mungkin masih didalami. Termasuk pendalaman adanya informasi jika pelaku pernah terlibat tindak pidana lain,” ungkap sumber di lapangan, Sabtu (14/2/2026).

Polisi belum merinci identitas serta peran masing-masing pelaku. Namun, PS Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung, Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, memastikan penyelidikan telah membuahkan hasil.
“Sudah ada titik terang terkait hasil penyelidikan dan penyidikan kasus ini. Belum ada informasi resmi, nanti kami sampaikan,” ujarnya.

Kapolsek Kuta Utara, Kompol I Ketut Agus Pasek Sudina, turut membenarkan penangkapan tersebut dan menyatakan kasus ini akan segera dirilis secara resmi. “Nggih nanti tunggu rilis nggih, Bli,” ujarnya singkat.

Kasus ini menyita perhatian publik setelah korban, Juhaeryah Velina (46), meninggal dunia akibat benturan keras ke tiang listrik. Perempuan asal Tangerang yang tinggal di Kuta itu terjatuh saat mempertahankan kendaraannya setelah tasnya ditarik pelaku yang berbonceng tiga menggunakan satu sepeda motor. Meski para pelaku sempat kabur, ketiganya kini menjalani pemeriksaan intensif. (ap)
Read More

𝗧𝗮𝗯𝗿𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗗𝘂𝗮 𝗧𝗿𝘂𝗸 𝗱𝗶 𝗦𝗶𝗱𝗲𝗺𝗲𝗻 𝗞𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝘀𝗲𝗺, 𝗦𝗼𝗽𝗶𝗿 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗲𝗽𝗶𝘁

Februari 15, 2026 0
Tabrakan Dua Truk di Sidemen Karangasem, Sopir Tewas Terjepit

KARANGASEM, Lensabali.id – Kecelakaan lalu lintas maut melibatkan dua unit truk terjadi di jalur Karangasem–Klungkung, tepatnya di Desa Telaga Tawang, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Bali, Minggu (15/2/2026). Seorang sopir truk bernama Khaerul Habibi meninggal dunia setelah terjepit di kabin kendaraan yang dikemudikannya.

Kasat Lantas Polres Karangasem, AKP I Gusti Agung Putu Maha Putra, menjelaskan kecelakaan bermula saat truk DK 8771 UB yang dikemudikan korban melaju dari arah Karangasem menuju Klungkung.

Saat tiba di lokasi kejadian, truk tersebut diduga mengalami gangguan pengereman sehingga laju kendaraan tak terkendali. Akibatnya, truk menabrak kendaraan sejenis di depannya, yakni truk DK 8821 BD yang dikemudikan Mohammad Ajhar.

“Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, apakah sopir truk tersebut mengantuk atau karena truk mengalami rem blong,” ujar Agung Maha, Minggu sore.

Benturan keras membuat kedua truk mengalami kerusakan parah dan terguling. Korban terjepit di bagian depan kabin sehingga proses evakuasi memerlukan waktu beberapa jam.

“Akibat terjepit, sopir mengalami luka yang cukup serius di beberapa bagian tubuhnya hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia,” pungkas Agung Maha. (ap)
Read More

𝗕𝘂𝗸𝗮 𝗦𝗲𝗺𝗶𝗻𝗮𝗿 𝗔𝗸𝘀𝗮𝗿𝗮 𝗞𝗮𝘄𝗶, 𝗜𝗯𝘂 𝗣𝘂𝘁𝗿𝗶 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿: 𝗣𝗲𝗿𝗯𝗲𝗱𝗮𝗮𝗻 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗸𝗮𝘁, 𝗠𝗲𝗹𝗮𝗶𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗸𝗮𝘆𝗮𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗪𝗮𝗷𝗶𝗯 𝗗𝗶𝗹𝗲𝘀𝘁𝗮𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻

Februari 15, 2026 0
Buka Seminar Aksara Kawi, Ibu Putri Koster Perbedaan Budaya Bukan Sekat, Melainkan Kekayaan yang Wajib Dilestarikan

DENPASAR, Lensabali.id - Pendamping Gubernur Bali sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Putri Koster, mengajak generasi Bali untuk merawat kebudayaan daerah dengan menumbuhkan rasa bangga menggunakan bahasa lokal di tanah sendiri. Ia juga menekankan pentingnya membiasakan diri mengenakan busana Bali serta mengenal aksara daerah sebagai bagian dari upaya menjaga jati diri budaya di tengah keberagaman.

Ajakan tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan sekaligus membuka Seminar Aksara Kawi dalam rangka Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong yang digelar di Gedung Kerta Sabha, Denpasar, Minggu (15/2).

“Bali kita kenal sebagai daerah pariwisata sekaligus wajah Indonesia dengan jumlah kunjungan wisatawan yang tinggi. Masuknya budaya Barat saya harapkan tidak membuat generasi muda Bali melupakan kebudayaan, tradisi, dan adat istiadat yang kita miliki, terutama dalam busana, aksara, dan bahasa Bali,” ujar Ibu Putri Koster.

Ia menegaskan, tanggung jawab pelestarian budaya berada di tangan masyarakat Bali sendiri. “Jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan budaya ini? Setiap daerah tentu memiliki perbedaan budaya sebagai ciri khas yang melekat. Namun perbedaan tersebut justru menjadi kebanggaan yang harus dijaga dan dirawat sebagai kekayaan, baik di tingkat daerah maupun nasional,” tegasnya.

Seminar Aksara Kawi ini diselenggarakan sebagai bagian dari Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong dan bertepatan dengan pelaksanaan Bulan Bahasa Bali 2026.

Buka Seminar Aksara Kawi, Ibu Putri Koster Perbedaan Budaya Bukan Sekat, Melainkan Kekayaan yang Wajib Dilestarikan

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Gede Suarbawa, Heri Purwanto, dan Fuad. Seminar mengangkat tema besar “Aksara Kawi” dengan pembahasan mengenai perjalanan dan pengaruh sistem aksara dalam sejarah Nusantara.

Salah satu narasumber, Gede Suarbawa, memaparkan bahwa dalam sejarah sistem aksara di Indonesia dikenal tiga sistem utama yang memberi pengaruh luas dan mendalam, yaitu aksara Pallawa, Arab, dan Latin. Selain itu, terdapat pula sistem lain yang ditemukan dalam tinggalan arkeologi namun pengaruhnya tidak berkelanjutan, seperti aksara Siddhamatrka atau Pre-Nagari serta aksara Cina.

“Aksara Pallawa memiliki perjalanan panjang dalam tradisi tulis Indonesia. Aksara ini digunakan pada prasasti tertua di Muara Kaman, Kutai, yang memuat kisah kebesaran Raja Mulawarman, serta pada prasasti Raja Purnawarman di Jawa Barat yang juga menggunakan aksara dasar Pallawa. Pada perkembangan selanjutnya, di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali, aksara ini mengalami transformasi menjadi aksara Kawi,” jelasnya.

Melalui penyelenggaraan Seminar Aksara Kawi ini, diharapkan tradisi keberaksaraan dan kebudayaan bangsa yang beragam semakin kokoh, sekaligus terus tumbuh dalam harmoni, toleransi, dan saling menghargai di tengah keberagaman. (hms/ap)
Read More