LENSA BALI

Hot



Rabu, 30 September 2026

𝗞𝗶𝗻𝗶 𝗔𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝗔𝗻𝗱𝗿𝗼𝗶𝗱, 𝗔𝗱𝗼𝗯𝗲 𝗣𝗿𝗲𝗺𝗶𝗲𝗿𝗲 𝗚𝗿𝗮𝘁𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗯𝗮𝘀 𝗜𝗸𝗹𝗮𝗻

September 30, 2026 0
Kini Ada di Android, Adobe Premiere Gratis dan Bebas Iklan

Lensabali.id - 
Adobe akhirnya membawa aplikasi Premiere ke perangkat Android. Kehadiran versi mobile ini menawarkan pengalaman penyuntingan video dengan fitur yang dirancang untuk kebutuhan kreator, tanpa biaya penggunaan dasar, iklan, maupun kewajiban membuat akun.

Dalam rilis resminya, Adobe menyebut Premiere untuk Android dikembangkan agar lebih fleksibel dan dapat mendukung alur kerja kreator yang menggunakan berbagai perangkat dan platform.
Fitur Lengkap Tanpa Watermark dan Iklan

Berbeda dengan sejumlah aplikasi edit video gratis yang kerap menyertakan watermark atau iklan pop-up, Adobe menghadirkan Premiere versi Android tanpa kedua gangguan tersebut. Pengguna dapat melakukan penyuntingan tanpa harus khawatir hasil video diberi tanda aplikasi.

Fitur penyuntingan dasar hingga menengah dapat digunakan secara gratis. Namun, tidak seluruh kemampuan Premiere diberikan tanpa biaya.
Fitur AI Generatif Firefly Tetap Berbayar

Adobe masih menempatkan sejumlah fitur canggih berbasis Generative AI dari Adobe Firefly di balik sistem berbayar. Artinya, pengguna tetap bisa menikmati fungsi penyuntingan utama secara gratis, sementara fitur AI generatif tertentu memerlukan pembayaran.

Untuk menjalankan Adobe Premiere, perangkat Android harus menggunakan sistem operasi Android 13 atau versi lebih baru serta memiliki RAM minimal 5 GB. Aplikasi ini juga telah mendukung perangkat foldable, baik model flip maupun book-style.

Adobe berencana terus memperluas kemampuan Premiere di Android. Beberapa fitur yang disiapkan antara lain Adobe Fonts, peningkatan pembuatan caption otomatis, keyframe, cropping, beat detection, hingga sinkronisasi langsung dengan Premiere versi komputer. (ap)
Read More

𝗕𝗠𝗞𝗚 𝗣𝗿𝗲𝗱𝗶𝗸𝘀𝗶 𝗠𝘂𝘀𝗶𝗺 𝗛𝘂𝗷𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗗𝗶𝗺𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗡𝗼𝘃𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿-𝗗𝗲𝘀𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟲

September 30, 2026 0
BMKG Prediksi Musim Hujan Bali Dimulai November-Desember 2026


DENPASAR,
Lensabali.id - Musim hujan 2026/2027 di Bali diprediksi datang lebih lambat. Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, menyebut seluruh 20 zona musim (ZOM) di Bali berpotensi mengalami kemunduran awal musim hujan.

"Seluruh wilayah, yaitu 20 zona musim di Bali, diprediksi mengalami kemunduran awal musim hujan," ujar Aminudin dalam Press Release Prediksi Musim Hujan 2026/2027 di Provinsi Bali melalui Zoom, Senin (28/9/2026).

Berdasarkan pemantauan dan analisis iklim terbaru, awal musim hujan diperkirakan berlangsung pada November 2026 di tiga ZOM atau sekitar 15 persen wilayah Bali. Sementara 17 ZOM lainnya atau 85 persen wilayah diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Wilayah yang diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November meliputi Kecamatan Banjar, Sukasada, Baturiti, Pupuan, Petang, dan Payangan. Adapun sebagian besar wilayah Bali lainnya diprediksi mulai mengalami musim hujan pada Desember.

Wilayah tersebut mencakup sejumlah kawasan di Jembrana, Buleleng, Tabanan, Badung, Denpasar, Gianyar, Bangli, Klungkung hingga Karangasem. Dengan demikian, sebagian besar wilayah Bali diperkirakan masih berada dalam periode sebelum musim hujan hingga penghujung 2026.

Dari sisi sifat musim, Stasiun Klimatologi Bali memprakirakan musim hujan 2026/2027 berada pada kategori normal hingga di atas normal. Sekitar 70 persen ZOM diprediksi mengalami musim hujan dengan sifat normal, sedangkan 30 persen lainnya diperkirakan berada di atas normal.

Untuk puncak musim hujan, Februari 2027 diprediksi menjadi periode utama. Sebanyak 80 persen ZOM di Bali diprakirakan mencapai puncak hujan pada bulan tersebut.

Sementara itu, satu ZOM diperkirakan mencapai puncak musim hujan pada Januari 2027 dan tiga ZOM lainnya pada Maret 2027. Pola tersebut menunjukkan puncak musim hujan tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah Bali.

"Jadi puncak musim hujan di Provinsi Bali itu pada bulan Februari 2027 80% dan pada bulan Januari satu zona musim, dan pada bulan Maret sebanyak tiga zona musim," ungkap Aminudin. (ap)
Read More

Selasa, 29 September 2026

𝗣𝗿𝗼𝗷𝗲𝗰𝘁 𝗦𝘂𝗻𝗰𝗮𝘁𝗰𝗵𝗲𝗿, 𝗔𝗺𝗯𝗶𝘀𝗶 𝗚𝗼𝗼𝗴𝗹𝗲 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗣𝘂𝘀𝗮𝘁 𝗗𝗮𝘁𝗮 𝗔𝗜 𝗱𝗶 𝗢𝗿𝗯𝗶𝘁

September 29, 2026 0
Project Suncatcher, Ambisi Google Bangun Pusat Data AI di Orbit

Lensabali.id - Google bersiap menguji teknologi pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa melalui Project Suncatcher. Pada tahap awal, perusahaan tidak langsung mengirim pusat data berukuran penuh, melainkan satelit eksperimental berukuran sekitar lemari es.

Satelit yang diberi nama MVP tersebut membawa empat akselerator AI Tensor Processing Unit (TPU) buatan Google. Perangkat ini dirancang untuk menjalankan inferensi sekaligus melatih model AI. Peluncurannya dijadwalkan pada 1 Oktober menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Untuk memasok energi, satelit dilengkapi panel surya yang mampu menghasilkan daya sekitar satu kilowatt. Kapasitas tersebut kurang lebih setara dengan kebutuhan daya sebuah pengering rambut atau microwave.

Google menyebut perangkat keras pusat data mini tersebut telah melalui pengujian di darat. Namun, pengujian di orbit diperlukan untuk mengetahui kemampuan TPU menghadapi lingkungan luar angkasa yang memiliki suhu ekstrem dan paparan radiasi tinggi.

Radiasi dapat merusak komponen chip dan memicu fenomena yang dikenal sebagai bit flips. Selain itu, perangkat juga harus menghadapi getaran serta gaya gravitasi besar ketika proses peluncuran berlangsung.

Tantangan berikutnya adalah menjaga suhu akselerator AI. TPU menghasilkan panas dalam jumlah besar sehingga sistem pendinginan konvensional dengan radiator dinilai tidak cukup efektif untuk kebutuhan tersebut.

Google mencoba mengatasinya dengan menggunakan lapisan material antarmuka termal yang fleksibel. Material tersebut menghubungkan chip dengan pipa berbahan aluminium dan tembaga untuk membantu menyalurkan panas menuju luar angkasa.

Dalam pengujian, Google berencana menjalankan model Gemini menggunakan TPU yang dibawa satelit. Namun, pengoperasiannya tidak dapat berlangsung terus-menerus karena sistem pendingin hanya mampu bekerja sekitar 15 menit. Setelah itu, TPU harus dimatikan untuk menurunkan suhunya.

Meski masih menghadapi berbagai kendala teknis, Google telah menyiapkan pengembangan Project Suncatcher dalam skala lebih besar. Dua satelit serupa direncanakan meluncur tahun depan, dengan target jangka panjang mencapai 80 satelit yang terbang dalam formasi rapat untuk menangani permintaan AI secara lebih efektif.

Google bahkan mempertimbangkan pengembangan satelit berukuran jauh lebih besar, hingga seukuran lapangan sepak bola, sebagai bagian dari visi pusat data AI di orbit. (*ap)
Read More