DENPASAR, Lensabali.id - Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, PLN mengingatkan masyarakat Bali agar memperhatikan pemasangan penjor, khususnya yang berada di sekitar jaringan listrik. Penjor yang terlalu dekat dengan kabel listrik berpotensi menyebabkan gangguan kelistrikan hingga membahayakan keselamatan warga.
Manager Biro K3L (Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan) PLN UID Bali, I Made Ariana, mengatakan jarak aman antara penjor dengan jaringan listrik tegangan menengah 20 kilovolt (kV) minimal harus mencapai 2,5 meter.
"Jarak 2,5 meter itu adalah ketentuan standar keamanan, 2,5 meter. Bukan hanya untuk penjor, tetapi juga untuk objek-objek tertentu lainnya," ujar Ariana dalam acara Koordinasi dan Focus Group Discussion (FGD) Keselamatan Kelistrikan Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan di Kantor PLN UID Bali, Kamis (11/06/2026).
Menurut Ariana, potensi gangguan dapat meningkat ketika kondisi cuaca tidak menentu. Angin kencang maupun hujan dapat membuat bagian penjor bergerak, patah, atau terlepas hingga mengenai jaringan listrik.
"Karena kita tidak bisa memprediksi adanya cuaca seperti angin kencang ataupun hujan yang pada saat hari raya tersebut, yang bisa mempengaruhi penjor. Bagian-bagian dari penjor tersebut diterbangkan oleh angin, menempel di jaringan," jelasnya.
Ia meminta masyarakat menyesuaikan ukuran maupun tinggi penjor apabila lokasi pemasangannya berdekatan dengan jaringan listrik. Jika diperlukan, PLN juga dapat memberikan solusi teknis untuk mengurangi risiko.
"Mungkin memperkecil ukuran dan sebagainya, mungkin bisa diberikan solusi jaringan listriknya yang bisa saja diganti dengan kabel yang terbungkus, atau ada konstruksi tertentu yang menjauhkan jarak konstruksi jaringan itu dengan biasanya penjor itu dipasang," imbuhnya.
Sementara itu, Patajuh Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Bidang Agama, Adat, Seni, dan Budaya, IB Purwa Sidemen, menegaskan imbauan tersebut bukan berarti melarang masyarakat memasang penjor saat Galungan.
Menurutnya, masyarakat hanya perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan agar tradisi tetap berjalan aman.
"Bagaimanapun juga kalau kita mengabaikan potensi bahaya itu, ini akan menjadi sesuatu yang tidak baik, terutama bagi pemerintah akan kerepotan, masyarakat itu sendiri menjadi korban dan sebagainya," ucapnya. (ap)



.jpeg)