BADUNG, Lensabali.id – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyampaikan optimisme bahwa Bali akan semakin berkembang sebagai pusat industri kreatif dan bisnis pariwisata internasional seiring diresmikannya Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kuta, Badung, Jumat (8/5).
Saat mendampingi Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita dalam peresmian tersebut, Giri Prasta menegaskan bahwa Bali memiliki posisi strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia Timur.
“Kami yakin kalau ke depannya industri Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) lebih dikembangkan di Bali, Bali akan menjadi pusat bisnis pariwisata internasional,” ujarnya.
Ia menilai kehadiran BPIFK akan memberikan dampak besar bagi pertumbuhan industri kecil dan menengah (IKM) maupun UMKM di sektor fesyen dan kriya, khususnya di Bali.
“Kami mendukung penuh pembangunan BPIFK di Pulau Dewata. Dengan fasilitas yang tersedia, kami yakin pertumbuhan IKM fesyen dan kriya akan semakin meningkat,” katanya.
BPIFK sendiri dilengkapi berbagai layanan terintegrasi, mulai dari workshop fesyen, kriya logam, keramik, dan kayu, hingga creative business incubator, creative hub, serta layanan Klinik SiniBisa.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa Bali dinilai sangat tepat menjadi pusat industri fesyen dan kriya nasional.
“Bali adalah hub yang paling tepat untuk mendukung pasar dalam negeri dan luar negeri,” jelasnya.
Menurutnya, Bali memiliki ekosistem industri kreatif yang kuat, didukung artisan yang inovatif, kreatif, dan memiliki kualitas produk yang terjaga.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan Bali memiliki puluhan sentra IKM fesyen dan ratusan sentra kriya yang menjadikan provinsi ini termasuk salah satu daerah dengan sentra kriya terbesar di Indonesia.
Selain itu, pengakuan dunia internasional terhadap kriya Bali juga terlihat dari penetapan Gianyar sebagai World Craft City pada 2019.
Kehadiran BPIFK diharapkan menjadi penggerak baru bagi penguatan kapasitas industri kreatif nasional, sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. (hms/ap)



