TABANAN, Lensabali.id – Suasana haru menyelimuti Pantai Yeh Gangga, Tabanan, saat Agus Mahendra terus menanti kabar putranya, IKS (12), yang hilang terseret arus laut.
Dengan wajah penuh kecemasan, Agus mengaku tidak mengetahui sang anak pergi ke pantai pada hari kejadian. Korban sebelumnya hanya berpamitan kepada adiknya untuk bermain ke rumah teman.
“Kalau saya tahu dia ke pantai pasti saya larang, apalagi dia tidak bisa berenang,” ujar Agus Mahendra.
IKS diketahui merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Agus baru mengetahui kabar dugaan tenggelamnya sang anak setelah melihat video yang beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, Agus mengenali salah satu teman korban sehingga membuatnya curiga. Ia kemudian bergegas menuju Pantai Yeh Gangga untuk memastikan informasi itu.
Setibanya di lokasi sekitar pukul 18.30 Wita, Agus mulai mengenali pakaian dan sandal yang ditemukan di sekitar pantai.
“Saya sempat ragu saat melihat baju, karena ada yang sama. Tapi setelah melihat sandalnya, saya yakin itu milik anak saya,” ungkapnya lirih.
Warga sekitar menyebut korban memang kerap bermain di kawasan pantai tersebut. Namun biasanya korban hanya bermain di tepi pantai dan tidak berenang.
Selain penyisiran darat dan laut, keluarga juga menempuh proses pencarian secara niskala melalui upacara mapakeling untuk memohon petunjuk kepada Dewa Baruna agar korban segera ditemukan.
Prosesi spiritual itu dilakukan di Pura Batu Bolong dan di lokasi korban diduga terseret arus dengan didampingi pemangku setempat.
Komandan Tim Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Dudi Librana Marjaya, mengatakan pencarian hingga hari kedua masih belum membuahkan hasil.
“Kami lakukan pencarian dengan radius 2,5 kilometer ke arah barat dan 1,5 kilometer ke arah timur. Kami juga mengerahkan perahu boat beserta drone untuk pengamatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan pencarian terkendala cuaca buruk, gelombang tinggi, serta angin kencang yang menyulitkan proses penyisiran di laut. (ap)


