KARANGASEM, Lensabali.id - Tanaman kapas yang sebelumnya menjadi salah satu komoditas unggulan di Karangasem, Bali, mulai ditinggalkan petani. Anjloknya harga kapas hingga Rp7 ribu per kilogram membuat sebagian petani memilih beralih ke tanaman lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Kondisi tersebut semakin berat karena pada 2026 Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (Distan PP) Karangasem tidak memberikan bantuan bibit kapas. Petani yang masih ingin menanam komoditas tersebut pun harus memenuhi kebutuhan bibit secara mandiri.
Salah satunya I Nengah Gede Kari, petani kapas asal Banjar Tegalanglangan, Desa Datah, Kecamatan Abang. Tahun ini, ia hanya menanam kapas di lahan sekitar 5 are dengan menggunakan sisa bibit bantuan pemerintah dari tahun sebelumnya.
"Harganya anjlok, sekarang hanya Rp 7 ribu per kilogram, saat panen saya hanya dapat 20 kilogram bulan lalu," kata Kari, Jumat (4/9/2026).
Kari menuturkan harga kapas pernah menyentuh Rp25 ribu per kilogram ketika dirinya pertama kali menanam beberapa tahun lalu. Namun, harga tersebut terus turun hingga kini hanya berada di kisaran Rp7 ribu per kilogram.
Tak hanya harga, hasil panen juga dipengaruhi cuaca yang sulit diprediksi. Menurut Kari, kondisi tersebut membuat biaya, tenaga, dan waktu yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
"Tahun ini saya nggak dapat bantuan bibit kapas, kurang tahu untuk petani lainnya. Yang jelas karena faktor cuaca hasil panen tak sebanding dengan tenaga dan waktu jadi rugi," ujar Kari.
Situasi itu mendorong petani mencari alternatif komoditas. Jagung dan kacang tanah menjadi pilihan karena dianggap memiliki prospek harga yang lebih baik dibandingkan kapas.
Kepala Distan PP Karangasem I Made Sugiartha membenarkan tidak adanya bantuan bibit kapas pada tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan stok bibit di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas), ditambah keterbatasan anggaran daerah.
Dalam tiga tahun terakhir, bantuan bibit kapas disebut terus berkurang. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap luas tanam dan produksi kapas di Karangasem, ditambah semakin sedikit kelompok petani yang masih berminat menanamnya.
Pada 2023, luas lahan kapas mencapai 82 hektare dengan produksi sekitar 62.000 kilogram. Angka itu turun pada 2024 menjadi 45 hektare dengan produksi sekitar 49.000 kilogram. Pada 2025, luas lahan kembali menyusut menjadi sekitar 40 hektare dengan produksi hanya 27.000 kilogram.
"Faktanya memang seperti itu, terus menurun karena memang bantuan bibit yang kami berikan juga menurun. Bahkan tahun ini dan tahun depan tidak ada bantuan bibit untuk petani kapas di Karangasem," ujar Sugiartha.
Meski bantuan bibit tidak tersedia, sebagian petani masih menanam kapas secara swadaya di sejumlah lokasi. Luas lahan dan produksinya masih dalam pendataan. Sugiartha berharap pengadaan bibit dapat kembali dilakukan sehingga petani Karangasem memiliki peluang untuk mengembangkan komoditas kapas.
"Mudah-mudahan untuk tahun-tahun berikutnya, kembali ada pengadaan bibit kapas untuk para petani di Karangasem," ujar Sugiartha. (ap)



.jpeg)