𝗛𝗨𝗧 𝗸𝗲-𝟯 𝗙𝗼𝗿𝗴𝗮𝘀 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗔𝗱𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗷𝘂𝗮𝗻 - LENSA BALI

Hot


Kamis, 10 September 2026

𝗛𝗨𝗧 𝗸𝗲-𝟯 𝗙𝗼𝗿𝗴𝗮𝘀 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗔𝗱𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗷𝘂𝗮𝗻


𝗛𝗨𝗧 𝗸𝗲-𝟯 𝗙𝗼𝗿𝗴𝗮𝘀 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗔𝗱𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗷𝘂𝗮𝗻


DENPASAR, Lensabali.id – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (Forgas) Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Rabu (9/9/2026).

Peringatan tahun ini mengangkat tema “Strategi Ngemargiang Sad Kerthi Loka Bali, Ngajegang Tradisi, Adat lan Budaya Nusantara”. Tema tersebut dinilai memiliki semangat yang sejalan dengan arah pembangunan Bali, khususnya dalam menjaga kesucian, keharmonisan, adat, tradisi, dan kebudayaan.

Wagub Giri Prasta mengapresiasi keberadaan Forgas sebagai wadah pemersatu sekaligus bagian dari gerakan pelestarian adat, tradisi, agama, seni, dan budaya Nusantara. Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, Forgas diharapkan konsisten menjaga nilai luhur dan kearifan lokal agar tetap dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ia juga menitipkan pentingnya menjaga kerukunan, baik antarumat beragama maupun di dalam internal umat beragama. Bagi masyarakat Bali, kerukunan tersebut perlu berjalan beriringan dengan komitmen menjalankan adat dan dresta Bali sebagai bagian dari identitas kehidupan masyarakat.

Dalam menjaga jati diri, Giri Prasta mengingatkan pesan yang dikaitkan dengan Bung Karno bahwa masyarakat Indonesia dalam menjalankan keyakinannya tidak boleh kehilangan identitas sebagai bangsa Nusantara. Pesan tersebut dinilai semakin relevan ketika perkembangan global membawa perubahan yang begitu cepat.

Menurutnya, Bali dibangun dan diwariskan para leluhur melalui kekuatan adat, tradisi, budaya, agama, dan seni yang membentuk taksu Bali. Karena itu, seluruh unsur tersebut harus dijaga bersama agar kemajuan Bali tidak membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya.

Semangat itu, kata Giri Prasta, sejalan dengan visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru”. Ia menilai pengangkatan Sad Kerthi dalam tema HUT Forgas menunjukkan kesamaan semangat antara gerakan masyarakat adat dengan Pemerintah Provinsi Bali.

Nilai Sad Kerthi, lanjutnya, perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Atma Kerthi dapat diterapkan dengan memelihara kehidupan spiritual, ritual, dan upacara adat. Jana Kerthi dilakukan melalui keterlibatan lintas generasi dalam menjaga adat, tradisi, dan budaya. Sementara Jagat Kerthi diarahkan untuk membangun keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat Nusantara.

Giri Prasta menegaskan bahwa pelestarian adat bukan berarti menutup diri dari kemajuan. Begitu pula menjaga tradisi tidak berarti menolak perkembangan zaman. “Bali boleh maju, tetapi kemajuannya jangan sampai menggerus akar budaya, adat, dan tradisi,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi melalui pengembangan desa digital. Digitalisasi dinilai dapat membantu transparansi berbagai kegiatan di banjar dan desa, termasuk pengelolaan dana kegiatan keagamaan sehingga masyarakat dapat mengetahui dan memantau penggunaan serta peruntukannya.

𝗛𝗨𝗧 𝗸𝗲-𝟯 𝗙𝗼𝗿𝗴𝗮𝘀 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗔𝗱𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗔𝗸𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗷𝘂𝗮𝗻

Giri Prasta mengajak seluruh jajaran Forgas di kabupaten/kota terus bergandengan tangan dengan Pemprov Bali dalam menjaga warisan leluhur. Kolaborasi yang telah terjalin selama tiga tahun diharapkan menjadi fondasi untuk memperluas kerja sama yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Ketua DPD Forgas Bali Kadek Arya Bagiastra menyampaikan komitmen organisasinya untuk berjalan beriringan dengan program dan visi Pemprov Bali, terutama dalam melestarikan serta melindungi adat dan budaya Bali dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai dan kultur masyarakat.

Memasuki usia tiga tahun, Forgas bertekad semakin solid dan dewasa serta berkontribusi dalam menjaga kedamaian, toleransi, dan keberagaman. Sinergi dengan desa adat akan diperkuat, termasuk melalui kaderisasi generasi muda agar tetap mengenal, menggunakan, dan melestarikan bahasa serta aksara Bali.

Forgas juga diarahkan menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai elemen kebudayaan Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Gerakan adat diharapkan tetap mampu menjaga akar budaya tanpa menjadi eksklusif, melainkan terbuka terhadap keberagaman dan perkembangan zaman.

Forgas hadir bukan untuk menolak kemajuan, tetapi memastikan kemajuan tidak menghapus identitas. Semangat tersebut sekaligus meneguhkan komitmen terhadap Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai perekat kehidupan berbangsa dan bernegara. (hms/ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar