DENPASAR, Lensabali.id - Rare Bali Culture Festival 2026 menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan seni budaya Bali sejak usia dini. Festival bertema "Yuga Dharma Lestari: Pengabdian Luhur untuk Melestarikan Budaya Sepanjang Masa" itu digelar pada 25–26 Juli 2026 di HEPI Garden, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur.
Festival perdana tersebut diikuti 132 peserta tingkat Sekolah Dasar (SD) dari berbagai kabupaten di Bali. Beragam lomba diselenggarakan sebagai sarana pengembangan bakat dan kreativitas, mulai dari megender berpasangan, tari condong, ogoh-ogoh mini, tapel, mesatua Bali, hingga peragaan busana adat Bali.
Ketua Panitia Kadek Reno Subudiawan mengatakan kegiatan ini lahir dari kepedulian terhadap semakin terbatasnya ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan budaya daerah di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat. Festival ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional yang dikemas melalui pendekatan seni dan budaya.
"Melalui festival ini kami ingin menghadirkan wadah yang edukatif sekaligus menyenangkan agar anak-anak semakin mencintai budaya Bali, mengembangkan kreativitas, serta membangun karakter sejak usia dini," ujar Reno.
Menurutnya, peserta usia 7 hingga 12 tahun dipilih karena fase tersebut merupakan masa penting dalam pembentukan karakter sekaligus penanaman kecintaan terhadap warisan budaya. Karena itu, festival dirancang tidak hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.
Selain mengasah kemampuan berkesenian, para peserta juga didorong untuk memahami nilai-nilai disiplin, sportivitas, tanggung jawab, dan rasa percaya diri. Penilaian lomba dilakukan oleh akademisi, praktisi seni, dan seniman yang berkompeten sesuai bidang masing-masing.
Antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta, dukungan orang tua, sekolah, hingga komunitas seni yang turut berpartisipasi. Peserta datang dari berbagai daerah di Bali, termasuk dari Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, yang menjadi daerah terjauh dalam ajang tersebut.
Reno berharap Rare Bali Culture Fest dapat menjadi langkah awal dalam mencetak generasi penerus seni budaya Bali. Menurutnya, pelestarian budaya harus dimulai dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk tampil, belajar, dan berkarya sejak dini.
"Kalau sejak kecil mereka sudah diberi kesempatan tampil dan berkarya, maka akan lahir generasi yang siap menjaga keberlanjutan seni budaya Bali," katanya.
Festival ini dibuka oleh perwakilan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar dan dihadiri unsur pemerintah, tokoh adat, perangkat desa, serta para sponsor. Ke depan, panitia berharap Rare Bali Culture Fest dapat menjadi agenda tahunan yang menjangkau lebih banyak peserta serta terus berkembang sebagai ruang pembinaan generasi muda pecinta budaya Bali. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar