KLUNGKUNG, Lensabali.id - Bupati Klungkung I Made Satria mengajak generasi muda untuk ikut menjaga dan melestarikan tradisi sakral warisan leluhur agar tetap hidup dan berkelanjutan di tengah perkembangan zaman. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri acara Mapeed Pengeluar/Ngelebar yang menjadi rangkaian terakhir Upacara Aci Sang Hyang Grodog di Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Sabtu (1/8).
Kehadiran Bupati Satria pada puncak pelaksanaan upacara tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Klungkung terhadap upaya pelestarian adat, seni, budaya, dan tradisi keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali.
Dalam sambutannya, Bupati Satria memberikan apresiasi kepada Krama Desa Adat Lembongan yang tetap konsisten menjaga keberlangsungan tradisi Aci Sang Hyang Grodog. Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan upacara tidak terlepas dari kuatnya semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat setempat.
Ia menilai Sang Hyang Grodog bukan sekadar pertunjukan seni budaya, melainkan ritual sakral yang memiliki nilai spiritual tinggi sebagai bentuk permohonan keselamatan, keharmonisan, dan keseimbangan kehidupan masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi tradisi Sang Hyang Grodog ini, apalagi telah memperoleh penghargaan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2024 dari Kementerian Kebudayaan RI. Mari kita jaga dan lestarikan bersama, khususnya bagi generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi kelak menjadi generasi penerus yang benar-benar mencintai seni dan budaya leluhur,” ujar Bupati Satria.
Menurutnya, pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk memastikan tradisi tersebut tetap lestari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Aci Sang Hyang Grodog, I Wayan Pijer, menjelaskan bahwa rangkaian upacara telah dimulai sejak 17 Juli 2026 melalui prosesi Matur Piuning. Selanjutnya dilaksanakan upacara Melaspas Taring pada 21 Juli 2026 sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan ritual utama.
Pementasan Aci Sang Hyang Grodog melibatkan berbagai jenis tari sakral Sang Hyang, di antaranya Sang Hyang Sampat, Sang Hyang Lingga, Sang Hyang Joged Bumbung, Sang Hyang Dukuh Ngabe Cicing-Jaran, Sang Hyang Dukuh Ngabe Bubu, Sang Hyang Enjo-enjo, Sang Hyang Tiling-tiling, hingga Sang Hyang Sumbul yang memiliki makna dan fungsi spiritual masing-masing.
Wayan Pijer menjelaskan bahwa Aci Sang Hyang Grodog merupakan ritual sakral yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali dan berlangsung selama sekitar 11 hingga 12 hari. Tradisi ini bertujuan menetralisir energi negatif, menolak bala maupun wabah penyakit yang dikenal dengan istilah sasih grubug, sekaligus memohon keselamatan dan keseimbangan alam semesta.
Melalui pelestarian tradisi seperti Aci Sang Hyang Grodog, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat identitas, nilai kebersamaan, dan spiritualitas yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat di Nusa Penida, khususnya Desa Lembongan. (*/ap)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar