Kamis, 19 Februari 2026
𝗔𝗸𝘀𝗶 “𝗕𝗲𝗿𝗴𝗲𝗿𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗮𝗴𝗶” 𝗱𝗶 𝗧𝗮𝗯𝗮𝗻𝗮𝗻, 𝗜𝗯𝘂 𝗣𝘂𝘁𝗿𝗶 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗧𝗶𝗴𝗮 𝗞𝗲𝗰𝗮𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗰𝗼𝗻𝘁𝗼𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗦𝗕𝗦
Senin, 24 November 2025
𝗜𝗯𝘂 𝗣𝘂𝘁𝗿𝗶 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗔𝗷𝗮𝗸 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗨𝗯𝗮𝗵 𝗠𝗶𝗻𝗱𝘀𝗲𝘁 𝗪𝘂𝗷𝘂𝗱𝗸𝗮𝗻 𝗟𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗶𝗵: 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗕𝘂𝗮𝗻𝗴 𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗵 𝗸𝗲 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗼𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗮𝘀𝗶𝘀 𝗦𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿

Camat Tejakula: Permasalahan Sampah Ancaman Serius
Menurutnya, PSBS PADAS menjadi langkah strategis untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat dari tingkat rumah tangga. “Regulasinya sudah ada, sekarang giliran kita masyarakat yang harus menindaklanjuti,” ujarnya, merujuk pada SE Gubernur Nomor 9 Tahun 2025 dan dua pergub pendukung.
Ia juga menyoroti praktik open dumping dan pembakaran yang selama ini menimbulkan masalah baru. Pengalaman di TPA Suwung disebut sebagai contoh buruk pengelolaan sampah yang tidak ditangani sejak awal. “Itu menjadi gunung sampah yang kini jadi musibah lingkungan,” katanya.
Dalam penjelasannya, ia memaparkan manfaat pengolahan sampah dengan komposter dan teba modern yang dapat menghasilkan pupuk tanpa bau. Menurutnya, sampah organik yang diolah justru memberi nilai tambah bagi pertanian.
Ia mengingatkan bahwa UU No. 18 Tahun 2008 sebenarnya sudah memberi landasan kuat, namun belum dijalankan dengan optimal. Jika aturan dilaksanakan dengan baik, permasalahan sampah tidak akan sebesar sekarang.
Camat Tejakula, Kadek Agus Hartika, menyampaikan bahwa masalah sampah kini menjadi ancaman bagi lingkungan dan keberlanjutan wilayah. Meski kecamatannya memiliki sembilan TPS3R dan bank sampah desa, ia mengakui pengelolaannya belum berjalan maksimal.
“Kita belum sepenuhnya melakukan pemilahan sampah mulai dari sumbernya,” ujarnya. Ia menilai kurangnya kesadaran masyarakat dan peran lembaga adat menjadi tantangan besar.
Ia berharap sosialisasi PSBS menjadi momentum peningkatan komitmen warga. Acara ini dihadiri pejabat provinsi, perbekel, serta TP PKK se-Kecamatan Tejakula.(hms/ap)
Jumat, 25 Juli 2025
𝗣𝗦𝗕𝗦 𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗗𝗲𝘀𝗮: 𝗦𝗶𝗻𝗲𝗿𝗴𝗶 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗪𝘂𝗷𝘂𝗱𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗼𝗹𝘂𝘀𝗶 𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗵 𝗕𝗲𝗿𝗸𝗲𝗹𝗮𝗻𝗷𝘂𝘁𝗮𝗻
GIANYAR, Lensabali.id – Komitmen penanganan sampah melalui pendekatan dari sumber terus digalakkan. Kali ini, dua kecamatan di Kabupaten Gianyar—Tegalalang dan Tampaksiring—menjadi fokus kegiatan konsolidasi dan sosialisasi program Pembatasan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) yang melibatkan lintas pemangku kepentingan, Jumat (25/7).
Kegiatan yang berlangsung di Wantilan Pura Dalem Kauh, Tegalalang, dan Kantor Desa Pejeng, Tampaksiring ini menghadirkan Prof. Dr. Ni Luh Kartini dari Tim PSBS Provinsi Bali sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menyebut krisis sampah saat ini telah mencapai titik kritis.
“Kita menghadapi ‘kiamat sampah’. Ketergantungan pada sistem TPA seperti Suwung sudah tak bisa dijadikan solusi jangka panjang,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari rumah tangga melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pelibatan masyarakat, serta penegakan regulasi daerah seperti Pergub Bali No. 47 Tahun 2019. Sampah organik, lanjutnya, dapat diolah secara mandiri melalui teba, komposter, atau buis modern, sementara anorganik diarahkan ke TPS3R, dan residu menjadi tanggung jawab pemerintah.
Camat Tegalalang, Wayan Ari Trisna Handayani, melaporkan bahwa enam dari tujuh desa di wilayahnya telah mengoperasikan TPS3R aktif dan satu rumah kompos. Jadwal pengangkutan sampah pun diatur ketat—sampah yang belum dipilah tidak akan diangkut.
“Kesadaran harus ditanamkan dari rumah. Bagi warga yang tak memiliki lahan, kami bangun teba modern berbentuk buis sebagai solusinya,” jelasnya.
Senada, Camat Tampaksiring, I Wayan Eka Mulya Adi Putra, menyampaikan bahwa meningkatnya volume sampah dan keterbatasan kapasitas TPA Temesi menjadikan pengelolaan berbasis sumber sebagai solusi mutlak. Ia menekankan bahwa perubahan hanya akan berhasil jika didukung oleh partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
“Lewat kegiatan ini, kami ingin menggugah kepedulian bersama agar pengelolaan sampah dimulai dari lingkungan terdekat: rumah masing-masing,” pungkasnya. (hms/ap)
Jumat, 18 Juli 2025
Ny. Putri Koster Ajak Masyarakat Ubud dan Payangan Bangkitkan Kesadaran Kolektif Atasi Persoalan Sampah

Gianyar, Lensabali.id - Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) PADAS Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, kembali menggaungkan pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber sebagai solusi nyata mengatasi persoalan sampah yang kian mengkhawatirkan di Bali. Dalam dua kegiatan sosialisasi yang berlangsung di Kecamatan Ubud dan Kecamatan Payangan, Gianyar, Jumat (18/7), ia mengajak seluruh lapisan masyarakat—terutama kepala desa, lurah, bendesa adat, dan para ibu—untuk bangkit membangun kesadaran kolektif dan bergerak bersama menyelamatkan lingkungan Bali. Sosialisasi juga dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Gianyar Ny. Surya Adnyani Mahayastra dan Tim Percepatan PSBS Provinsi Bali.
“Kalau semua sadar bahwa selama ini pengelolaan sampah di Bali salah, maka persoalan ini bisa segera dituntaskan,” tegasnya di hadapan peserta sosialisasi di LPD Desa Mas, Ubud. Ia menambahkan, sistem lama yang hanya mengumpulkan, mengangkut, lalu membuang ke TPA seperti Suwung, terbukti gagal menyelesaikan masalah. “Kita sudah 41 tahun hanya memindahkan sampah, bukan menyelesaikannya. Kalau terus begini, berapa lagi 'Suwung-Suwung baru' yang akan lahir di Bali?,” tambahnya.
Menurut Ibu Putri Koster, perubahan mindset masyarakat menjadi kunci. Ia menekankan pentingnya pemilahan sampah dari rumah, khususnya di daerah seperti Payangan yang memiliki pekarangan luas dan potensi pengolahan sampah organik secara mandiri. “Sampah bukan lagi urusan orang lain. Sampahku urusanku, sampahmu urusanmu. Kalau organik selesai di sumber, halaman bersih, desa bersih, dan kita mewariskan lingkungan yang lebih baik,” ujarnya. Ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran untuk tidak meninggalkan sampah di pura atau tempat suci, dan mengajak masyarakat membawa pulang sampah persembahan masing-masing.
Sementara itu, Camat Ubud, I Dewa Gede Pariyatna, melaporkan bahwa Kecamatan Ubud telah memiliki beberapa TPS3R yang beroperasi cukup baik, seperti di Desa Sayan, Singakerta, Mas, dan Padang Tegal, Ubud. Meski demikian, ia menyebutkan tantangan terbesar adalah keterbatasan lahan. Namun, berbagai desa tetap berinisiatif membangun teba modern, seperti Desa Singakerta yang pada tahun 2024 membangun 284 unit dan menargetkan 160 unit tambahan pada 2025.
Camat Payangan, A.A. Gde Raka Suryadiputra, mengungkapkan bahwa dari 9 desa dinas dan 48 desa adat di wilayahnya, sebanyak 8 desa telah memiliki TPS3R yang berfungsi dengan baik. Meski demikian, masih ada tantangan di lapangan, khususnya terkait pengelolaan residu dan pemasaran produk daur ulang yang belum optimal. Ia menambahkan bahwa upaya pembatasan plastik sekali pakai juga mulai diterapkan secara bertahap di seluruh desa di Kecamatan Payangan. (hms/ap)
Sabtu, 05 Juli 2025
Sasar Wanita Katolik, Duta PSBS PADAS Sosialisasikan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber

Denpasar, lensabali.id - Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber Palemahan Kedas (PSBS PADAS), Ny. Putri Suastini Koster, bersama Kelompok Kerja Pembatasan Penggunaan Plastik Sekali Pakai dan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (Pokja PSP PSBS), mengintensifkan sosialisasi guna mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang lebih tepat dan efektif. Pada Sabtu (5/7/2025), Ny. Putri Koster melaksanakan sosialisasi di Gereja Yesus Gembala Yang Baik, Ubung, Denpasar, yang melibatkan anggota Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPD Bali-NTB.
Mengawali paparannya, Ny. Putri Koster memberikan gambaran tentang kondisi Bali pada tahun 1980 yang belum menghadapi kendala besar dalam penanganan sampah. "Saya ingat, zaman itu sampah bisa diselesaikan di tingkat rumah tangga karena volumenya, khususnya sampah plastik, belum seperti sekarang," ujarnya. Sejak tahun 1984, pemerintah mulai menerapkan sistem pengelolaan baru dengan membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kawasan Suwung. Sampah dari berbagai sumber diangkut dan dibuang ke TPA tanpa pengelolaan, sehingga menciptakan gunungan sampah. Saat ini, tumpukan sampah tersebut menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan dan mengancam kesehatan masyarakat.
Masih dalam arahannya, perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Provinsi Bali ini mengajak para ibu anggota komunitas gereja untuk kembali pada pola lama dalam mengelola sampah. “Selesaikan sampah di sumbernya. Sampah rumah tangga selesaikan di rumah, sampah di tempat ibadah selesaikan di tempat, begitu pula di pasar, sekolah, dan sumber-sumber lainnya,” tegasnya.
Untuk menyukseskan program PSBS, wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Dekranasda Bali ini menawarkan tiga langkah efektif, yakni: pemanfaatan tong komposter untuk mengolah sampah dapur (organik dan residu makanan), pembangunan teba modern untuk penanganan sampah organik di halaman rumah, serta pengoptimalan TPST dan TPS3R guna mengolah sampah anorganik dengan konsep Reduce, Reuse, dan Recycle. Ia sangat berharap peran aktif para anggota WKRI dalam menyukseskan program PSBS PADAS.
Masih dalam pemaparannya, Ny. Putri Koster juga mengingatkan masyarakat agar bersiap mengantisipasi rencana penutupan TPA Suwung secara bertahap. "Rencananya mulai Agustus ini, TPA Suwung tidak lagi menerima sampah organik. Jadi, ibu-ibu harus segera bersiap," tandasnya.
Menambahkan penjelasan Ny. Putri Koster, Koordinator Pokja PSP PSBS, Dr. Luh Riniti Rahayu, mengungkapkan bahwa pemerintah pusat telah mengeluarkan surat peringatan agar Bali segera menutup TPA Suwung. "Suratnya tertanggal 24 Juni 2025. Bali diberi waktu 180 hari untuk menutup TPA Suwung. Artinya, pada 24 Desember 2025, TPA tersebut harus sudah ditutup," sebutnya. Luh Riniti menambahkan bahwa keberadaan TPA Suwung kini telah melanggar ketentuan undang-undang karena menjadi ancaman serius bagi lingkungan. "Gunungan sampah sudah mencapai 35 meter di atas lahan seluas 32,4 hektare. Ini menyebabkan polusi yang sangat parah," jelasnya.
Karena itu, penyelesaian persoalan sampah menjadi perhatian serius Gubernur Bali, Wayan Koster. "Ini merupakan program superprioritas yang mendesak. Artinya, kondisi sampah sudah sangat darurat," katanya. Ia yang ditunjuk sebagai Koordinator Pokja PSP PSBS akan terus bergerak mempercepat terwujudnya Bali bebas sampah. Kegiatan sosialisasi ini juga diisi oleh pemaparan anggota Pokja PSP PSBS, Prof. Ni Luh Kartini, yang menjelaskan dampak pencemaran lingkungan akibat tata kelola sampah yang buruk. Selain itu, Prof. Kartini juga memaparkan cara pembuatan eco enzyme menggunakan tong komposter.
Ketua Presidium WKRI DPD Bali-NTB, Nisa Setiati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan HUT WKRI ke-101. "Untuk wilayah Bali-NTB, ada 14 DPC dan 36 ranting," ungkapnya. Melampaui usia satu abad, WKRI Bali ingin semakin memberi makna dan menjadi mitra kerja pemerintah dalam menjalankan berbagai program pembangunan. "Di Bali, kami ingin menjadi mitra pemerintah dalam gerakan Bali Bersih Sampah," pungkasnya. (hms/ap)


.jpeg)

.jpeg)