LENSA BALI: Peternakan

Hot


Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2026

𝗣𝗿𝗮𝗯𝗼𝘄𝗼 𝗞𝗲𝗷𝗮𝗿 𝗦𝘄𝗮𝘀𝗲𝗺𝗯𝗮𝗱𝗮 𝗗𝗮𝗴𝗶𝗻𝗴 𝗦𝗮𝗽𝗶, 𝗗𝗶𝘁𝗮𝗿𝗴𝗲𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗰𝗮𝗽𝗮𝗶 𝟱-𝟲 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻

Agustus 14, 2026 0
Prabowo Kejar Swasembada Daging Sapi, Ditargetkan Tercapai 5-6 Tahun

JAKARTA, Lensabali.id – Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia mampu mencapai swasembada daging sapi dalam lima hingga enam tahun mendatang. Target tersebut disampaikan saat Prabowo memaparkan capaian dan arah kebijakan pangan nasional dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 dan Sidang Bersama MPR RI, DPR RI, serta DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (14/8/2026).

"Kita masih belum swasembada daging, itu akan kita kerjakan yang insyaallah bisa kita capai dalam 5-6 tahun ke depan," kata Prabowo dalam pidatonya.

Di tengah upaya mengejar kemandirian daging sapi, Prabowo menyebut pemerintah telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan. Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.

"Tahun ini kita sudah swasembada 8 komoditas pangan. Swasembada beras, swasembada jagung, swasembada gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit," ujar Prabowo.

Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, penyuluh pertanian, kementerian dan lembaga lainnya hingga pemerintah daerah.

Prabowo juga menyebut dukungan TNI dan Polri turut berperan dalam mendorong pencapaian tersebut. Ia menilai keberhasilan Indonesia memperkuat ketahanan pangan merupakan hasil semangat gotong royong.

"Menteri Pertanian, penyuluh pertanian, didukung oleh banyak kementerian lain, didukung Pemda, TNI dan Polri, semuanya semangat gotong royong kita mencapai suatu prestasi yang diakui dunia," tegasnya.

Dengan capaian tersebut, pemerintah kini akan melanjutkan penguatan produksi pangan, termasuk sektor peternakan sapi. Target swasembada daging sapi dalam lima hingga enam tahun menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan nasional. (ap)
Read More

Rabu, 05 Agustus 2026

𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗕𝗶𝗻𝗮𝗮𝗻 𝗟𝗮𝗽𝗮𝘀 𝗧𝗮𝗯𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗹𝗼𝗹𝗮 𝗣𝗲𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗔𝘆𝗮𝗺 𝗣𝗲𝘁𝗲𝗹𝘂𝗿 𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗺𝗽𝗶𝘁

Agustus 05, 2026 0
Warga Binaan Lapas Tabanan Kelola Peternakan Ayam Petelur di Lahan Sempit

KLUNGKUNG, Lensabali.id - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tabanan memanfaatkan lahan yang terbatas untuk mengembangkan peternakan ayam petelur sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan. Program tersebut telah berjalan sekitar delapan bulan dan mampu memberikan manfaat bagi pelatihan keterampilan sekaligus mendukung kebutuhan pangan di lingkungan lapas.

Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, mengatakan peternakan itu dikelola langsung oleh warga binaan yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan. Saat ini, sebanyak 114 ekor ayam petelur dipelihara secara rutin dengan produksi rata-rata mencapai 90 butir telur setiap hari.

"Hasil panen tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kegiatan tata boga pada program kegiatan kerja. Sementara sebagian lainnya dipasarkan kepada petugas lapas," ujar Prawira, Selasa (4/8/2026).

Menurut Prawira, peternakan ayam petelur tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga menjadi sarana pembekalan keterampilan praktis bagi warga binaan agar memiliki bekal saat kembali ke masyarakat.

Program ini sekaligus mendukung upaya memperkuat ketahanan pangan internal lapas melalui pemanfaatan lahan yang tersedia secara maksimal. Meski berada di area yang terbatas, kegiatan peternakan tetap mampu berjalan produktif dan berkelanjutan.

"Kami ingin setiap potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal demi menciptakan pembinaan yang makin berkualitas," ujar Prawira.

Melalui program tersebut, Lapas Tabanan berharap pembinaan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter, tetapi juga meningkatkan kemampuan dan kemandirian warga binaan melalui kegiatan yang produktif dan bernilai ekonomis. (ap)
Read More

Selasa, 09 Juni 2026

𝗘𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗞𝗲𝗰𝗮𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗧𝗮𝗯𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗮𝗺𝗶 𝗗𝗲𝗳𝗶𝘀𝗶𝘁 𝗣𝗮𝘀𝗼𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗯𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗚𝗮𝗹𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻

Juni 09, 2026 0

Empat Kecamatan di Tabanan Alami Defisit Pasokan Babi Menjelang Galungan

TABANAN, Lensabali.id – Menjelang perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, empat kecamatan di Kabupaten Tabanan tercatat mengalami defisit pasokan babi. Kondisi tersebut terjadi karena jumlah kebutuhan masyarakat lebih tinggi dibandingkan ketersediaan ternak yang ada di wilayah masing-masing.

Data Dinas Pertanian (Distan) Tabanan menunjukkan Kecamatan Pupuan membutuhkan 529 ekor babi, sementara ketersediaannya hanya 299 ekor. Di Kecamatan Kerambitan, kebutuhan mencapai 404 ekor dengan pasokan tersedia sebanyak 197 ekor.

Situasi serupa juga terjadi di Kecamatan Tabanan yang membutuhkan 419 ekor babi, sedangkan ketersediaannya hanya 232 ekor. Adapun Kecamatan Kediri mencatat kebutuhan 509 ekor dengan stok yang tersedia sebanyak 284 ekor.

Kepala Bidang Ternak dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tabanan, Gede Eka Parta Ariana, menjelaskan bahwa keterbatasan pasokan dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berbeda di masing-masing wilayah.

Menurutnya, keterbatasan lahan untuk beternak menjadi salah satu penyebab rendahnya populasi babi di Kecamatan Tabanan dan Kediri.

Sementara itu, masyarakat di Kecamatan Pupuan cenderung lebih banyak memelihara kambing dibandingkan babi. Kondisi yang hampir sama juga terjadi di Kecamatan Kerambitan, di mana jumlah peternak babi relatif sedikit.

Meski demikian, secara keseluruhan ketersediaan babi di Kabupaten Tabanan masih berada dalam kondisi aman dan bahkan surplus.

"Total ketersediaan babi mencapai 7.887 ekor, sementara kebutuhan 4.759 ekor," ujar Eka Parta Ariana saat dikonfirmasi, Senin (08/06/2026).

Untuk mengatasi ketimpangan pasokan tersebut, Distan Tabanan menerapkan skema distribusi antar-kecamatan. Wilayah dengan populasi ternak berlebih akan menyuplai kebutuhan ke daerah yang mengalami kekurangan.

"Di Penebel ada 3.627 ekor, Baturiti 2.005 ekor, dan Marga 1.630 ekor. Ketiga wilayah ini diproyeksikan menyuplai kebutuhan ke wilayah yang mengalami kekurangan," tegas Eka Parta Ariana.

Selain memastikan distribusi berjalan lancar, Distan Tabanan juga memperketat pengawasan kesehatan ternak dengan menyiapkan 18 dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan mulai 12/06/2026. (ap)
Read More

Rabu, 03 Juni 2026

𝗖𝗲𝗴𝗮𝗵 𝗔𝗦𝗙, 𝗣𝗲𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝗸 𝗕𝗮𝗯𝗶 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗗𝗶𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗚𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗶𝘀𝗮 𝗛𝗼𝘁𝗲𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗥𝗲𝘀𝘁𝗼𝗿𝗮𝗻

Juni 03, 2026 0
Cegah ASF, Peternak Babi di Badung Dilarang Gunakan Pakan Sisa Hotel dan Restoran

BADUNG, Lensabali.id – Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) memperketat langkah pencegahan terhadap penyebaran African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah melarang peternak menggunakan sisa makanan dari hotel, restoran, maupun warung sebagai pakan ternak.

Langkah tersebut dilakukan menyusul munculnya laporan kematian mendadak pada ternak babi di sejumlah wilayah yang memicu peningkatan kewaspadaan pemerintah daerah terhadap ancaman penyakit tersebut.

Kepala Disperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, mengatakan pihaknya telah menurunkan tim kesehatan hewan untuk melakukan pemantauan langsung ke sentra-sentra peternakan babi di Badung.

"Kami menerjunkan tim Keswan untuk ngecek ke kantong-kantong peternakan babi di Badung. Kami harus memastikan kondisi kesehatan ternak warga tetap terjaga," kata Raka Sukadana, Selasa (02/06/2026).

Menurutnya, upaya pengawasan itu merupakan tindak lanjut dari kebijakan pemerintah pusat yang mengimbau daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan kasus ASF di kawasan Asia Pasifik.

Selain memperkuat pengawasan, Disperpa juga meminta peternak memperketat pengendalian akses keluar masuk kandang guna mengurangi risiko masuknya virus dari luar lingkungan peternakan.

"Kami juga memperketat sistem pembatasan dan pengawasan akses keluar masuk kandang guna meminimalkan pembawa virus dari luar. Kami sudah sampaikan titik poin dari pemahaman bahaya ASF, gejala klinis, hingga jalur penularannya," ujarnya.

Pemerintah daerah juga mewajibkan peternak melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin pada kandang dan seluruh sarana pendukung peternakan.

"Kami mewajibkan penyemprotan cairan disinfektan pada area kandang dan sarana prasarana peternakan secara berkala. Kami juga melarang keras praktik swill feeding atau pemberian pakan dari sisa makanan hotel, restoran, maupun warung karena disinyalir menjadi jalur utama penyebaran virus," tegasnya.

Disperpa Badung mengimbau peternak segera melaporkan apabila menemukan gejala yang mengarah pada ASF. Seluruh Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di setiap kecamatan kini disiagakan untuk menerima laporan dan melakukan penanganan cepat. (ap)
Read More

Kamis, 21 Mei 2026

𝗗𝗶𝗱𝘂𝗴𝗮 𝗧𝗲𝗿𝘀𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗔𝗦𝗙, 𝟲𝟬 𝗕𝗮𝗯𝗶 𝗦𝗶𝗮𝗽 𝗣𝗮𝗻𝗲𝗻 𝗱𝗶 𝗖𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗠𝗮𝘁𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗱𝗮𝗱𝗮𝗸

Mei 21, 2026 0
Diduga Terserang ASF, 60 Babi Siap Panen di Canggu Mati Mendadak

BADUNG, Lensabali.id – Seorang peternak babi di Banjar Kayu Tulang, Canggu, Badung, mengalami kerugian besar setelah seluruh ternaknya mati mendadak. Sebanyak 60 ekor babi yang telah siap panen diduga terserang African Swine Fever (ASF).

“Semua babi peliharaan saya mati. Nggak ada yang sisa sama sekali di kandang. Totalnya ada itu 60 ekor,” ujar peternak, Ketut Widanta, Kamis (21/5/2026).

Widanta menjelaskan kematian ternak terjadi secara bertahap dengan gejala seragam. Ia menyebut kejadian serupa telah beberapa kali menimpa usaha peternakannya sejak 2018.

“Babi saya sudah pernah kejadian mati mendadak lima kali sejak tahun 2018 lalu. Gejalanya selalu sama, muncul bintik merah, nggak mau makan,” katanya.

Menurut Widanta, gejala paling terlihat ialah perubahan warna kulit menjadi kemerahan. Ia menduga penyakit tersebut menular sangat cepat hingga seluruh populasi kandang terinfeksi hanya dalam beberapa hari.

“Penyakit yang saya duga ASF ini biasanya sudah tertular sekitar satu minggu. Penularannya cepat beberapa hari, kalau satu ekor kena, semua pasti kena,” ungkapnya.

Puluhan bangkai babi kemudian dikubur untuk mencegah penyebaran penyakit lebih luas. Widanta mengaku hanya bisa pasrah karena hingga kini belum ada obat maupun vaksin yang efektif untuk menyembuhkan ASF.

“Padahal babi saya ini beratnya sudah sekitar 150 kilogram per ekor. Posisinya sudah siap panen, malah mati,” keluhnya.

Ia menuturkan selama ini rutin menjaga kebersihan kandang dan melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala. Selain pakan ternak, babi-babinya juga diberi sisa makanan dari restoran sekitar.

Widanta menduga virus masuk melalui mobilitas hewan maupun aktivitas manusia yang membawa agen penyakit dari luar peternakan. Ia juga menyoroti penggunaan kendaraan atau kandang angkut yang kurang higienis sebagai potensi penyebaran.

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan wabah ASF tersebut. (ap)
Read More