KLUNGKUNG, Lensabali.id - Keterbatasan akses transportasi laut masih menjadi tantangan besar bagi distribusi logistik menuju tiga pulau di Kecamatan Nusa Penida, yakni Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Hingga kini, warga di dua pulau terakhir masih sangat bergantung pada kapal kayu tradisional untuk mengangkut berbagai kebutuhan pokok dan material pembangunan.
Minimnya layanan kapal Roll-on/Roll-off (Ro-ro) menjadi salah satu penyebab utama. Kapal penyeberangan berkapasitas besar yang beroperasi dari Pelabuhan Padangbai, Karangasem, masih memiliki jadwal terbatas dan hanya melayani rute menuju Pulau Nusa Penida.
Akibatnya, masyarakat di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan harus mencari alternatif dengan memanfaatkan kapal kayu tradisional. Tidak hanya mengangkut sembako dan bahan bangunan, kapal-kapal tersebut juga digunakan untuk menyeberangkan kendaraan roda dua, mobil, hingga truk.
Di sejumlah pelabuhan rakyat seperti Tribuana, Banjar Bias, dan Angkal, aktivitas bongkar muat menggunakan kapal kayu telah menjadi pemandangan sehari-hari. Kapal berukuran sedang itu mampu membawa muatan hingga 15 ton untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di pulau-pulau seberang.
Koordinator Buruh Angkut Barang di kawasan pesisir Kusamba, Ardimas, mengatakan pengiriman material bangunan masih berlangsung hampir setiap hari. Namun pengangkutan kendaraan besar, terutama truk, tidak dilakukan secara rutin karena tingkat risikonya sangat tinggi.
Proses menaikkan kendaraan ke atas kapal membutuhkan tenaga puluhan buruh. Mereka harus memasang papan kayu sebagai jembatan penghubung antara daratan dan kapal, sementara kendaraan perlahan melintas di tengah hempasan ombak yang cukup besar.
Kondisi Pantai Kusamba yang dikenal memiliki gelombang kuat membuat proses tersebut berlangsung penuh ketegangan. Kesalahan kecil dapat menyebabkan kendaraan tercebur ke laut atau bahkan mengganggu keseimbangan kapal.
Besarnya risiko itu membuat biaya penyeberangan kendaraan menjadi sangat mahal. Untuk satu unit truk bermuatan, ongkos pengangkutan bisa mencapai Rp 7 juta. Apabila terjadi kecelakaan saat proses pemuatan, kerugian juga harus ditanggung oleh pihak yang menangani pengangkutan.
Selain menghadapi risiko keselamatan, operasional kapal kayu juga sangat bergantung pada kondisi cuaca. Saat gelombang tinggi atau cuaca buruk, distribusi logistik dapat terhambat karena kapal tradisional tidak memiliki kemampuan yang sama dengan kapal penyeberangan modern.
Pemerintah Kabupaten Klungkung berupaya mengatasi persoalan tersebut melalui pembangunan Pelabuhan Pesinggahan. Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarpulau dengan memperbanyak layanan kapal Ro-ro sehingga distribusi barang, mobilitas masyarakat, aktivitas pariwisata, hingga kegiatan ekonomi dapat berjalan lebih lancar.
Bupati Klungkung I Made Satria bahkan telah melakukan koordinasi langsung dengan Mahkamah Pelayaran Kementerian Perhubungan guna mempercepat realisasi proyek tersebut. Pemerintah pusat juga menyatakan dukungan dengan memberikan pendampingan dari sisi regulasi dan keselamatan pelayaran.
Jika terealisasi sesuai rencana, Pelabuhan Pesinggahan diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan logistik yang selama ini dihadapi masyarakat Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan, sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi di wilayah kepulauan tersebut. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar