TABANAN, Lensabali.id - Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Provinsi Bali terus memperkuat upaya perlindungan perempuan dan anak, terutama pada masa remaja yang menjadi fase penting dalam pembentukan karakter dan masa depan.
Ketua Forum PUSPA Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, menegaskan bahwa salah satu persoalan yang kerap memicu berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah pernikahan dini, yang umumnya terjadi ketika remaja belum siap secara usia, mental, maupun ekonomi.
Pernikahan pada usia muda sering kali dipicu oleh hubungan seksual di luar nikah yang dilakukan tanpa pemahaman memadai mengenai dampak yang ditimbulkan. Kondisi tersebut kerap dipengaruhi rasa penasaran serta kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.
Untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif, Forum PUSPA Provinsi Bali menggelar sosialisasi pencegahan perkawinan anak di SMA Negeri 1 Penebel, Tabanan, Senin (6/4).
Dalam kesempatan tersebut, Ny. Seniasih menegaskan bahwa pengetahuan mengenai seksualitas tidak seharusnya dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibahas di kalangan remaja.
“Kita jangan malu membahas pengetahuan tentang seks, karena dengan mengetahui dampak dan bahaya seks bebas atau seks di luar nikah akan memberikan pemahaman sejak dini. Kita tidak boleh menutup telinga dan diri untuk mencari tahu bahaya serta dampaknya,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa hubungan seksual di luar pernikahan dapat membawa berbagai konsekuensi serius, terutama bagi remaja putri yang berisiko mengalami kehamilan tidak direncanakan.
Selain memengaruhi kesehatan reproduksi dan kondisi bayi yang dilahirkan, pernikahan yang terjadi akibat kehamilan juga dapat menghambat masa depan remaja yang seharusnya masih memiliki kesempatan luas untuk merencanakan kehidupan secara matang.
Lebih lanjut, Ny. Seniasih menekankan pentingnya sikap tanggung jawab apabila kondisi tersebut terjadi.
“Menikah muda akibat ‘kecelakaan’ atau kehamilan di luar nikah akan berdampak pada ketidaksiapan mental dan ekonomi bagi calon pasangan. Hal ini kerap memicu perselisihan, pertengkaran, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian,” imbuhnya.
Ia pun mengingatkan para pelajar agar tetap memprioritaskan pendidikan serta membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat menunjang masa depan.
Selain itu, Ny. Seniasih juga mengingatkan agar para remaja menggunakan telepon genggam secara bijak, mengingat perangkat tersebut membuka akses luas terhadap berbagai informasi, hiburan, maupun permainan.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ni Kadek Anggradewi, yang menjelaskan bahwa pernikahan dini memiliki risiko serius bagi kesehatan reproduksi remaja.
Menurutnya, rahim yang belum matang berpotensi tidak mampu menopang janin secara optimal sehingga meningkatkan risiko keguguran atau kelahiran prematur.
Sementara itu, psikolog dari Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Daerah Bali, Yande Prayoga, mengingatkan para remaja agar tetap fokus pada cita-cita yang ingin diraih.
Dengan menjaga tujuan hidup, remaja diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh hubungan asmara yang berpotensi mendorong perilaku berisiko, termasuk seks bebas, yang dapat berdampak pada kesehatan mental serta masa depan mereka. (hms/ap)

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar