BADUNG, Lensabali.id - Permasalahan sampah di Kabupaten Badung kembali menjadi perhatian serius. Ketergantungan besar terhadap sektor pariwisata sebagai sumber utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) membuat isu ini dinilai harus segera ditangani secara komprehensif.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Badung I Made Sada menekankan pentingnya sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Bali, dan Pemerintah Kabupaten Badung dalam mempercepat penanganan sampah.
Menurutnya, keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) belum dapat menjadi solusi jangka pendek karena diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun sebelum dapat beroperasi.
Pernyataan tersebut disampaikan usai rapat kerja Komisi II DPRD Badung bersama empat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Badung 2025, yang digelar di Ruang Gosana III Kantor Sekretariat DPRD Badung, Kamis (9/4/2026).
Made Sada menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Badung sebenarnya telah melakukan berbagai langkah, salah satunya melalui Peraturan Daerah tentang pemilahan sampah sejak 2013.
“Kita di Badung sudah berupaya untuk melaksanakan apa yang menjadi harapan pusat, yang pertama kita juga melaksanakan Perda di Badung tahun 2013 tentang pemilahan sampah,” ujarnya.
Ia menilai pemilahan sampah dari sumbernya akan mempercepat proses penguraian serta pengolahan menjadi pupuk organik. Namun di tengah kondisi darurat sampah, Badung masih membutuhkan solusi cepat sembari menunggu PSEL beroperasi.
Made Sada juga menyoroti sejumlah mesin pengolah sampah yang telah dimiliki Badung namun belum dapat dioperasikan karena belum memperoleh izin dari pemerintah pusat.
“Karena kita sudah punya mesin-mesin hingga saat ini belum ada izin. Itu harus ada izin dari pusat supaya bisa cepat dioperasionalkan,” jelasnya.
Selain itu, ia juga berharap adanya dukungan anggaran dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi, mengingat biaya operasional satu unit mesin pengolah sampah dapat mencapai Rp5 juta per hari.
Lebih jauh, Made Sada mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat merusak citra pariwisata Bali di mata dunia.
“Jangan sampai masalah sampah menjadi Travel Warning bagi kita, karena sampah yang tidak terurus dapat memicu munculnya penyakit,” tegasnya. (*/ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar