𝗕𝗠𝗞𝗚: 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸𝗶 𝗣𝗮𝗻𝗰𝗮𝗿𝗼𝗯𝗮, 𝗛𝘂𝗷𝗮𝗻 𝗟𝗼𝗸𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗻𝗴𝗶𝗻 𝗞𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝗹𝘂 𝗗𝗶𝘄𝗮𝘀𝗽𝗮𝗱𝗮𝗶 - LENSA BALI

Hot


Kamis, 12 Maret 2026

𝗕𝗠𝗞𝗚: 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸𝗶 𝗣𝗮𝗻𝗰𝗮𝗿𝗼𝗯𝗮, 𝗛𝘂𝗷𝗮𝗻 𝗟𝗼𝗸𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗻𝗴𝗶𝗻 𝗞𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝗹𝘂 𝗗𝗶𝘄𝗮𝘀𝗽𝗮𝗱𝗮𝗶

BMKG: Bali Memasuki Pancaroba, Hujan Lokal dan Angin Kencang Perlu Diwaspadai

BADUNG, Lensabali.id - Wilayah Bali pada Maret 2026 secara klimatologis mulai memasuki masa peralihan atau pancaroba dari musim hujan menuju musim kemarau. Pada fase ini, kondisi cuaca cenderung berubah cepat karena atmosfer yang tidak stabil.

Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri, menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Bali diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Sebelum memasuki periode tersebut, Bali lebih dulu melewati masa transisi yang dikenal sebagai pancaroba.

“Wilayah Bali pada bulan Maret 2026 secara klimatologis sudah mulai memasuki periode musim peralihan (pancaroba) dari musim penghujan menuju musim kemarau. Hal ini sejalan dengan prediksi bahwa sebagian besar wilayah Bali akan mulai memasuki musim kemarau pada bulan April 2026,” ujarnya, Rabu (11/3).

Menurut Aminudin, pada masa pancaroba kondisi atmosfer umumnya lebih labil karena adanya perubahan pola angin serta dinamika atmosfer dari musim hujan menuju musim kemarau. Situasi ini membuat kondisi cuaca di Bali dapat berubah dalam waktu singkat.

Ia menjelaskan, salah satu ciri cuaca pada masa pancaroba adalah perubahan kondisi yang cepat, misalnya dari cerah tiba-tiba menjadi hujan. Hujan yang terjadi juga cenderung bersifat lokal dan tidak merata.

Artinya, dalam waktu bersamaan satu wilayah dapat diguyur hujan sementara wilayah lain tetap cerah. Intensitas hujan umumnya berkisar sedang hingga lebat namun berlangsung relatif singkat.

Selain itu, pada masa pancaroba juga sering terbentuk awan konvektif jenis Cumulonimbus yang berpotensi memicu hujan lebat disertai petir atau kilat. Kondisi ini juga kerap diikuti angin kencang yang muncul secara tiba-tiba.

“Suhu udara pada siang hari juga cenderung terasa lebih panas karena meningkatnya pemanasan permukaan bumi. Angin kencang yang bersifat tiba-tiba dan berdurasi singkat juga sering terjadi saat pertumbuhan awan konvektif,” jelas Aminudin.

Ia menambahkan, meskipun Bali mulai memasuki masa peralihan, potensi cuaca ekstrem masih cukup tinggi. Kondisi atmosfer pada periode ini masih memungkinkan terbentuknya awan hujan yang signifikan.

Beberapa fenomena cuaca yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain hujan sedang hingga lebat dalam durasi singkat, petir atau kilat, serta angin kencang yang dapat muncul secara mendadak.

Aminudin juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah Bali bagian tengah dan utara hingga pertengahan Maret 2026. Daerah tersebut dinilai lebih berpotensi mengalami hujan karena faktor topografi pegunungan yang mendukung pertumbuhan awan hujan lebih intens.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat pada masa pancaroba ini,” harapnya. (*/apn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar