𝗛𝗮𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗜𝗺𝗹𝗲𝗸 𝗜𝗡𝗧𝗜 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗧𝗲𝗴𝗮𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗺𝗼𝗻𝗶 𝗧𝗶𝗼𝗻𝗴𝗵𝗼𝗮–𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀 𝗩𝗶𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗘𝗿𝗮 𝗕𝗮𝗿𝘂 - LENSA BALI

Hot


Sabtu, 21 Februari 2026

𝗛𝗮𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗜𝗺𝗹𝗲𝗸 𝗜𝗡𝗧𝗜 𝗕𝗮𝗹𝗶, 𝗪𝗮𝗴𝘂𝗯 𝗚𝗶𝗿𝗶 𝗣𝗿𝗮𝘀𝘁𝗮 𝗧𝗲𝗴𝗮𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗺𝗼𝗻𝗶 𝗧𝗶𝗼𝗻𝗴𝗵𝗼𝗮–𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗦𝗲𝗹𝗮𝗿𝗮𝘀 𝗩𝗶𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗘𝗿𝗮 𝗕𝗮𝗿𝘂

Hadiri Imlek INTI Bali, Wagub Giri Prasta Tegaskan Harmoni Tionghoa–Bali Selaras Visi Bali Era Baru

DENPASAR, Lensabali.id – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek yang digelar Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali di Hongkong Garden, Sanur, Jumat (20/2). Dalam kesempatan tersebut, ia membacakan sambutan tertulis Gubernur Bali, Wayan Koster, yang menegaskan eratnya hubungan historis dan kultural antara masyarakat Tionghoa dan Bali.

Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan bahwa relasi persaudaraan Tionghoa dan Bali telah terjalin sejak ratusan tahun silam, melahirkan akulturasi budaya yang unik dan harmonis.

“Akulturasi budaya Tionghoa dan Bali dapat kita lihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari arsitektur pura, penggunaan pis bolong dalam upacara, seni, hingga tradisi dan kuliner. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa napas kebersamaan telah tumbuh dan menyatu dalam harmoni,” kata Wagub.

Keberadaan INTI Bali dinilai memiliki peran strategis dalam mempererat persatuan sekaligus mendorong kontribusi aktif masyarakat Tionghoa bagi keutuhan bangsa. Semangat tersebut sejalan dengan visi pembangunan Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.

Mengusung tema “Satu Langkah, Banyak Warna, Merajut Kebersamaan”, perayaan tahun ini dimaknai sebagai refleksi atas keberagaman yang menjadi kekuatan Bali. Momentum Imlek diharapkan tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi ruang memperkuat sinergi dalam mendorong ekonomi kerakyatan melalui kolaborasi dengan UMKM, menjaga stabilitas sosial, serta mengawal visi 100 Tahun Bali Era Baru (2025–2125).

“Tidak ada mayoritas atau minoritas. Yang ada adalah kebersamaan sebagai bagian dari keluarga besar Indonesia,” tegasnya.

Ketua INTI Bali, Putu Agung Prianta, menambahkan bahwa Imlek bukan sekadar pergantian kalender, tetapi momentum mempererat solidaritas.

“Indonesia tidak dibangun oleh satu warna, melainkan oleh keberanian banyak warna untuk berjalan bersama,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan jejak panjang relasi Tionghoa dan Bali sejak era Dinasti Tang, termasuk kisah perkawinan raja Bali dengan putri Tiongkok Kang Ching Wie sebagai simbol perjumpaan budaya. Ornamen arsitektur, kehidupan sosial, hingga kuliner menjadi saksi bahwa keberagaman telah menyatu secara alami dalam keseharian masyarakat Bali.

Memasuki Tahun Kuda Api, simbol yang melambangkan energi, keberanian, dan kemandirian, ia mengajak seluruh elemen masyarakat melangkah maju dengan semangat nasionalisme, kolaborasi, dan inklusivitas.

Sementara itu, Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Zhang Zhisheng, menyampaikan bahwa Tiongkok dan Indonesia merupakan kekuatan penting di kawasan Global Selatan. Ia menilai hubungan bilateral kedua negara terus berkembang dan memasuki fase baru yang saling menguntungkan.

Data perdagangan tahun 2025 menunjukkan total nilai perdagangan bilateral mencapai USD 167,5 miliar atau naik 13,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Ekspor Indonesia ke Tiongkok tercatat USD 82,2 miliar, meningkat 15,6 persen.

Hadiri Imlek INTI Bali, Wagub Giri Prasta Tegaskan Harmoni Tionghoa–Bali Selaras Visi Bali Era Baru

Di sektor pariwisata, 1,34 juta wisatawan Tiongkok daratan berkunjung ke Indonesia sepanjang 2025, dengan 537.000 di antaranya memilih Bali—naik 19 persen dibanding 2024.

“Kami berharap kerja sama pragmatis di berbagai bidang akan berkembang lebih cepat dan lebih baik di Tahun Kuda, seperti kuda yang berlari kencang,” ujarnya.

Perayaan Imlek berlangsung meriah dan sarat tradisi. Prosesi yu sheng—tradisi mengaduk hidangan bersama sebagai simbol rezeki dan kemakmuran—menjadi salah satu momen yang penuh makna. Para undangan mengangkat sumpit tinggi-tinggi sebagai lambang harapan akan peningkatan keberuntungan di tahun baru.

Pertunjukan barongsai dan liong, tarian tradisional Tionghoa, serta alunan musik bernuansa oriental menambah semarak suasana. Dominasi warna merah dan emas memperkuat simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Perayaan juga diisi doa bersama demi kesehatan, keharmonisan, serta kemajuan Bali dan Indonesia. (hms/ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar