BADUNG, Lensabali.id - Upaya pengelolaan sampah secara mandiri mulai digencarkan masyarakat Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung. Salah satu langkah konkret dilakukan dengan mengoptimalkan peran Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) Sarwa Metu Wangi yang beroperasi di desa tersebut.
Manajer Operasional TPS3R Sarwa Metu Wangi, Made Rai Sutrisna, mengatakan volume sampah yang diolah saat musim hujan meningkat hingga sekitar 15 ton per hari. Angka itu lebih tinggi dibandingkan musim kemarau yang rata-rata berada di kisaran 12 ton per hari, terutama akibat tambahan limbah potongan kebun.
“Kalau musim kemarau itu sekitar 12 ton, tapi sekarang karena musim hujan banyak potongan kebun jadi naik ke 15 ton. Kami sedang maksimalkan insinerator bekerja 24 jam supaya semua sampah ini bisa diselesaikan seluruhnya di Cemagi,” ujar Rai, Jumat (16/1/2026).
Rai menjelaskan, kapasitas ideal TPS3R berada di angka 8–9 ton per hari dengan catatan sampah sudah terpilah sejak dari sumber. Untuk mengejar target tersebut, pengelola menyiagakan 42 tenaga kerja yang menangani seluruh proses, mulai dari pemilahan hingga pembakaran residu menggunakan insinerator.
“Tenaga kerja kami sekarang ada 42 orang untuk mengejar target pengolahan maksimal. Sebenarnya kalau sampah masyarakat sudah terpilah, kapasitas kami itu bisa sampai 8 atau 9 ton per harinya,” jelasnya.
Ia mengakui, pertumbuhan ekonomi dan aktivitas pariwisata berdampak pada perubahan komposisi sampah di Cemagi. Produksi residu kini nyaris seimbang dengan sampah organik akibat meningkatnya konsumsi makanan berkemasan plastik serta penggunaan bahan kimia dalam sarana upacara adat.
“Teorinya organik itu 70 persen, tapi riilnya sekarang sudah bisa dibilang 50:50 karena banyak bungkus makanan yang berlapis-lapis. Belum lagi bahan upacara sekarang pakai bahan kimia pengawet dan pencelup warna, jadi masuk kategori residu,” imbuh Rai.
Jenis residu yang paling sulit diolah antara lain popok sekali pakai, plastik kotor, sisa bahan bangunan, hingga penggunaan steples dan styrofoam pada perlengkapan adat yang menyulitkan proses pemilahan, khususnya pada sampah organik.
Untuk meningkatkan kepatuhan warga, pemerintah desa telah membentuk satuan tugas khusus. Saat ini, tingkat pemilahan sampah dari rumah tangga mencapai sekitar 60 persen. “Kami masih toleransi kalau organik tercampur residu sekitar 20 sampai 30 persen karena nanti dipilah lagi di tempat kami. Infrastruktur dan kendaraan pengangkut juga sudah mulai lengkap,” katanya.
Sejak mulai beroperasi pada November 2022, volume sampah yang masuk ke TPS3R terus meningkat, dari dua truk per hari menjadi lima truk. Pengelola menargetkan penghentian total pengiriman sampah ke TPA Suwung pada musim kemarau mendatang.
“Dulu awal berdiri cuma terima 2 truk sampah, sekarang sudah naik jadi 5 truk per hari karena pembangunan di sini luar biasa. Sekarang masih ada sekitar 40 persen sampah yang keluar, tapi harapannya nanti musim kemarau bisa 100 persen tuntas di sini saja,” ujar Rai.
Operasional TPS3R Cemagi dibiayai dari iuran warga serta subsidi pemerintah desa, dengan penerapan skema subsidi silang untuk wilayah komersial. Sampah organik yang telah dicacah dikirim ke Pusat Daur Ulang (PDU) Mengwitani untuk diolah menjadi kompos, sementara insinerator bantuan DLHK Badung yang mulai efektif beroperasi sejak Desember 2025 diharapkan mampu memusnahkan residu hingga 12 ton per hari, meski performanya masih dipengaruhi kondisi sampah yang lembap saat musim hujan.
“Kalau teorinya bisa bakar 12 ton per 24 jam, tapi musim hujan begini sampah lembap jadi pengaruh ke volume residu yang bisa dibakar,” pungkasnya. (*/apn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar