Dari Nangun Sat Kerthi Loka Bali hingga Politik Peradaban Satu Abad
DENPASAR, Lensabali.id - Bali memasuki babak penting dalam perjalanan sejarahnya. Melalui Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125, Pulau Dewata menegaskan arah pembangunan jangka panjang yang berakar kuat pada karakter, jati diri, dan peradaban Bali. Momentum ini menjadi tonggak politik peradaban menandai dimulainya pembangunan yang terpola, menyeluruh, terencana, dan terintegrasi untuk satu abad ke depan.
Haluan tersebut tidak disusun sebagai dokumen kebijakan biasa. Ia dirancang sebagai peta jalan peradaban yang menuntun Bali agar tumbuh kokoh, berkelanjutan, dan berdaya saing global, tanpa tercerabut dari akar budaya dan kearifan lokal yang selama ini menjadi kekuatan utamanya.
Arah pembangunan Bali ke depan tidak semata mengejar pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, haluan ini menempatkan keseimbangan antara alam, manusia, dan kebudayaan sebagai fondasi utama—sebuah prinsip yang diyakini mampu menjaga Bali tetap utuh di tengah dinamika lokal, nasional, hingga global.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya penguatan identitas Bali pada era ketika banyak bangsa justru kehilangan orientasi. Ia menyoroti kondisi sejumlah negara di Eropa dan Amerika yang kini tengah kebingungan mencari kembali jati diri dan peradaban mereka.
“Banyak negara sekarang mencari jati diri siapa mereka, bagaimana peradabannya. Dalam hal itu, menurut saya, banyak yang sudah runtuh. Di Indonesia pun, mungkin Jawa sudah kehilangan. Di Bali, kita masih punya. Dan itulah yang saya angkat dalam Haluan 100 Tahun dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” tegas Koster saat ramah tamah dengan insan pers di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Minggu (4/1/2026).
Menurut Koster, substansi Haluan Pembangunan Bali Masa Depan sepenuhnya bertumpu pada kelokalan Bali. Bali dibangun sebagai Bali itu sendiri sebuah ruang hidup bagi Nak Bali yang berkarakter kuat, beridentitas jelas, dan berjati diri kokoh.
“Yang kita bangun bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menjalankan sebuah peradaban,” ujarnya.
Karena itu, Koster menilai peran media menjadi sangat strategis. Dalam waktu dekat, Pemerintah Provinsi Bali telah menyiapkan agenda sosialisasi dan implementasi Haluan 100 Tahun melalui berbagai jalur agar dipahami secara utuh oleh seluruh elemen masyarakat.
“Ini harus disampaikan luas kepada publik. Dukungan media sangat penting agar pelaksanaannya berjalan baik dan konsisten,” katanya.
Gubernur Koster juga mengungkapkan bahwa lahirnya Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun tidak terlepas dari arahan kuat Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, yang menekankan pentingnya memastikan haluan tersebut benar-benar dijalankan secara konsisten. “Astungkara, ini jalan. Ini bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk Bali,” ujarnya.
Seluruh arah, tatanan, dan substansi pembangunan telah dirumuskan secara komprehensif dalam haluan tersebut. Jika dijalankan secara konsisten, Koster meyakini Bali ke depan akan tumbuh semakin kuat adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap berakar pada budaya, tradisi, dan kearifan lokal.
“Inilah yang akan memperkuat fundamental Bali alamnya, manusianya, dan kebudayaannya untuk ratusan tahun ke depan,” katanya.
Sejumlah program yang telah berjalan pada periode pertama kepemimpinannya, seperti penggunaan aksara Bali, bahasa Bali, busana adat Bali, penguatan produk lokal, serta berbagai kebijakan berbasis kearifan lokal, menjadi fondasi berkelanjutan dari Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun.
Dengan haluan ini, Bali menegaskan pilihannya: maju tanpa kehilangan jati diri, mendunia tanpa meninggalkan akar, serta membangun masa depan dengan peradaban yang berkarakter. Sebuah ikhtiar panjang untuk memastikan Bali tetap Bali hari ini, esok, dan satu abad ke depan. (*/ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar