Lensabali.id - Kecerdasan buatan (AI) kini tak hanya dimanfaatkan sebagai alat pencari informasi atau asisten digital. Di Indonesia, teknologi ini mulai mengambil peran yang jauh lebih personal. Data terbaru menunjukkan, tiga dari sepuluh orang Indonesia mengaku memilih berbicara dengan AI ketika merasa sedih atau tidak bahagia.
Temuan tersebut mencerminkan perubahan signifikan dalam cara masyarakat berinteraksi dengan teknologi. AI perlahan diposisikan sebagai teman curhat virtual, terutama di kalangan generasi muda yang terbiasa menjadikan teknologi sebagai bagian dari keseharian.
Berdasarkan survei global Kaspersky yang melibatkan ribuan responden lintas negara, sebanyak 31 persen pengguna AI di Indonesia mempertimbangkan berbicara dengan AI saat sedang sedih. Angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Minat terbesar datang dari Generasi Z dan milenial. AI dinilai responsif, selalu tersedia, dan tidak menghakimi karakteristik yang bagi sebagian orang sulit ditemukan dalam interaksi sosial di dunia nyata. Sebaliknya, kelompok usia di atas 55 tahun menunjukkan ketertarikan yang jauh lebih rendah terhadap AI sebagai pendamping emosional.
Meski menawarkan kenyamanan, para pakar keamanan siber mengingatkan adanya risiko serius di balik kebiasaan curhat ke AI. Kemampuan AI generatif dalam merespons secara empatik membuatnya terasa “manusiawi”, namun interaksi tersebut bukanlah komunikasi pribadi yang sepenuhnya aman.
Sebagian besar chatbot AI dikelola oleh perusahaan komersial dengan kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data masing-masing. Percakapan emosional berpotensi dimanfaatkan untuk analisis kondisi psikologis, penyusunan profil perilaku digital, hingga penargetan iklan yang lebih agresif. Dalam skenario terburuk, data tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
“AI belajar dari data, sebagian besar berasal dari internet. Artinya, ia bisa mengulang bias, kesalahan, dan asumsi yang keliru. Pengguna perlu bersikap kritis dan tidak menganggap AI sebagai pengganti manusia,” ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.
Pakar menegaskan, curhat ke AI tidak setara dengan berbicara kepada psikolog atau orang terdekat. Informasi sensitif yang dibagikan berisiko tersimpan di server pihak ketiga dan dapat dimanfaatkan untuk phishing berbasis emosi, penipuan digital, pemerasan, hingga manipulasi perilaku pengguna.
Meski demikian, penggunaan AI tidak sepenuhnya harus dihindari. Pengguna disarankan tetap berhati-hati dengan tidak membagikan data pribadi sensitif, memperlakukan percakapan dengan AI layaknya ruang publik, memeriksa kebijakan privasi layanan, serta menggunakan penyedia AI tepercaya yang dilengkapi perlindungan keamanan digital. (apn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar