𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗮𝘁𝗮 𝗔𝗿𝗮𝗵 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗔𝗯𝗮𝗱, 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗸 𝗟𝗮𝗴𝗶 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗦𝗶𝗸𝗹𝘂𝘀 𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻𝗮𝗻 - LENSA BALI

Hot


Selasa, 06 Januari 2026

𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗮𝘁𝗮 𝗔𝗿𝗮𝗵 𝗦𝗮𝘁𝘂 𝗔𝗯𝗮𝗱, 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗧𝗮𝗸 𝗟𝗮𝗴𝗶 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗦𝗶𝗸𝗹𝘂𝘀 𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻𝗮𝗻

Bali Menata Arah Satu Abad, Pembangunan Tak Lagi Sekadar Siklus Lima Tahunan

Gubernur Koster: Bali Bukan Sekadar Destinasi, Melainkan Benteng Peradaban Nusantara


DENPASAR, Lensabali.id - Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pembangunan Bali tidak dirancang untuk menjawab kepentingan jangka pendek atau sekadar siklus lima tahunan. Melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, Pemerintah Provinsi Bali mengunci arah pembangunan jangka panjang yang menempatkan kebudayaan sebagai poros utama, sekaligus memosisikan Pulau Dewata sebagai benteng peradaban Nusantara di tengah arus globalisasi yang kian deras.

Bali, menurut Koster, sedang menapaki jalan panjang satu abad. Visi tersebut dirancang agar Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai ruang peradaban yang hidup tempat nilai, tradisi, dan jati diri tetap terjaga meski dunia terus berubah.

Di saat banyak daerah terjebak dalam modernisasi seragam yang perlahan mengikis identitas lokal, Bali justru memilih jalur berbeda: maju tanpa kehilangan jati diri. Bagi Koster, kekuatan Bali bukan lahir dari sikap menutup diri terhadap perubahan, melainkan dari keberanian menjaga nilai-nilai dasar ketika dunia bergerak terlalu cepat dan kerap tanpa arah.

“Dengan komitmen kuat melaksanakan Nangun Sat Kerthi Loka Bali sesuai Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, saya yakin seyakin-yakinnya adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali akan tetap eksis, bertahan selamanya, bahkan sepanjang zaman,” ujar Koster di Denpasar, Senin (5/1/2026).

Ia menegaskan, globalisasi tidak boleh disikapi secara ekstrem. Bali tidak menolak kemajuan, namun juga tidak menerima perubahan secara membabi buta. Pembangunan Bali harus bergerak seiring dengan jati diri pulau ini adat, budaya, serta nilai spiritual yang hidup dan tumbuh dalam keseharian masyarakat.

Koster menekankan bahwa Bali bukan semata ruang ekonomi. Pariwisata memang menjadi sektor penting, namun tidak boleh menjadi satu-satunya orientasi pembangunan. Bali adalah ruang peradaban yang utuh, tempat pura, upacara adat, sistem subak, bahasa, sastra, dan nilai spiritual bukan sekadar simbol, melainkan fondasi kehidupan sosial masyarakatnya.

“Inilah yang membuat Bali tetap berbeda di mata dunia,” tegasnya.

Menurut Koster, modernitas tidak identik dengan penghapusan identitas. Bali justru menjadi bukti bahwa kemajuan dapat berjalan seiring dengan nilai luhur yang dijaga secara konsisten dan berkesinambungan.

“Maka Bali akan maju dan modern, mengikuti perkembangan zaman dalam dinamika lokal, nasional, dan global,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak destinasi dunia kehilangan jiwanya akibat pembangunan yang lepas kendali. Bali memilih jalan yang lebih berat: menegakkan batas. Tata ruang, lingkungan, dan kebudayaan tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat, karena jika ruh Bali runtuh, yang hilang bukan hanya sebuah pulau, melainkan satu pilar penting peradaban Nusantara.

Melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, Pemerintah Provinsi Bali menempatkan kebudayaan sebagai jangkar utama pembangunan lintas generasi. Visi ini dirancang sebagai perisai agar Bali tidak hanyut dalam arus global yang kerap menggerus identitas lokal. “Bali tidak menolak dunia. Bali berdiri sejajar dengan dunia,” pungkas Koster.

Di tengah dunia yang kian kehilangan makna dan arah, Bali kembali menegaskan sikapnya: melangkah ke depan dengan modernitas, namun tetap berpijak kokoh pada nilai. Sebuah pilihan yang tidak ringan, namun itulah jalan Bali menjaga peradaban, bukan hanya untuk hari ini, melainkan hingga seratus tahun ke depan. (*/ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar