KLUNGKUNG, Lensabali.id - Desa Adat Akah, Kabupaten Klungkung, Bali, kembali diselimuti suasana semarak. Hampir 500 penjor berdiri berjejer di sepanjang jalan desa hingga sekitar 1,5 kilometer, menghiasi kawasan tersebut dengan dominasi warna putih dan kuning.
Deretan penjor itu menjadi bagian dari rangkaian Karya Pamungkah Tawur Agung yang dilaksanakan secara bersamaan di tiga pura di wilayah Desa Adat Akah.
Pantauan pada Minggu (4/10/2026) siang, penjor bambu tampak menjulang di kedua sisi jalan dengan ujung melengkung ke arah tengah. Hiasan janur, sampian, serta kain putih dan kuning keemasan bergerak tertiup angin, berpadu dengan aktivitas warga yang berlangsung di sepanjang jalan desa.
Di Sekretariat Desa Adat Akah, krama tampak sibuk menyiapkan berbagai kebutuhan upacara. Rangkaian karya meliputi Karya Mamungkah, Tawur Agung, Ngubung, Pedagingan, Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung hingga Ngusaba Desa yang dipusatkan di Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem Desa Adat Akah.
Bendesa Adat Akah I Ketut Wirta mengatakan seluruh rangkaian karya tersebut terlaksana berkat gotong royong dan kebersamaan krama desa. Upacara dijadwalkan mulai 7 Oktober 2026 dengan puncak karya pada 19 Oktober 2026.
"Untuk penjor, ini dibangun oleh krama kita yang jumlahnya mencapai seribu lebih kepala keluarga (KK). Sehingga bisa dilihat dari batas selatan sampai utara, hampir satu setengah kilo panjangnya. Jumlahnya mencapai sekitar 500 penjor. Kami bagi jaraknya dari 1,5 kilo sehingga dapat satu penjor dengan penjor yang lainnya tujuh meter," ujar Wirta.
Biaya pembuatan penjor juga bervariasi sesuai ukuran. "Kalau biaya per satu penjor, ini dibuat ya, sekitar Rp 150 ribu. Itu yang kecil. Kalau yang besar-besar juga ada, yang biasanya Rp 10 juta per penjor," imbuhnya.
Menurut Wirta, penggunaan warna pada penjor juga memiliki makna filosofis. Warna putih melambangkan manifestasi Dewa Iswara di arah timur, sedangkan warna kuning menjadi simbol Dewa Mahadewa di arah barat.
Karya Agung Terakhir Digelar pada 1989
Karya agung yang melibatkan tiga pura secara bersamaan ini memiliki arti khusus bagi warga Desa Adat Akah. Pasalnya, kegiatan serupa terakhir kali dilaksanakan pada 1989 atau sekitar 37 tahun lalu.
Pelaksanaan karya sekaligus perbaikan tiga pura tersebut membutuhkan anggaran hingga miliaran rupiah. Dana diperoleh dari bantuan pemerintah daerah serta punia dari krama adat.
"Setelah 37 tahun, akhirnya kami bisa memperbaiki tiga pura yang sudah membutuhkan perbaikan," papar Wirta.
Desa Adat Akah terdiri atas enam banjar dan memiliki empat pura. Setelah perbaikan dan pelaksanaan karya di salah satu pura sebelumnya, pada tahun ini rangkaian upacara digelar untuk tiga pura sekaligus. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar