𝗞𝗹𝘂𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴 𝗪𝗮𝘀𝗽𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗞𝗮𝗿𝗵𝘂𝘁𝗹𝗮, 𝟭𝟯 𝗗𝗲𝘀𝗮 𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗪𝗶𝗹𝗮𝘆𝗮𝗵 𝗥𝗮𝘄𝗮𝗻 - LENSA BALI

Hot


Senin, 24 Agustus 2026

𝗞𝗹𝘂𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴 𝗪𝗮𝘀𝗽𝗮𝗱𝗮𝗶 𝗞𝗮𝗿𝗵𝘂𝘁𝗹𝗮, 𝟭𝟯 𝗗𝗲𝘀𝗮 𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗪𝗶𝗹𝗮𝘆𝗮𝗵 𝗥𝗮𝘄𝗮𝗻

Klungkung Waspadai Karhutla, 13 Desa Masuk Wilayah Rawan

KLUNGKUNG, Lensabali.id - Sebanyak 13 desa di Kabupaten Klungkung, Bali, dipetakan sebagai wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BPBD Klungkung mencatat luas kawasan yang berpotensi terdampak mencapai 26.362,88 hektare.

Ancaman tersebut semakin perlu diwaspadai seiring meningkatnya potensi kekeringan. Kondisi itu membuat BPBD Klungkung mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan air sekaligus menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

"Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk memetakan titik-titik yang paling membutuhkan bantuan air bersih. Jangan sampai kekeringan ini mengganggu sektor pertanian warga," kata Kepala Pelaksana BPBD Klungkung Putu Widiada, Sabtu (22/8/2026).

Pemetaan wilayah rawan karhutla dan kekeringan tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam rapat mitigasi bencana yang digelar BPBD Klungkung. Data tersebut digunakan untuk menentukan prioritas distribusi air bersih sekaligus memperkuat kesiapsiagaan armada pemadam kebakaran.

Wilayah yang masuk pemetaan tersebar di Kecamatan Dawan dan Nusa Penida. Di Dawan, tujuh desa masuk kategori risiko sedang hingga tinggi, yakni Gunaksa, Dawan Klod, Dawan Kaler, Paksebali, Besan, Pesinggahan, dan Pikat.

Sementara itu, seluruh desa di Kecamatan Nusa Penida pada dasarnya masuk kategori rawan. Namun, enam desa disebut memiliki tingkat risiko paling tinggi, yaitu Batumadeg, Bunga Mekar, Sakti, Pejukutan, Kutampi, dan Suana.

Ancaman kebakaran tersebut bukan sekadar berdasarkan pemetaan. Sebelumnya, kebakaran lahan terjadi di kawasan bekas Galian C Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, pada Jumat (10/7/2026). Saat itu, sekitar dua hektare lahan ilalang terbakar.

Kasatpol PP dan Damkarmat Klungkung I Dewa Putu Suwarbawa menjelaskan, api cepat meluas akibat angin kencang. Petugas bahkan harus meminta bantuan armada pemadam dari Gianyar untuk menangani kebakaran tersebut.

"Anggota sempat mengalami kendala di lapangan karena api menyebar dan muncul di beberapa titik area, tidak hanya di satu titik," terang Suwarbawa.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa potensi karhutla perlu diantisipasi sejak dini, terutama saat cuaca kering. Masyarakat di wilayah rawan diimbau tidak membakar lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar