𝗣𝗲𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴 𝗥𝗲𝘀𝗮𝗵, 𝗕𝗮𝘄𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗿𝗮𝗵 𝗗𝗶𝗱𝘂𝗴𝗮 𝗜𝗺𝗽𝗼𝗿 𝗧𝗵𝗮𝗶𝗹𝗮𝗻𝗱 𝗗𝗶𝗷𝘂𝗮𝗹 𝗥𝗽 𝟭𝟱 𝗥𝗶𝗯𝘂/𝗞𝗴 - LENSA BALI

Hot


Minggu, 16 Agustus 2026

𝗣𝗲𝗱𝗮𝗴𝗮𝗻𝗴 𝗥𝗲𝘀𝗮𝗵, 𝗕𝗮𝘄𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗿𝗮𝗵 𝗗𝗶𝗱𝘂𝗴𝗮 𝗜𝗺𝗽𝗼𝗿 𝗧𝗵𝗮𝗶𝗹𝗮𝗻𝗱 𝗗𝗶𝗷𝘂𝗮𝗹 𝗥𝗽 𝟭𝟱 𝗥𝗶𝗯𝘂/𝗞𝗴

Pedagang Resah, Bawang Merah Diduga Impor Thailand Dijual Rp 15 RibuKg

KLUNGKUNG, Lensabali.id - Bawang merah yang diduga berasal dari Thailand mulai beredar di Pasar Galiran, Klungkung, Bali. Kehadiran komoditas impor tersebut membuat pedagang bawang merah lokal resah karena harganya jauh lebih murah dan berpotensi menekan harga produk lokal, terutama saat memasuki masa panen raya.

Salah satu pedagang, Mujakir Ilyas, mengatakan bawang merah yang diduga impor itu mulai masuk sekitar 7 Agustus 2026. Dalam beberapa hari terakhir, pasokannya disebut semakin banyak sehingga harga bawang merah lokal ikut turun.

Harga bawang merah lokal yang sebelumnya mencapai Rp 28.500 per kilogram kini berada di kisaran Rp 24 ribu. Sementara bawang yang disebut berasal dari Thailand dijual dengan harga jauh lebih rendah.

"Masuknya sekitar tanggal 7 Agustus lalu. Masalahnya adalah barang impor ini datang di saat harga lagi bagus-bagusnya. Bawang merah dengan kualitas hampir sama dengan lokal ini masuk dengan harga sangat miring. Ke gudang harganya Rp 15 ribu per kilo. Berbeda jauh dengan lokal di kisaran Rp 19 sampai Rp 23 ribu per kilo," ungkap Mujakir saat ditemui di Pasar Galiran, Minggu (16/8/2026).

Selama ini, pasokan bawang merah di Pasar Galiran berasal dari sejumlah daerah, seperti Bima, Jawa, dan Kintamani, Bangli. Menurut Mujakir, perbedaan asal tersebut tidak terlalu menjadi persoalan karena harga bawang lokal relatif berimbang.

Namun, masuknya bawang yang diduga berasal dari Thailand dinilai berbeda karena harganya lebih murah. Kondisi tersebut semakin dikhawatirkan pedagang lantaran saat ini petani lokal memasuki masa panen raya, sehingga stok bawang merah di pasaran tengah melimpah.

Mujakir mengaku sempat melihat bawang tersebut didatangkan menggunakan truk berkapasitas sekitar 10 ton pada malam hari. Awalnya ia menduga komoditas tersebut berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, setelah menghubungi rekan bisnis di daerah tersebut, ia mendapat informasi tidak ada pengiriman bawang ke Bali.

Ia kemudian menelusuri informasi melalui rekan bisnis di Jawa yang bergerak dalam bidang ekspor-impor. Dari komunikasi tersebut, Mujakir mendapat informasi bahwa bawang merah yang dijual murah di Pasar Galiran diduga berasal dari Thailand.

"Jadi informasi ini bisa saya pertanggungjawabkan. Ini juga sudah saya posting di media sosial saya. Dari postingan itu, ternyata banyak pedagang yang sudah tahu dan menaruh kekhawatiran yang sama," jelasnya.

Mujakir meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat segera mengecek dugaan peredaran bawang impor tersebut. Menurutnya, pengawasan distribusi perlu dilakukan untuk memastikan komoditas yang masuk tidak merugikan pedagang maupun petani lokal.

"Kami minta pemerintah dan APH bertindak tegas. Tolong telusuri dugaan beredarnya bawang merah impor ini di Pasar Galiran. Kalau tidak ada pembatasan atau pengecekan langsung di tengah panen raya ini, nasib pedagang dan petani bawang merah lokal betul-betul di ujung tanduk," tegas Mujakir.

Pedagang kini menunggu respons Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Klungkung terkait dugaan peredaran bawang merah asal Thailand tersebut. Kepala dinas terkait, I Komang Dharma Suyasa, belum memberikan tanggapan kepada detikBali hingga berita ini diterbitkan. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar