𝗚𝘂𝗯𝗲𝗿𝗻𝘂𝗿 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗴𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗿𝗶𝘄𝗶𝘀𝗮𝘁𝗮 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗮𝘀𝗶𝘀 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮, 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗗𝗶𝘆𝗮𝗸𝗶𝗻𝗶 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗯𝗼𝗿𝗮𝘁𝗼𝗿𝗶𝘂𝗺 𝗞𝗲𝗮𝗿𝗶𝗳𝗮𝗻 𝗟𝗼𝗸𝗮𝗹 - LENSA BALI

Hot


Jumat, 03 Juli 2026

𝗚𝘂𝗯𝗲𝗿𝗻𝘂𝗿 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗗𝗼𝗿𝗼𝗻𝗴 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗴𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗿𝗶𝘄𝗶𝘀𝗮𝘁𝗮 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗮𝘀𝗶𝘀 𝗕𝘂𝗱𝗮𝘆𝗮, 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗗𝗶𝘆𝗮𝗸𝗶𝗻𝗶 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗯𝗼𝗿𝗮𝘁𝗼𝗿𝗶𝘂𝗺 𝗞𝗲𝗮𝗿𝗶𝗳𝗮𝗻 𝗟𝗼𝗸𝗮𝗹

Gubernur Koster Dorong Integrasi Pertanian dan Pariwisata Berbasis Budaya, Bali Diyakini Jadi Laboratorium Kearifan Lokal

DENPASAR, Lensabali.id – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pembangunan sektor pertanian harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan pariwisata berbasis budaya. Menurutnya, sinergi kedua sektor tersebut penting agar petani tidak hanya berperan menjaga bentang alam Bali, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih adil.

Pernyataan itu disampaikan saat menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/7).

Dalam kesempatan tersebut, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengundang Gubernur Koster menjadi keynote speaker pada Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Juli mendatang.

Forum tersebut akan diikuti sekitar 90 dekan fakultas pertanian dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Indonesia Timur, dengan total peserta diperkirakan mencapai 200 orang. Agenda kegiatan meliputi seminar nasional, lokakarya, serta sejumlah kompetisi mahasiswa yang mengangkat tema integrasi pertanian dan pariwisata berbasis budaya.

"Konsep budaya yang diintegrasikan dengan pertanian dan pariwisata seperti di Bali menjadi sangat penting. Karena itu kami berharap Bapak Gubernur berkenan menjadi keynote speaker," ujar I Putu Sudiarta.

Menanggapi undangan itu, Koster menekankan bahwa sektor pertanian tidak boleh dipandang sekadar sebagai pelengkap industri pariwisata. Menurutnya, selama ini kawasan pertanian sering menjadi daya tarik wisata, namun nilai ekonomi yang diterima petani masih belum sebanding dengan kontribusi mereka.

"Pertanian harus berjalan sejalan dengan pariwisata. Banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian. Selain sebagai penyangga ketahanan pangan, kawasan pertanian juga menjadi objek wisata alam. Karena itu harus dikemas dengan baik agar petani memperoleh manfaat. Kalau hanya dilindungi tanpa peningkatan pendapatan petani, itu tidak adil, apalagi kebutuhan hidup terus meningkat," tegas Koster.

Gubernur Koster Dorong Integrasi Pertanian dan Pariwisata Berbasis Budaya, Bali Diyakini Jadi Laboratorium Kearifan Lokal

Ia berpandangan bahwa petani harus ditempatkan sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat dalam pengembangan pariwisata berbasis pertanian agar kesejahteraan mereka ikut meningkat.

Lebih lanjut, Koster menyebut Bali memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yakni sistem pertanian yang menyatu dengan budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Nilai-nilai tersebut telah ia paparkan dalam forum internasional di London, termasuk mengenai Peraturan Daerah tentang Pertanian Organik yang disebut sebagai regulasi pertama dan satu-satunya di Indonesia.

"Di Bali, bertani bukan sekadar menanam. Ada upacara dan upakara yang mengiringi mulai dari pembibitan, pengairan hingga panen. Semua itu menjadi satu kesatuan budaya yang hanya dimiliki Bali," ujarnya.

Menurut Koster, kekayaan budaya tersebut menjadi modal besar untuk memperkuat posisi Bali di tingkat global. "Kita di Bali tidak perlu lagi mencari jati diri karena sudah memilikinya sejak dahulu. Tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali," katanya. (hms/ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar