𝗗𝗶𝗱𝘂𝗴𝗮 𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗝𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻, 𝗕𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗡𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀 𝗧𝗲𝗿𝘁𝗮𝗯𝗿𝗮𝗸 𝗧𝗿𝗮𝗶𝗹𝗲𝗿 𝗱𝗶 𝗝𝗲𝗺𝗯𝗿𝗮𝗻𝗮 - LENSA BALI

Hot


Senin, 06 Juli 2026

𝗗𝗶𝗱𝘂𝗴𝗮 𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸 𝗝𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗕𝗲𝗿𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻, 𝗕𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗡𝗲𝗹𝗮𝘆𝗮𝗻 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀 𝗧𝗲𝗿𝘁𝗮𝗯𝗿𝗮𝗸 𝗧𝗿𝗮𝗶𝗹𝗲𝗿 𝗱𝗶 𝗝𝗲𝗺𝗯𝗿𝗮𝗻𝗮

Diduga Masuk Jalur Berlawanan, Buruh Nelayan Tewas Tertabrak Trailer di Jembrana

JEMBRANA, Lensabali.id – Kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa terjadi di jalur nasional Denpasar–Gilimanuk, tepatnya di sebelah timur Monumen Lintas Laut Gilimanuk, Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 18.00 Wita. Seorang pengendara sepeda motor bernama Sumarji (48), buruh nelayan asal Banjar Melaya Tengah Kaja, Desa Melaya, meninggal dunia di lokasi kejadian setelah bertabrakan dengan sebuah truk trailer.

Kasi Humas Polres Jembrana, IPDA I Putu Budi Arnaya, menjelaskan korban mengendarai sepeda motor Honda Vario bernomor polisi DK 2897 FCA dari arah Gilimanuk menuju Denpasar.

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, korban diduga mengambil haluan terlalu ke kanan hingga memasuki jalur kendaraan dari arah berlawanan. Pada saat bersamaan, melaju truk trailer tractor head bernomor polisi D 9440 YV yang dikemudikan Rudi Cahyono (42), warga Kediri, Jawa Timur.

"Korban diduga mengambil haluan terlalu ke kanan hingga masuk ke jalur lawan. Saat motor masuk ke jalur kanan, pada saat yang bersamaan muncul truk trailer tractor head dengan nomor polisi D 9440 YV dari arah berlawanan. Karena jarak yang sudah terlalu dekat, tabrakan tidak dapat dihindarkan," kata Budi Arnaya saat dikonfirmasi, Senin (6/7/2026).

Benturan keras mengakibatkan Sumarji mengalami cedera kepala berat (CKB) dan dinyatakan meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP). Sementara itu, sopir truk trailer dilaporkan selamat dan tidak mengalami luka.

Polisi telah menangani peristiwa tersebut serta mengimbau seluruh pengguna jalan agar selalu berkendara dengan penuh konsentrasi dan mematuhi jalur lalu lintas demi mencegah kecelakaan serupa.

"Atas kejadian ini, kami juga mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar selalu waspada dan fokus saat berkendara," tandas Budi Arnaya. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar