BADUNG, Lensabali.id – Warga di sekitar TPS3R Desa Adat Sempidi, Kecamatan Mengwi, mengeluhkan bau menyengat yang muncul dalam beberapa hari terakhir. Keluhan tersebut bahkan sempat viral di media sosial melalui sejumlah video yang memperlihatkan kondisi di lokasi.
Sejumlah warga menduga bau tak sedap itu berasal dari tumpukan sampah di dalam area TPS3R. Kondisi ini pun menimbulkan kekecewaan, mengingat sebelumnya pemerintah daerah sempat menjamin fasilitas tersebut tidak akan menimbulkan dampak lingkungan.
“Ini sudah berbeda dari janji Bupati sebelumnya, sebelum TPS dibangun,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (11/4/2026).
Menanggapi keluhan tersebut, pengelola TPS3R dari vendor Hejoteck, Rina A Soma, menyatakan adanya miskomunikasi di tengah masyarakat. Ia juga menyinggung kemungkinan adanya provokasi yang memperkeruh situasi.
“Isu-isunya ada, laporan-laporan seperti itu ada, dibilang ada pembakaran lah di sini, padahal tidak sama sekali. Tetapi kami meminta maaf jika ada yang kurang, kita sama-sama berbenah,” kata Rina.
Rina mengakui operasional TPS3R sejak 1 April 2026 masih berada dalam fase penyesuaian. Menurutnya, fasilitas pendukung belum sepenuhnya terpasang sehingga proses pengolahan sampah belum optimal.
“Sebetulnya kalau misalkan kami dibilang ready untuk memberantas sampah di sini, dibilang siap sekarang sih sebetulnya tidak siap. Kami minta waktu seharusnya itu tiga bulan ke depan karena nanti semua mesin sudah lengkap di sini,” ujarnya.
Sementara itu, Manajer Operasional Hejoteck, Peter Noordiansah, menjelaskan lonjakan volume sampah mencapai sekitar 8 ton per hari dipicu oleh pembersihan gudang warga serta sisa sampah dari pengelola sebelumnya.
Ia menyebut volume tersebut jauh di atas kapasitas normal yang biasanya hanya berkisar 4 hingga 5 ton per hari.
“Sekarang kami menampung semua sampah karena setelah saya teliti, sampah di sini kebanyakan bisa saya proses untuk daur ulang,” jelas Peter.
Pengelola, lanjutnya, telah melakukan berbagai upaya untuk menekan bau, termasuk menyemprotkan cairan khusus secara rutin.
Di sisi lain, instalasi sejumlah mesin pengolahan seperti pencacah organik, penghancur kaca, hingga rotary dryer tengah dipersiapkan untuk mempercepat proses pengolahan.
“Tujuan kami di sini sampah harus bersih di tempat, habis di tempat. Jadi kita tidak membuang sampah lagi keluar termasuk residu dengan mesin-mesin yang kami siapkan nanti,” tegasnya.
Peter menambahkan, tumpukan yang terlihat di lokasi merupakan sampah yang sudah dipilah dan sedang menunggu proses pengolahan, bukan dibiarkan begitu saja.
“Kalau memang alat sudah komplit semuanya… satu minggu pun sudah beres dan sampah datang akan habis di hari itu,” katanya.
Saat ini, pengelola bersama desa adat terus mendorong warga untuk disiplin memilah sampah. Sistem pengangkutan juga akan diatur bergiliran antara sampah organik, nonorganik, dan residu agar proses pengolahan lebih efektif. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar