DENPASAR, Lensabali.id - Hari kedua pelaksanaan Festival Sanur Metangi yang digelar Yayasan Pembangunan Sanur berlangsung meriah dengan menampilkan beragam kreativitas ogoh-ogoh karya generasi muda Sanur. Festival ini menjadi momentum kebangkitan tradisi ogoh-ogoh di kawasan tersebut yang sempat meredup dalam beberapa tahun terakhir.
Ketua Yayasan Pembangunan Sanur, IB Gede Sidharta Putra, mengatakan Sanur memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tradisi ogoh-ogoh di Bali, bahkan sejak dekade 1980-an telah dikenal sebagai salah satu pelopornya.
“Kalau dilihat sejarahnya, ogoh-ogoh itu banyak dimulai dari Sanur pada tahun 80-an dan sangat terkenal. Namun dengan perkembangan zaman dan teknologi, anak-anak muda kita sempat seperti ‘tidur’. Karena itu mereka ingin bangkit kembali, makanya dinamakan Sanur Metangi yang artinya Sanur bangkit,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Festival perdana ini melibatkan partisipasi dari berbagai banjar di kawasan Sanur. Dari total 27 banjar yang mengikuti proses seleksi, hanya 20 ogoh-ogoh terbaik yang akhirnya tampil dalam festival utama.
Rangkaian acara dibuka langsung oleh Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dan diisi dengan berbagai agenda budaya. Kegiatan tersebut antara lain parade ogoh-ogoh, penampilan paradok ogoh-ogoh, pementasan sendratari, lomba ogoh-ogoh mini, talkshow budaya, hingga workshop pembuatan tapel atau topeng tradisional.
Menurut Sidharta Putra—yang akrab disapa Gusde—festival ini tidak sekadar menjadi tontonan menjelang Nyepi, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus ruang kreativitas bagi generasi muda.
“Perayaan Nyepi ini kita kemas untuk mengkonservasi budaya, menumbuhkan kreativitas anak-anak muda, sekaligus menjadi wawasan budaya khususnya bagi Sanur,” jelasnya.
Ia menilai perkembangan ogoh-ogoh di Sanur kini semakin dinamis. Jika pada masa lalu bentuk ogoh-ogoh identik dengan figur raksasa, kini desainnya semakin beragam mengikuti perkembangan kreativitas generasi muda.
“Sekarang dengan teknologi, pewarnaan dan bentuknya semakin berkembang. Tidak semuanya mengambil bentuk raksasa, ada juga yang lebih lucu atau kreatif. Diversifikasi kreativitas anak-anak muda semakin banyak,” katanya.
Festival Sanur Metangi juga mulai dikembangkan sebagai bagian dari atraksi wisata menjelang Nyepi. Panitia bahkan telah menguji konsep tersebut dengan menjual tiket khusus bagi wisatawan yang ingin menikmati festival dari area VIP.
“Hotel-hotel di Sanur bahkan membeli hampir 300 kursi VIP untuk tamu mereka. Antusiasmenya cukup tinggi, padahal tiketnya sekitar Rp350 ribu. Ini menunjukkan daya tariknya kuat bagi wisatawan,” ungkapnya.
Festival ini diinisiasi oleh para sekaa teruna (ST) dari tiga desa adat di Sanur, yakni Desa Adat Sanur, Intaran, dan Penyaringan, dengan dukungan penuh dari Yayasan Pembangunan Sanur agar dapat berkembang menjadi agenda tahunan.
“Kami sangat senang karena ini murni inisiatif anak-anak muda Sanur. Ada regenerasi yang bagus. Kalau festival ini bisa terus dibesarkan, tentu akan menambah nilai tambah Sanur saat perayaan Nyepi,” ujarnya.
Lebih jauh, Sidharta Putra menegaskan bahwa semangat “metangi” atau kebangkitan Sanur tidak hanya tercermin dari festival ogoh-ogoh, tetapi juga dari upaya penataan kawasan wisata yang terus diperbaiki.
“Metanginya Sanur bukan hanya ogoh-ogohnya. Sanur juga semakin bersih, parkir mulai tertata. Mudah-mudahan kebangkitan Sanur ini bisa menjadi contoh bagi destinasi pariwisata lainnya,” tandasnya. (apn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar