DENPASAR, Lensabali.id — Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan resmi Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter Mark Haymond, di Ruang Tamu Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Selasa (24/2). Pertemuan tersebut membahas penguatan hubungan bilateral sekaligus tata kelola pariwisata Bali yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Dubes Haymond menyampaikan rencana pembukaan kantor konsulat Amerika Serikat di Bali guna meningkatkan layanan bagi warga negaranya yang berada di Pulau Dewata. Tahun lalu, sekitar 270 ribu warga Amerika tercatat berkunjung ke Bali, dan 80 persen wisatawan Amerika yang datang ke Indonesia memilih Bali sebagai destinasi utama.
Untuk menunjang pelayanan, pihaknya juga merekrut tambahan personel, termasuk untuk penanganan kasus darurat seperti kecelakaan yang melibatkan warganya. Ia menegaskan mayoritas wisatawan Amerika yang datang ke Bali merupakan pelancong yang patuh hukum dan berkualitas.
Namun, ia mengakui adanya tantangan global berupa maraknya kejahatan penipuan (scam) di sejumlah negara Asia Tenggara. Beberapa negara seperti Thailand, Laos, Myanmar, dan Kamboja disebut menjadi pusat penipuan lintas negara dengan dampak kerugian besar, termasuk bagi warga Amerika yang tahun lalu mengalami kerugian hingga 10 miliar dolar AS akibat scam.
Menurutnya, Indonesia juga menghadapi ancaman serupa. Karena itu, Pemerintah Amerika Serikat memperkuat kerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia untuk memberantas kejahatan tersebut, terutama di kawasan destinasi wisata.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Koster menyampaikan apresiasi atas perhatian dan komitmen kerja sama Pemerintah Amerika Serikat. Ia menilai meningkatnya kunjungan wisatawan Amerika, yang pada 2025 menempati peringkat ketujuh terbanyak ke Bali, menjadi indikator eratnya hubungan kedua negara.
“Sebagai Gubernur, saya berkepentingan menjaga hubungan baik ini demi kepentingan rakyat Bali,” ujarnya.
Koster memaparkan, Bali merupakan pulau kecil dengan luas sekitar 0,1 persen dari wilayah Indonesia dan jumlah penduduk sekitar 4,4 juta jiwa. Meski demikian, Bali memiliki kekuatan budaya yang tumbuh di sekitar 1.500 desa adat. Tradisi dan kearifan lokal inilah yang menjadi daya tarik utama sehingga pada 2025 kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,1 juta orang, tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Bali.
Ia menjelaskan sektor pariwisata menopang sekitar 66 persen perekonomian Bali. Saat pandemi Covid-19, ekonomi Bali terkontraksi hingga minus 9,3 persen. Kini, pertumbuhan ekonomi telah bangkit menjadi 5,82 persen, tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, dengan pendapatan per kapita Rp72,66 juta dan tingkat kemiskinan 1,45 persen.
Meski demikian, berbagai tantangan turut mengemuka, mulai dari persoalan sampah, kemacetan, keamanan, hingga kasus wisatawan asing bermasalah, narkotika, dan alih fungsi lahan. Untuk menjawabnya, Pemprov Bali menyiapkan arah pembangunan 100 tahun ke depan dengan kebudayaan sebagai fondasi, memperkuat desa adat, membangun infrastruktur, mengembangkan transportasi ramah lingkungan, serta menerapkan regulasi pariwisata berkualitas, termasuk pungutan wisatawan asing Rp150 ribu per kunjungan.
“Ke depan, pariwisata Bali akan kami tata dengan arah yang semakin kuat agar dijalankan secara berkualitas, bermartabat, serta memberikan kontribusi nyata bagi pemerintah dan masyarakat Bali,” tegasnya. (hms/ap)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar