Sejumlah ulasan dan foto turut menguatkan anggapan tersebut. Salah satu pengguna menilai kawasan itu cocok dijadikan latar foto bernuansa alam yang sunyi, dengan deretan pohon pinus menjulang di kiri dan kanan jalan.
Namun, penelusuran detikBali di lokasi menunjukkan bahwa area yang disebut Hutan Folklore sejatinya merupakan jalan alternatif menuju Banjar Paketan dan Subak Guntang, Desa Sukawana. Jalur ini kerap digunakan warga dan kendaraan angkutan.
“Itu lurus terus ada pertigaan. Jalan cabang mirip huruf Y. Kalau ke kanan ke Desa Paketan, yang ke kiri ke arah subak,” ujar seorang sopir truk yang ditemui di lokasi, Minggu (18/1/2026). Ia mengaku tidak mengetahui adanya destinasi wisata bernama Hutan Folklore. “Saya nggak tahu itu. Tapi ini jalan ke Paketan,” katanya.
Akses menuju lokasi dapat ditempuh dari arah Museum Gunungapi Batur dengan mengikuti Jalan Raya Penelokan ke utara, melewati Pura Ulun Danu Batur hingga Kantor Kecamatan Kintamani. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Sukawana sebelum berbelok ke Jalan Subaya–Siakin yang diapit hutan lebat dan jurang.
Menjelang titik yang ditandai Google Maps, terdapat percabangan jalan. Jalur kanan berupa jalan alternatif dengan permukaan tanah, bebatuan, dan cor beton, sementara jalur kiri beraspal mulus. Meski sempit, jalur yang disebut Hutan Folklore masih dapat dilalui sepeda motor hingga truk.
Deretan pohon pinus yang rapat di sepanjang jalan itulah yang memunculkan kesan visual mirip album Folklore. Namun, tidak tersedia area lapang untuk berfoto. Pengunjung hanya bisa berswafoto di badan jalan saat lalu lintas lengang.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bangli, I Nyoman Murdhita, menegaskan tidak ada data resmi mengenai objek wisata bernama Hutan Folklore di Desa Sukawana. “Saya kurang tahu. Saya belum pernah dengar ada hutan folklore,” ujarnya.
Menurut Murdhita, banyak kawasan alam di Kintamani memang dibiarkan lebat tanpa fasilitas pendukung. “Tidak dibangun warung atau fasilitas umum supaya hutannya tetap lestari,” jelasnya. Justru kondisi alam yang masih liar itulah yang kerap diminati wisatawan.
“Kondisi seperti ini yang disukai, alamnya masih alami. Kalau hutannya ditebang dan dibangun fasilitas, kesannya jadi berbeda. Lebih baik dibiarkan lestari, bahkan sering dimanfaatkan sebagai lokasi foto pernikahan,” pungkasnya. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar