BADUNG, Lensabali.id - Mesin penyedot air di Jalan Bypass Ngurah Rai, Denpasar, hingga kini belum dapat beroperasi akibat pencurian panel listrik yang terjadi dua kali sejak tahun lalu. Hilangnya komponen vital tersebut membuat sistem penyedotan air di kawasan itu lumpuh dan berdampak pada munculnya genangan saat hujan turun.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar saat ini tengah mengupayakan pengadaan mesin baru berikut genset guna memulihkan fungsi penyedotan air. Anggaran untuk keperluan tersebut telah disiapkan dan tinggal menunggu persetujuan.
“Sedang diupayakan itu, pengadaan genset dan perbaikan panelnya. Kita sudah anggarkan itu, tinggal tunggu ketok palu aja,” ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Denpasar, Artha Jaya, Senin (19/1/2026).
Jaya menjelaskan, terdapat dua unit mesin penyedot air dengan nilai sekitar Rp 4 miliar yang seluruhnya berada di Jalan Kanda. Keberadaan mesin tersebut dinilai paling efektif untuk mendukung jalur pembuangan air di kawasan Bypass Ngurah Rai.
“Yang dicuri memang itu aja. Panel listrik itu yang ada harganya,” jelasnya.
Tidak berfungsinya mesin penyedot air berdampak langsung pada sistem drainase. Sejumlah titik di sepanjang Bypass Ngurah Rai sempat tergenang air saat hujan, termasuk wilayah sekitar Jalan Bumiayu yang juga terdampak.
Sebagai langkah sementara, Dinas PUPR menerapkan penyedotan air secara mobile dengan memindahkan pompa sesuai kebutuhan lokasi. “Pompa kita berfungsi kok. Malah teratasi. Tapi istilahnya kita kan harus ke sana dulu,” kata Jaya.
Selain itu, pihaknya juga merencanakan pembangunan rumah pompa untuk penanganan genangan air di kawasan Sanur. “Kita mengupayakan pembuatan rumah pompa kok nanti di Bumiayu,” tambahnya.
Menanggapi keluhan warga terkait saluran air yang dianggap tidak berfungsi, Jaya menilai keberadaan saluran tersebut justru mempermudah operasional. Ia menyebut persoalan genangan kerap dipicu oleh naiknya permukaan air laut.
“Saluran itu sebenarnya kemarin elevasinya nggak bagus. Sekarang dengan adanya itu, jadi tertata rapi. Saluran itu udah terkoneksi semua. Kok banjir memang kondisi air laut naik,” jelasnya.
Jaya juga mengakui, selain genangan air, warga kerap mengeluhkan suara bising mesin penyedot air. Namun, pengoperasian pompa harus dilakukan dengan pengawasan ketat agar tidak terganggu oleh sampah.
“Kita pakai curi-curi waktu, mereka tidur kita tungguin pompa. Karena pompa nggak bisa ditinggal. Kemasukan sampah, mengkerut. Harus dimatikan dulu, bersihkan sampahnya,” pungkasnya. (apn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar