𝗚𝘂𝗯𝗲𝗿𝗻𝘂𝗿 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗟𝘂𝗻𝗰𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗕𝘂𝘀 𝗟𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗸 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀 𝗦𝗮𝗿𝗯𝗮𝗴𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗻, 𝗣𝗲𝗿𝗰𝗲𝗽𝗮𝘁 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗽𝗼𝗿𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗵 𝗟𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 - LENSA BALI

Hot


Jumat, 23 Oktober 2026

𝗚𝘂𝗯𝗲𝗿𝗻𝘂𝗿 𝗞𝗼𝘀𝘁𝗲𝗿 𝗟𝘂𝗻𝗰𝘂𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗕𝘂𝘀 𝗟𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗸 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀 𝗦𝗮𝗿𝗯𝗮𝗴𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗮𝗻, 𝗣𝗲𝗿𝗰𝗲𝗽𝗮𝘁 𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗽𝗼𝗿𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗵 𝗟𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶

Gubernur Koster Luncurkan Bus Listrik Trans Sarbagita dan , Percepat Transportasi Ramah Lingkungan di Bali

DENPASAR, Lensabali.id – Pemerintah Provinsi Bali memperkuat upaya transisi energi bersih melalui peluncuran Bus Listrik Trans Sarbagita dan stasiun pengisian daya (charging station) hibah Proyek Bali E-Mobility. Peluncuran dilakukan Gubernur Bali Wayan Koster di Lapangan Timur, Niti Mandala Renon, Kamis (22/10/2026).

Koster mengatakan, kehadiran bus listrik beserta infrastruktur pengisian daya tersebut menjadi langkah konkret untuk mempercepat pemanfaatan energi bersih, terutama pada sektor transportasi. Upaya ini sekaligus mendukung pelaksanaan kebijakan Bali Energi Bersih yang diterapkan dari sektor hulu hingga hilir.

Pada sektor hulu, Pemprov Bali mendorong pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih. Kebijakan itu diarahkan untuk memperluas pemanfaatan energi baru terbarukan, terutama Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Dukungan pemerintah pusat juga diberikan melalui alokasi kapasitas 1.000 megawatt untuk pengembangan PLTS di wilayah Jembrana dan Gilimanuk. Saat ini, proses perizinan masih berlangsung dan proyek tersebut diharapkan mulai dilaksanakan pada 2027.

Sementara di sektor hilir, percepatan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai mengacu pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019. Koster mengakui, implementasinya sempat terkendala pandemi COVID-19. Namun, pada periode kedua kepemimpinannya, ia menegaskan kembali komitmen untuk mempercepat kebijakan tersebut.

“Hasil studinya di Bali 90 persen lebih polusi udaranya bersumber dari pembangkit listrik dan transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil. Oleh sebab itu kebijakan ini kita percepat,” katanya.

Koster turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Korea atas dukungan dalam pengembangan transportasi ramah lingkungan di Bali. Ia juga berterima kasih kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas yang telah menetapkan Bali sebagai penerima manfaat sekaligus lokasi percontohan kerja sama tersebut.

Melalui Proyek Bali E-Mobility, Pemerintah Republik Korea melalui Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas serta Global Green Growth Institute (GGGI), memberikan hibah 11 unit bus listrik dan enam unit infrastruktur pengisian daya kepada Pemprov Bali. Bus yang dihibahkan telah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan bodi bus diproduksi di Indonesia.

“Desain dan warnanya pun kami yang mengarahkan, kombinasi warna hitam, merah dan putih sebagai lambang tri datu sebagai simbol yang lekat dengan nilai budaya Bali. Ayo rame-rame kita beralih menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai,” jelas Koster.

Gubernur Koster Luncurkan Bus Listrik Trans Sarbagita dan , Percepat Transportasi Ramah Lingkungan di Bali

Ia menyebut penjualan mobil listrik di Bali terus meningkat, meski penggunaan kendaraan listrik roda dua dinilai belum berkembang maksimal. Koster mengajak masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik karena dinilai lebih hemat dan efisien, tidak bising, serta tidak menghasilkan emisi gas buang dari kendaraan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan, Bali E-Mobility merupakan wujud kolaborasi Indonesia, Korea Selatan, dan GGGI dalam mendorong peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi bersih. Sebagai lokasi percontohan, Bali diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran untuk pengembangan kebijakan serupa di tingkat nasional.

Rachmat juga mengapresiasi komitmen Pemprov Bali dalam menjalankan pembangunan berkelanjutan melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan melalui pengelolaan sampah rumah tangga, tetapi juga perlu menyasar pencemaran dari pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan industri yang masih mengandalkan energi fosil.

“Saya sejak muda saya sudah kagum dengan kearifan lokal tri hita karana di Bali yaitu bagaimana masyarakat membina hubungan yang baik dan harmonis antara manusia dengan tuhan, manusia dan manusia serta manusia dengan alam. Bagaimana masyarakat bali bisa memberikan kita contoh bagaimana memuliakan alam dengan konsep tri hita karana,” ungkap Pambudy.

Ia menilai filosofi Tri Hita Karana selaras dengan upaya mewujudkan transisi energi dan pembangunan yang harmonis dengan alam. Rachmat berharap Bali dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan bagi Indonesia maupun dunia melalui perpaduan kearifan lokal, pemanfaatan energi bersih, dan pelestarian lingkungan. (*/ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar