BADUNG, Lensabali.id – Dua puluh empat tahun setelah tragedi Bom Bali I, luka fisik, trauma, dan kehilangan masih membayangi kehidupan para penyintas serta keluarga korban. Pada Senin (12/10/2026), sejumlah penyintas kembali mendatangi Monumen Bom Bali di Legian, Kuta, Badung, untuk mengenang peristiwa yang merenggut 202 nyawa tersebut.
Salah satunya Ngesti Budi Rahayu (64), perempuan asal Jember, Jawa Timur. Saat ledakan terjadi pada 12 Oktober 2002, ia tengah menemani atasannya yang berkunjung ke Paddy's Pub. Ketika itu, usianya sekitar 40 tahun.
"Sama bosku, aku diajak ke sini, dia dugem. Pas di Paddys," ujar Ngesti.
Bekas luka bakar di tangan kirinya masih terlihat jelas. Ngesti mengalami luka bakar hingga 30 persen dan harus menjalani perawatan serta operasi di Australia selama tiga bulan. Dampak lainnya, pendengarannya terganggu hingga sekarang dan ia masih membutuhkan alat bantu dengar.
"Mendengar nggak sekarang. Tapi saya mau minta alat untuk bantu mendengar. Sudah bisa diajukan, tapi masih belum dapat," tuturnya.
Ngesti mengaku dahulu rutin menghadiri peringatan Bom Bali setiap tahun. Namun, belakangan ia tidak lagi selalu datang karena tidak selalu mendapat undangan dan anak-anaknya kini telah berkeluarga.
"Kalau dulu memang setiap tahun datang. Kalau akhir-akhir ini, semenjak anak-anak sudah pada berkeluarga, sudah agak lama nggak (datang setiap tahun)," katanya.
Kenangan pahit juga masih dirasakan Sonia (59), yang kehilangan suaminya dalam tragedi tersebut. Saat ledakan terjadi, suaminya yang bekerja sebagai pemandu wisata sedang menunggu tamu di Sari Club.
"Suami guide, meninggal di tempat. Saat itu sedang menjemput tamu, menunggu tamu di Sari Club," ungkap Sonia.
Ia mengenang suaminya terpental akibat ledakan dan mengalami luka parah di bagian belakang kepala. Meski kondisinya mengenaskan, jenazah masih dapat dikenali sehingga bisa dibawa pulang untuk dimakamkan di Banyuwangi, Jawa Timur.
"Waktu itu suami terpental, terus kena trotoar atau apa, dan kepala sini bocor," ceritanya sambil menunjuk bagian belakang kepalanya.
Saat suaminya meninggal, kedua anak mereka masih berusia sekitar lima dan delapan tahun. Sonia mengatakan, pendidikan anak-anaknya sempat mendapat bantuan dari Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) hingga perguruan tinggi. Keluarga korban juga menerima kompensasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Peringatan Bom Bali I ke-24
Suasana peringatan di Monumen Bom Bali diwarnai karangan bunga duka cita yang diletakkan di depan monumen. Para penyintas dan keluarga korban mulai berdatangan, sementara pihak yayasan mempersiapkan kegiatan peringatan.
Sejumlah pedagang menjajakan mawar merah, putih, dan merah muda di sekitar lokasi. Wisatawan domestik maupun mancanegara juga terlihat menyaksikan kegiatan tersebut. Personel kepolisian berjaga di kawasan monumen, dibantu petugas Dinas Perhubungan yang mengatur arus lalu lintas.
Dua puluh empat tahun berlalu, peringatan ini kembali menjadi ruang bagi para penyintas dan keluarga korban untuk mengenang mereka yang telah tiada sekaligus mengingat dampak tragedi yang masih terasa hingga kini. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar