TABANAN, Lensabali.id - Kebakaran di TPA Mandung, Tabanan, membuat pegawai dan staf UPTD Pengolahan Sampah dan Tinja Tabanan terus terpapar kepulan asap. Kondisi tersebut mendorong munculnya permohonan pemeriksaan kesehatan bagi para petugas yang sehari-hari bekerja di lokasi.
Kepala UPTD Pengolahan Sampah dan Tinja Tabanan, I Wayan Atmaja, mengatakan pihaknya akan mengajukan permohonan pemeriksaan kesehatan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan. Selanjutnya, pemeriksaan diharapkan dapat dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Puskesmas Kerambitan.
"Permohonan cek kesehatan untuk pegawai dan staf nanti kami sampaikan kepada kepala dinas. Karena akibat terbakarnya TPA Mandung, asap yang ditimbulkan terus terjadi sehingga pegawai dan staf terus terpapar asap," ujar Atmaja, Rabu (/9/2026).
Menurut Atmaja, terdapat sekitar 50 pegawai dan staf yang bertugas di UPTD tersebut. Mereka tetap bekerja di kawasan TPA, termasuk menangani proses pendinginan titik-titik yang masih mengeluarkan asap maupun bara api.
Selain petugas yang terlibat langsung dalam pendinginan, pegawai lainnya juga menjalankan tugas masing-masing di area TPA. Untuk mengurangi risiko paparan, seluruh pegawai dan staf sementara diwajibkan mengenakan masker selama bekerja.
Dampak asap juga dirasakan warga di sejumlah permukiman sekitar TPA Mandung. Beberapa wilayah yang terdampak antara lain Desa Kukuh, Desa Samsam terutama Banjar Dinas Lumajang, serta Desa Sembung Gede, khususnya Banjar Dinas Mandung.
Perbekel Desa Kukuh, I Nyoman Widi Adnyana, mengatakan desanya menjadi salah satu wilayah yang cukup sering terdampak, terutama ketika malam hari.
"Kalau malam pasti turun asapnya. Jam 8 sampai 9 malam pasti mengebul. Ini hal yang biasa ketika TPA Mandung kebakaran, Desa Kukuh yang paling sering kena," ungkap Widi.
Kepulan asap paling pekat disebut terjadi pada 27 Agustus lalu. Kendati demikian, hingga kini belum ada permintaan pemeriksaan kesehatan dari warga maupun perhatian khusus dari puskesmas. Masyarakat masih sebatas diimbau menggunakan masker saat asap mulai memasuki permukiman.
Perbekel Desa Samsam, I Dewa Made Sukma Medya, menyebut dari enam banjar dinas di wilayahnya, hanya Banjar Dinas Lumajang yang terdampak asap. "Asap mulai memasuki wilayah tersebut di atas pukul 12 siang hingga sore," jelas Sukma.
Sementara itu, Kepala Wilayah Banjar Mandung, I Gusti Made Ari Widhiyana, mengatakan dampak asap di wilayahnya relatif terbatas dan sangat dipengaruhi arah angin. Area yang paling sering terdampak adalah kawasan perumahan di sebelah utara TPA.
"Untuk wilayah Mandung kawasan yang paling sering terdampak kepulan asap adalah area perumahan. Meski begitu, hingga kini belum ada laporan dari warga mengenai gangguan kesehatan akibat asap. Namun, kami terus monitoring jika sewaktu-waktu asap menebal dan warga membutuhkan pertolongan," ujarnya.
Kepala DLH Tabanan, I Made Surya Dharma, memastikan koordinasi dengan Puskesmas Kerambitan dan para perbekel desa terdampak segera dilakukan. Namun, penanganan di lokasi TPA masih menjadi prioritas utama, khususnya proses pendinginan.
"Segera koordinasi dengan Puskesmas Kerambitan dan komunikasi langsung bersama perbekel desa yang terdampak akan dilakukan. Tetapi pendinginan dahulu di lokasi dan penanganan," jelas Surya Dharma.
Pengendalian titik api dilakukan secara rutin dengan pendinginan pada pagi, siang, dan sore hari. Pengawasan terhadap area landfill juga dilaksanakan secara berkala untuk memastikan bara yang tersisa dapat dikendalikan.
"Rutin kontrol landfill seminggu dua kali. Pagi, siang, sore pendinginan di areal yang terbakar. Itu sudah SOP rutin," tegas Surya Dharma.
Setiap hari, sebanyak 10 petugas ditempatkan di lokasi untuk menangani titik-titik yang masih mengeluarkan asap atau bara. Mereka bekerja secara sif dan melakukan penyemprotan area terbakar dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore, untuk mendinginkan bara sekaligus menekan kepulan asap. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar