JEMBRANA, Lensabali.id - Kekeringan yang melanda Kabupaten Jembrana berdampak pada ratusan hektare lahan pertanian. Dari total 138,3 hektare lahan yang terdampak, sebanyak 47,1 hektare tanaman tidak berhasil diselamatkan dan dinyatakan puso.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Putu Eka Arta mengatakan lahan terdampak tersebar di lima kecamatan, yakni Negara, Jembrana, Melaya, Mendoyo, dan Pekutatan.
"Dari total 138,3 hektare lahan yang terdampak kekeringan, astungkara seluas 11 hektare di antaranya berhasil pulih. Namun sayangnya, terdapat 47,1 hektare lahan tanaman yang tidak bisa diselamatkan dan harus dinyatakan puso," ungkap Eka Arta, Kamis (3/9/2026).
Tingkat kerusakan tanaman bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Komoditas padi menjadi tanaman yang paling banyak terdampak di seluruh kecamatan yang mengalami kekeringan.
Selain padi, tanaman jagung juga terdampak di Kecamatan Pekutatan. Kerusakan tercatat mencapai 4 hektare di Subak Air Satang, Desa Medewi, dan 1 hektare di Subak Pangkung Serangsang, Desa Gumbrih.
Penanganan kekeringan telah dilakukan pada lahan seluas 125,85 hektare. Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana berkolaborasi dengan BPBD, PLN, Balai Wilayah Sungai (BWS), Bank Indonesia, Korem 163/Wirasatya, serta Kejaksaan Negeri Jembrana dalam upaya tersebut.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengoptimalkan sekaligus menambah fasilitas sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air pertanian. Namun, ketersediaan air tetap menjadi kendala utama di sejumlah wilayah.
"Solusi utama yang diterapkan di lapangan untuk menangani kekeringan ini adalah dengan memberlakukan sistem pergiliran air secara ketat, serta memaksimalkan pemanfaatan fasilitas sumur bor yang telah tersedia di masing-masing subak," jelas Eka Arta.
Keterbatasan debit air dari sumur bor membuat kebutuhan seluruh lahan terdampak belum dapat terpenuhi. Akibatnya, sebagian tanaman padi tidak memperoleh pasokan air yang cukup dan pertumbuhannya terganggu.
"Permasalahan utama di lapangan adalah sumur bor yang ada tidak mampu mengairi keseluruhan luas wilayah yang terdampak. Akibat keterbatasan debit air pada sistem pergiliran tersebut, beberapa lahan tanaman padi tidak mampu tumbuh secara maksimal dan pada akhirnya menjadi puso," pungkas Eka Arta. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar