BADUNG, Lensabali.id - Pelaku teror bom molotov di Desa Pererenan, Mengwi, Badung, Bali, diduga meminta pembayaran Rp750 juta menggunakan mata uang kripto Bitcoin. Permintaan tersebut disampaikan melalui kontak Telegram yang tercantum dalam surat kaleng berisi ancaman yang diterima korban.
Kuasa hukum korban, Juanda Albert Mandena, mengatakan pihaknya sempat mencoba menghubungi akun Telegram tersebut untuk melacak pelaku. Namun, komunikasi justru diarahkan pada pembayaran menggunakan Bitcoin sehingga identitas pemilik akun sulit diketahui.
"Waktu itu pernah kami kontak, cuma dia ini suruh bayar lewat Bitcoin. Jadi kami nggak bisa tracking juga siapa pemiliknya," kata Juanda, Rabu (23/9/2026).
Aksi pelemparan bom molotov terjadi pada Senin (14/9/2026) sekitar pukul 04.48 Wita. Sebelumnya, korban menerima surat kaleng pada 11 September yang berisi ancaman penagihan utang sebesar Rp750 juta.
Korban bersama tim kuasa hukum kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Mengwi pada sore hari. Namun, hingga kini pelaku belum berhasil diidentifikasi.
"Sorenya langsung kami lapor, tapi belum ada tindak lanjut. Ini bukan cuma soal kejahatan, tapi soal keamanan wilayah pariwisata Bali," ujar Juanda.
Menurut tim kuasa hukum, korban memang memiliki hubungan kerja sama bisnis dengan pihak yang disebut sebagai penagih. Namun, cara penagihan melalui ancaman dan pelemparan molotov dinilai telah keluar dari jalur penyelesaian hukum.
"Memang ada hubungan kerja sama, cuma kalau ada hubungan kayak gitu kan kita bicarakan, kita duduk, kita negosiasi kan. Tapi kalau dengan cara seperti ini kan enggak aman, ini cara-cara premanisme sampai lempar bom molotov," kata Juanda.
Juanda juga menyebut nominal Rp750 juta yang tercantum dalam surat tersebut diduga tidak sesuai dengan nilai kewajiban sebenarnya. Menurutnya, jumlah itu diduga dinaikkan secara sepihak oleh pihak yang melakukan penagihan.
"Nggak segitu nilainya, maksudnya kita bilang fiktif di situ karena jumlahnya fiktif. Sebenarnya nggak sebesar itu juga, karena mungkin mereka meng-up lagi nominalnya," ujar Juanda.
Sejak kejadian tersebut, tidak ada lagi ancaman atau intimidasi susulan yang diterima korban. Meski begitu, kondisi korban dan keluarganya masih diliputi rasa takut. Juanda menyebut keluarga korban, termasuk anak-anak dan anggota keluarga yang sedang sakit, masih mengalami trauma.
"Nanti kalau ada apa-apa, klien pasti lapor ke kami. Cuma kami sayangkan lambatnya proses tindak lanjut ini. Ada orang tua yang lagi sakit, ada anak-anak, ada istrinya juga, mereka syok dan takut kalau mau ke mana-mana," tuturnya.
Aksi pelemparan molotov dilakukan oleh dua orang yang mengenakan pakaian gelap dan terekam kamera CCTV di sekitar permukiman. Rekaman tersebut memperlihatkan keduanya melemparkan molotov ke area bangunan toko kecil di depan rumah korban.
Akibat kejadian itu, api membakar bagian depan bangunan hingga meninggalkan bekas hitam dan kerusakan pada dinding serta pintu kaca. Kasus tersebut masih dalam penanganan kepolisian dan pelaku belum teridentifikasi. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar