TABANAN, Lensabali.id – DTW Jatiluwih, Tabanan, terus mengembangkan atraksi wisata agar pengalaman pengunjung tidak sebatas menikmati panorama sawah terasering. Pengelola kini menyiapkan sejumlah aktivitas yang memungkinkan wisatawan terlibat langsung dalam kegiatan pertanian dan budaya setempat.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih I Ketut Purna mengatakan wisatawan nantinya dapat mengikuti aktivitas seperti panen hingga membuat berbagai alat tradisional yang berkaitan dengan kehidupan persawahan.
"Kami sekarang menyiapkan aktivitas untuk wisatawan supaya mereka tidak hanya melihat sawah saja, tetapi bisa ikut langsung, seperti ikut panen dan membuat alat-alat tradisional yang berhubungan dengan persawahan," ungkap Purna, Kamis (27/8/2026).
Pria yang akrab disapa John itu berharap pengembangan tersebut dapat memperkuat konsep wisata berbasis alam dan budaya. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan tradisi pertanian Jatiluwih.
Saat ini, daya tarik tersebut semakin terasa karena kawasan Jatiluwih tengah memasuki masa panen raya. Aktivitas petani yang masih berlangsung menjadi pemandangan sekaligus pengalaman tersendiri, terutama bagi wisatawan mancanegara.
Pengelola juga merancang pengembangan hutan rakyat sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan tersebut nantinya diarahkan untuk kegiatan penghijauan dan penanaman pohon.
"Kami berencana membuat hutan rakyat juga, seperti penanaman pohon untuk pelestarian. Konsepnya seperti di Kebun Raya Bali," jelas John.
Pengembangan aktivitas pertanian, konservasi, serta panorama terasering diharapkan mampu membuat Jatiluwih menawarkan wisata yang lebih edukatif, interaktif, dan berkelanjutan.
Kunjungan Turis Meningkat
Di tengah pengembangan atraksi, kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih juga mengalami peningkatan. Memasuki periode high season, jumlah kunjungan rata-rata mencapai sekitar 1.500 orang per hari.
John menyebut peningkatan mulai terlihat sejak Juli 2026 dan diperkirakan berlangsung hingga akhir September. Wisatawan asal Eropa menjadi salah satu kelompok yang mendominasi kunjungan selama periode tersebut.
"Sekarang memang sedang high season khususnya wisatawan Eropa. Rata-rata kunjungan sekitar 1.500 per hari," ujar John.
Setelah September, jumlah kunjungan diperkirakan kembali menurun. Namun, arus wisatawan biasanya kembali meningkat menjelang periode libur akhir tahun. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar