𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗦𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗣𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝘂𝘀𝗮𝗺𝗯𝗮, 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗞𝘂𝘀𝗮𝗺𝗯𝗮-𝗚𝗲𝗹𝗴𝗲𝗹 𝗗𝗼𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗴𝗶𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 - LENSA BALI

Hot


Kamis, 13 Agustus 2026

𝗧𝗿𝗮𝗱𝗶𝘀𝗶 𝗦𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗣𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝘂𝘀𝗮𝗺𝗯𝗮, 𝗪𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗞𝘂𝘀𝗮𝗺𝗯𝗮-𝗚𝗲𝗹𝗴𝗲𝗹 𝗗𝗼𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗴𝗶𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗕𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮

Tradisi Saparan di Pantai Kusamba, Warga Kusamba-Gelgel Doa dan Megibung Bersama

KLUNGKUNG, Lensabali.id – Suasana Pantai Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, dipenuhi kebersamaan ratusan warga Desa Kampung Kusamba dan Desa Kampung Gelgel, Rabu (12/8/2026). Deburan ombak berpadu dengan lantunan doa dalam pelaksanaan tradisi Saparan yang digelar masyarakat muslim setempat.

Sejak sekitar pukul 16.00 Wita, warga mulai berdatangan ke pesisir pantai dengan membawa aneka hidangan dari rumah masing-masing. Mereka berkumpul untuk mengikuti doa bersama sekaligus tradisi makan bersama atau megibung.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa keselamatan yang dipimpin tokoh agama setempat. Setelah itu, warga duduk bersila membentuk lingkaran di atas tikar untuk menikmati makanan secara bersama-sama.

Kepala Desa Kampung Kusamba Syahrul Ramadan mengatakan Saparan yang dilaksanakan setiap akhir bulan Safar dalam kalender Hijriah menjadi momentum masyarakat untuk memanjatkan doa sekaligus mempererat hubungan antarsesama.

"Tradisi Saparan ini rutin kami laksanakan setiap tahun. Inti kegiatannya adalah doa bersama untuk memohon keselamatan, perlindungan dari bencana, serta ungkapan rasa syukur. Setelah doa selesai, kita lanjutkan dengan megibung bersama di tepi laut," ujar Syahrul di Pantai Kusamba, Rabu (12/8/2026).

Menurut Syahrul, megibung juga menjadi sarana menjaga silaturahmi antara warga Kampung Kusamba dan Kampung Gelgel. Tradisi tersebut sekaligus mencerminkan keharmonisan masyarakat muslim dengan warga Hindu di kawasan pesisir.

"Melalui megibung, tidak ada sekat antarwarga. Semua duduk sejajar di pantai, berbagi makanan yang dibawa. Ini bentuk nyata toleransi dan kerukunan pesisir yang sudah diwariskan oleh para leluhur kami ratusan tahun lalu," tegasnya.

Pantai Kusamba dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki keterikatan erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Sebagian besar warga di kawasan tersebut menggantungkan penghidupan sebagai nelayan dan petani garam.

Menuju Pengakuan sebagai WBTB

Pelaksanaan Saparan tahun ini juga menjadi bagian dari proses menuju pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Tradisi tersebut telah masuk dalam daftar usulan WBTB nasional 2026.

Syahrul menyebut proses pengusulan telah berjalan selama sekitar dua bulan. Pelaksanaan tradisi kali ini sekaligus menjadi bagian dari penilaian tim WBTB.

"Tradisi ini sudah memasuki sejumlah tahapan yang sudah berproses sejak dua bulan lalu. Kali ini langsung dinilai oleh tim WBTB dalam proses pelaksanannya," terang Syahrul.

Bupati Klungkung I Made Satria yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi masyarakat yang konsisten mempertahankan tradisi Saparan. Ia menilai kegiatan tersebut memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

"Jujur sore ini saya merasa berbahagia menyaksikan umat muslim berkumpul menjadi satu keluarga, bersama-sama menjalankan tradisi Saparan," ujar Satria.

Ia berharap Saparan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial ataupun sekadar memperoleh pengakuan WBTB. Tradisi tersebut diharapkan terus menjadi identitas masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Mudah-mudahan tradisi ini tetap dapat dilestarikan. Dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh masyarakat terutama ummat muslim, dan generasi mudanya untuk terus mewarisi ini sebagai warisan yang membanggakan kita. Karena ini bukan hanya seremoni belaka, namun menjaga kebersamaan kita," paparnya.

Satria menambahkan, nilai utama dalam megibung terletak pada kebersamaan tanpa membedakan latar belakang masyarakat.

"Megibung itu esensinya kita akan makan bersama, dengan tidak membedakan siapa-siapa. Kita bersama-sama menyantap hidangan bersama," imbuh Satria. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar