𝗜𝗡𝗗𝗘𝗙 𝗦𝗼𝗿𝗼𝘁𝗶 𝗧𝗿𝗲𝗻 ‘𝗚𝗮𝗹𝗶 𝗟𝘂𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗧𝘂𝘁𝘂𝗽 𝗟𝘂𝗯𝗮𝗻𝗴’ 𝗮𝗸𝗶𝗯𝗮𝘁 𝗣𝗶𝗻𝗷𝗼𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗮𝘆𝗹𝗮𝘁𝗲𝗿 - LENSA BALI

Hot


Selasa, 12 Mei 2026

𝗜𝗡𝗗𝗘𝗙 𝗦𝗼𝗿𝗼𝘁𝗶 𝗧𝗿𝗲𝗻 ‘𝗚𝗮𝗹𝗶 𝗟𝘂𝗯𝗮𝗻𝗴 𝗧𝘂𝘁𝘂𝗽 𝗟𝘂𝗯𝗮𝗻𝗴’ 𝗮𝗸𝗶𝗯𝗮𝘁 𝗣𝗶𝗻𝗷𝗼𝗹 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗮𝘆𝗹𝗮𝘁𝗲𝗿

INDEF Soroti Tren ‘Gali Lubang Tutup Lubang’ akibat Pinjol dan Paylater

JAKARTA, Lensabali.id – Pola keuangan masyarakat Indonesia disebut mulai mengalami pergeseran yang mengkhawatirkan. Jika sebelumnya kebutuhan hidup masih banyak ditopang tabungan, kini semakin banyak warga mengandalkan pinjaman digital seperti pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater.

Dilansir dari detikFinance, tren tersebut tercermin dari melonjaknya outstanding utang masyarakat pada layanan pinjaman berbasis digital sepanjang awal 2026. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pinjaman peer-to-peer lending mencapai Rp 100,69 triliun pada Februari 2026.

Nilai tersebut meningkat 25,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara tahunan (year-on-year/yoy). Di sisi lain, transaksi layanan paylater juga tumbuh sangat signifikan.

PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat nilai transaksi BNPL mencapai Rp 56,3 triliun hingga akhir Februari 2026 atau melonjak 86,7 persen secara tahunan.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai pertumbuhan utang tersebut menjadi sinyal bahwa masyarakat semakin mengandalkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan.

“Kalau lihat growth-nya berarti makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif,” ujar Tauhid.

Menurutnya, persoalan utama bukan hanya pada jumlah pinjaman yang meningkat, tetapi juga bunga yang harus dibayar masyarakat. Kondisi itu membuat sebagian warga terjebak dalam pola “gali lubang tutup lubang”.

“Baru selesai, dia sudah pinjam yang lain. Nah ini yang saya kira membuat masyarakat makin lama makin tidak sehat kondisi keuangannya,” terangnya.

Tauhid juga menyoroti perlambatan pertumbuhan tabungan masyarakat, khususnya pada kelompok nasabah dengan simpanan di bawah Rp 100 juta. Hal itu dianggap mencerminkan semakin menipisnya daya tahan finansial kelas menengah ke bawah.

“Kalau ada uang, pasti mereka bayar cash. Biasanya orang yang punya uang tidak bayar pakai paylater atau pinjol,” jelasnya.

Ia menilai kondisi saat ini menunjukkan pergeseran pola bertahan hidup masyarakat, dari sebelumnya “makan tabungan” kini berubah menjadi “makan utang”, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar