𝗣𝗲𝗻𝘆𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗚𝗶𝗻𝗷𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗴𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗨𝘀𝗶𝗮 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸𝘁𝗶𝗳, 𝗗𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗞𝗶𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 - LENSA BALI

Hot


Kamis, 12 Februari 2026

𝗣𝗲𝗻𝘆𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗚𝗶𝗻𝗷𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗴𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗨𝘀𝗶𝗮 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸𝘁𝗶𝗳, 𝗗𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗶𝘀 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗞𝗶𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁

Penyakit Ginjal Menggerus Usia Produktif, Dialisis di Bali Kian Meningkat

DENPASAR, Lensabali.id – Terapi cuci darah yang selama ini lekat dengan kelompok lanjut usia kini mulai bergeser ke usia produktif. Fenomena ini menjadi sinyal serius meningkatnya penyakit ginjal di Bali, seiring melonjaknya kasus diabetes melitus dan hipertensi pada usia kerja.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr I Nyoman Gede Anom, menyebut kondisi tersebut bukan terjadi secara mendadak, melainkan akibat akumulasi kebiasaan tidak sehat dalam jangka panjang. “Penyebabnya sangat kompleks. Yang paling sering adalah kadar gula darah tinggi, kolesterol tinggi, serta tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Data Dinas Kesehatan Bali mencatat jumlah pasien hemodialisis terus mengalami peningkatan. Pada 2024, tercatat sebanyak 5.113 pasien menjalani cuci darah, sementara pada 2025 jumlahnya naik menjadi 5.336 pasien. Layanan dialisis di 36 rumah sakit di Bali juga menunjukkan fluktuasi, dengan sejumlah rumah sakit mencatat lonjakan signifikan.

Secara umum, pasien masih didominasi kelompok usia 46–55 tahun, 56–65 tahun, dan di atas 65 tahun, terutama di rumah sakit rujukan besar seperti RSUP Sanglah Denpasar, RSUD Tabanan, RSUD Buleleng, dan RS Balimed Denpasar. Namun, tren pada kelompok usia lebih muda mulai terlihat.

Kelompok usia 36–45 tahun tercatat menyumbang angka yang cukup menonjol, disusul usia 26–35 tahun yang mulai muncul di sejumlah rumah sakit. Kondisi ini menandakan pergeseran risiko penyakit ginjal ke usia produktif, seiring meningkatnya prevalensi penyakit metabolik.

Dinkes Bali menilai tingginya kasus pada usia kerja berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi. Pasien tidak hanya menghadapi beban kesehatan jangka panjang, tetapi juga risiko penurunan produktivitas akibat terapi cuci darah yang harus dijalani secara rutin.

Selain penyakit tidak menular, konsumsi alkohol berlebihan juga disebut berkontribusi terhadap kerusakan ginjal. Penggunaan produk tertentu, termasuk produk pemutih yang mengandung bahan berbahaya, turut diingatkan karena berisiko merusak ginjal dalam jangka panjang.

Dari sisi pola konsumsi, tingginya konsumsi minuman manis kemasan dan makanan cepat saji, ditambah kebiasaan kurang minum air putih, dinilai memperberat kerja ginjal. “Minuman manis, makanan cepat saji, ditambah kurang minum air putih, semuanya saling berkaitan dan memperberat kerja ginjal,” tegas Anom.

Sementara itu, pasien dialisis pada kelompok anak dan remaja masih sangat minimal, bahkan nihil di sebagian besar rumah sakit. Meski demikian, temuan kasus pada usia produktif menjadi peringatan penting akan urgensi pencegahan dan deteksi dini sejak dini. (apn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar