DENPASAR, Lensabali.id - Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali untuk memutus ketergantungan pasokan listrik dari luar pulau sekaligus mempercepat transformasi menuju Bali Mandiri Energi berbasis energi bersih. Pengembangan PLTS atap, Battery Energy Storage System (BESS), serta kendaraan listrik ditegaskan sebagai pilar utama kebijakan tersebut.
Penegasan itu disampaikan Koster saat memimpin rapat koordinasi di Ruang Kertasabha, Jayasabha, Denpasar, Kamis (5/2), yang secara khusus membahas progres pelaksanaan PLTS atap di Bali, termasuk rencana pengembangan PLTS dan BESS di Nusa Penida.
“Saya ingin mendapat laporan pelaksanaan PLTS atap di Bali, termasuk Nusa Penida. Wilayah itu ingin kita jadikan hijau dan beroperasi dengan energi baru terbarukan. Ini bagian dari program Bali Mandiri Energi dengan energi bersih,” tegas Koster.
Bali Punya Modal Regulasi Paling Lengkap di Indonesia
Gubernur Koster menekankan bahwa Bali memiliki fondasi kebijakan yang sangat kuat untuk melakukan lompatan besar di sektor energi. Bali menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki regulasi daerah lengkap, mulai dari Pergub Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih, Perda Provinsi Bali Nomor 9 Tahun 2020 tentang RUED Bali 2020–2050, hingga Pergub Nomor 48 Tahun 2019 tentang Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.
“Sekarang kita bisa bergerak cepat, karena kita dengan PLN sudah satu visi. Tinggal percepatan pelaksanaan,” ujarnya.
Keselarasan tersebut diperkuat dengan keterlibatan PLN Group, termasuk ICON PLUS dan PLN Indonesia Power, serta meningkatnya minat sektor swasta dalam pengembangan energi bersih di Bali.
PLTS Atap Terbukti Murah dan Andal, Koster Cerita Pengalaman Pribadi
Dalam rapat tersebut, Koster membagikan pengalaman pribadinya menggunakan PLTS atap di rumahnya di desa. Dengan delapan panel surya berkapasitas terpasang sekitar 10.000 watt dan dilengkapi sistem penyimpanan energi, daya efektif yang dihasilkan mencapai sekitar 6.000 watt.
“Pembayaran listrik bulanan turun sekitar 30 persen. Yang paling bagus, saat PLN mati, listrik di rumah saya tetap hidup. Satu kampung mati, rumah saya tidak mati,” ungkapnya.
Menurut Koster, pengalaman ini menjadi bukti bahwa PLTS atap bukan hanya efisien dan andal, tetapi juga memperkuat ketahanan energi rumah tangga. Karena itu, pemanfaatannya harus diperluas ke perkantoran, hotel, restoran, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas publik.
PLTS Atap dan BESS, Pilar Ketahanan Energi Pulau Bali
Sejalan dengan arahan Gubernur, Perumda Kerta Bali Saguna mengembangkan PLTS atap terintegrasi BESS dan EV Solar Charging Station untuk menurunkan beban puncak dan menstabilkan sistem kelistrikan pulau (island grid).
Skema ini menawarkan efisiensi biaya energi sebesar 10–23 persen, dengan investasi dan operasional ditanggung pihak swasta selama masa kontrak. Aset akan menjadi milik pemilik lahan setelah kontrak berakhir.
Sebagai tahap awal, penerapan PLTS atap difokuskan pada fasilitas publik strategis seperti RSUD Bali Mandara, RS Mata Bali Mandara, IPAL Suwung, dan Jalan Tol Bali Mandara sebagai contoh nyata transformasi energi bersih di ruang publik.
Nusa Penida Disiapkan Jadi Etalase Pulau Hijau Bali
Untuk wilayah kepulauan, PLN Indonesia Power tengah mengembangkan PLTS Hybrid 4,5 MW dan BESS Hybrid 4,5 MW di Nusa Penida, yang ditargetkan beroperasi pada 2026 sesuai RUPTL PLN 2025–2034.
Proyek ini dinilai krusial mengingat sistem kelistrikan Nusa Penida bersifat isolated, dengan pertumbuhan beban listrik mencapai 17 persen per tahun. Kehadiran PLTS dan BESS diharapkan mampu meningkatkan keandalan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan energi fosil.
“Nusa Penida harus menjadi contoh pulau hijau dengan energi bersih,” tegas Koster.
Kendaraan Listrik: Hemat, Bersih, dan Angkat Kelas Pariwisata
Gubernur Koster juga menegaskan pentingnya percepatan penggunaan kendaraan listrik yang dinilai jauh lebih hemat dan ramah lingkungan.
“Kalau pakai mobil lama, biaya bisa Rp600 ribu. Pakai listrik hanya Rp140 ribu. Tidak pakai oli, perawatan murah, dan tidak ada polusi,” ujarnya.
Menurutnya, energi bersih, kendaraan listrik, pembatasan plastik sekali pakai, serta pertanian organik merupakan satu kesatuan strategi untuk menaikkan kualitas dan keberlanjutan pariwisata Bali.
Tolak Ketergantungan Kabel Bawah Laut, Koster Tegas: Batubara Tidak
Dalam pernyataan tegasnya, Koster menolak penambahan pasokan listrik Bali dari luar pulau melalui kabel bawah laut.
“Saya tidak mau lagi Bali bergantung pada listrik luar. Pembangkit harus dibangun di Bali dan harus energi bersih. Batubara, saya tidak mau,” tegasnya.
Ia menilai ketergantungan energi eksternal menyimpan risiko besar bagi pulau kecil seperti Bali yang menjadi destinasi pariwisata dunia.
Target 2026–2029: Transformasi Besar Energi Bali
Gubernur Koster menantang seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja dengan target yang jelas dan terukur. Ia berharap hasil nyata mulai terlihat pada 2026–2028 dan mencapai tonggak besar pada 2029.
“Kalau ini tercapai, itu transformasi besar di bidang energi. Bali akan tampil semakin maju dan semakin keren,” pungkasnya.
Dengan percepatan PLTS, BESS, kendaraan listrik, dan energi bersih, Bali tidak hanya membangun sistem kelistrikan, tetapi menata masa depan pulau yang mandiri, bersih, dan berkelas dunia. (*/ap)

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar