𝗦𝘁𝗮𝗯𝗶𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮, 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗿𝗲𝗻𝗲𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗹𝗮𝗿 𝗢𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗖𝗮𝗯𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗮𝘄𝗮𝗻𝗴 - LENSA BALI

Hot


Selasa, 20 Januari 2026

𝗦𝘁𝗮𝗯𝗶𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮, 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗿𝗲𝗻𝗲𝗻𝗴 𝗚𝗲𝗹𝗮𝗿 𝗢𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗖𝗮𝗯𝗮𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗕𝗮𝘄𝗮𝗻𝗴

Stabilisasi Harga, Pasar Kreneng Gelar Operasi Pasar Cabai dan Bawang

DENPASAR, Lensabali.id - Upaya menstabilkan harga kebutuhan pokok dilakukan melalui kegiatan operasi pasar di Pasar Kreneng, Denpasar, dengan fokus pada komoditas bawang putih dan cabai rawit. Intervensi ini dilakukan menyusul kenaikan harga kedua komoditas tersebut berdasarkan hasil pemantauan rutin pengelola pasar.

Kepala Subbagian Administrasi dan Keuangan Perumda Pasar Kreneng, Ni Wayan Methawati, menjelaskan penentuan komoditas operasi pasar mengacu pada survei harga harian yang dilaporkan ke Perumda Pasar Sewakadharma. “Setiap hari kita survei semua komoditas, lalu kita kirim laporannya ke Bina Usaha. Nanti mereka yang menentukan komoditas mana yang naik, itu yang jadi objek operasi pasar,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, pengelola pasar melibatkan pedagang yang selama ini menjadi mitra survei harga Bank Indonesia dan Dinas Ketahanan Pangan. “Kenapa dua pedagang itu yang dipilih, karena sudah menjadi objek survei BI dan Dinas Ketahanan Pangan, dan sudah biasa menggunakan sistem nikel, jadi tetap kita pakai mereka,” jelas Methawati.

Berdasarkan survei per 19 Januari 2026, harga bawang putih tercatat Rp35.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp40.000 per kilogram, dan cabai rawit hijau Rp50.000 per kilogram. Melalui operasi pasar, bawang putih dan cabai rawit mendapat subsidi Rp2.000 per kilogram sehingga dijual lebih murah kepada masyarakat. “Sekarang telur sudah turun, jadi kita tidak lagi OP telur. Yang naik sekarang bawang putih dan cabai rawit, jadi itu yang kita intervensi,” imbuhnya.

Pedagang cabai di Pasar Kreneng, Eka, mengatakan minat pembeli meningkat saat operasi pasar berlangsung. “Hari ini bawang putih lebih banyak yang beli karena tahu di sini lebih murah,” katanya. Ia menambahkan, pasokan cabai rawit berasal dari Baturiti, Tabanan, termasuk dari petani greenhouse. “Kalau pakai greenhouse hasilnya bagus, tapi harganya juga lebih mahal,” ujarnya. Sementara bawang putih masih bergantung pada pasokan luar Bali. “Kalau kontainer datangnya sedikit, otomatis harga naik,” tambah Eka. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar