𝗣𝗮𝘀𝗼𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗺𝗼𝗿𝗶 𝗠𝗲𝗻𝘆𝘂𝘀𝘂𝘁, 𝗟𝗮𝗽𝘁𝗼𝗽 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗖 𝗛𝗮𝗱𝗮𝗽𝗶 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮 - LENSA BALI

Hot


Rabu, 14 Januari 2026

𝗣𝗮𝘀𝗼𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗺𝗼𝗿𝗶 𝗠𝗲𝗻𝘆𝘂𝘀𝘂𝘁, 𝗟𝗮𝗽𝘁𝗼𝗽 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗖 𝗛𝗮𝗱𝗮𝗽𝗶 𝗞𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮

Pasokan Memori Menyusut, Laptop dan PC Hadapi Kenaikan Harga

Lensabali.id - Pasar komputer pribadi yang selama lebih dari satu dekade terbukti tangguh menghadapi berbagai perubahan teknologi kini kembali diuji. Kali ini, tekanan datang dari krisis memori global yang dipicu melonjaknya kebutuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti dikutip detikINET dari The Verge, Senin (12/1/2026).

Dalam beberapa bulan terakhir, harga RAM dan NAND atau SSD dilaporkan naik tajam seiring pasokan yang semakin ketat. Dampaknya lebih dulu terasa di pasar PC rakitan, mulai dari lonjakan harga komponen hingga kasus ekstrem perakit yang menjual PC tanpa RAM. Kini, efek tersebut mulai merembet ke laptop dan PC dari produsen besar seperti Lenovo, Dell, HP, Asus, dan Acer.

Proyeksi TrendForce menunjukkan tren kenaikan harga memori diperkirakan berlanjut pada kuartal pertama 2026. Kondisi ini berpotensi mendorong harga jual laptop dan PC semakin tinggi. Sinyal penyesuaian harga pun terlihat di ajang CES 2026, ketika sejumlah produsen mulai mengubah strategi penetapan harga.

Asus, misalnya, telah menginformasikan mitra distribusinya mengenai rencana kenaikan harga akibat situasi pasar memori. Dell bahkan disebut menyesuaikan harga peluncuran XPS 14 dan XPS 16 hanya beberapa jam sebelum diumumkan secara resmi. Sementara itu, Lenovo memilih menimbun stok memori demi mengamankan pasokan sepanjang 2026.

HP juga mengingatkan adanya potensi kenaikan harga serta kemungkinan konfigurasi RAM yang lebih rendah di akhir tahun, meski perusahaan tersebut masih memiliki cadangan stok. Namun, menurunkan kapasitas RAM bukan solusi sederhana. Meski Windows 11 menetapkan batas minimum 4 GB, performanya dinilai kurang ideal. TrendForce mencatat laptop kelas entry-level sulit menurunkan kapasitas RAM secara cepat karena keterbatasan sistem operasi dan tuntutan prosesor.

Situasi ini muncul di tengah momentum migrasi besar-besaran dari Windows 10 yang telah mencapai akhir masa dukungan menuju Windows 11, yang biasanya diiringi pembaruan perangkat. Pemulihan pengiriman PC sepanjang 2025 pun terancam tertahan ketika pasokan memori semakin menipis.

Lebih jauh, kenaikan harga memori diperkirakan bukan sekadar masalah sementara. IDC menilai kondisi ini sebagai pergeseran struktural, di mana kapasitas produksi wafer kini lebih diprioritaskan untuk kebutuhan AI. Produsen memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron semakin memfokuskan produksi pada HBM dan DDR5 berkapasitas tinggi untuk pusat data, sehingga pasokan bagi PC dan laptop konsumen berkurang.

Dampaknya turut dirasakan di pasar PC gaming. Perakit kecil yang tidak mampu menimbun RAM dan SSD diperkirakan paling terdampak, membuka peluang bagi OEM besar memperluas pangsa pasar. Tekanan harga bahkan mulai menjalar ke GPU, dengan kartu grafis kelas atas seperti RTX 5090 dijual jauh di atas harga ritel resmi.

Jika biaya merakit PC terus meningkat sepanjang 2026, bukan hanya pasar PC yang tertekan. Rencana konsol generasi berikutnya, termasuk Xbox dan PlayStation, juga berpotensi terdampak mahalnya komponen. Krisis memori ini menjadi ujian besar bagi industri PC, sekaligus menegaskan bagaimana dorongan AI mulai mengubah prioritas industri semikonduktor dengan konsekuensi langsung bagi konsumen. (*/apn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar