𝗛𝗮𝗹𝘂𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝟭𝟬𝟬 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗘𝗿𝗮 𝗕𝗮𝗿𝘂, 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗝𝗮𝘁𝗶 𝗗𝗶𝗿𝗶 𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗔𝗿𝘂𝘀 𝗚𝗹𝗼𝗯𝗮𝗹 - LENSA BALI

Hot


Selasa, 06 Januari 2026

𝗛𝗮𝗹𝘂𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝟭𝟬𝟬 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗘𝗿𝗮 𝗕𝗮𝗿𝘂, 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗴𝗮 𝗝𝗮𝘁𝗶 𝗗𝗶𝗿𝗶 𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗔𝗿𝘂𝘀 𝗚𝗹𝗼𝗯𝗮𝗹

Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Era Baru, Menjaga Jati Diri di Tengah Arus Global

DENPASAR, Lensabali.id - Bali memasuki fase penting dalam perjalanan sejarahnya. Melalui Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125, Pulau Dewata menetapkan arah pembangunan jangka panjang yang berpijak kuat pada karakter, jati diri, dan peradaban Bali. Haluan ini menjadi tonggak politik peradaban, menandai dimulainya pembangunan yang terstruktur, menyeluruh, terencana, dan terintegrasi untuk satu abad mendatang.

Dokumen haluan tersebut dirancang bukan sekadar sebagai pedoman kebijakan pembangunan, melainkan sebagai peta jalan peradaban. Tujuannya memastikan Bali tumbuh kokoh, berkelanjutan, serta mampu beradaptasi dengan dinamika global tanpa tercerabut dari akar budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang menjadi identitasnya.

Pembangunan Bali ke depan tidak lagi dimaknai semata sebagai pertumbuhan ekonomi dan fisik, melainkan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan kebudayaan. Fondasi ini diyakini mampu mengokohkan posisi Bali di tengah perubahan lokal, nasional, hingga global yang kian cepat dan kompleks.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, penguatan identitas menjadi kunci utama di tengah dunia yang menurutnya mulai kehilangan arah peradaban. Ia menyinggung kondisi sejumlah negara di Eropa dan Amerika yang justru tengah mencari kembali jati diri mereka.

“Banyak negara sekarang mencari jati diri—siapa mereka dan bagaimana peradabannya. Dalam hal itu, menurut saya, banyak yang sudah runtuh. Di Indonesia pun, mungkin Jawa sudah kehilangan. Di Bali, kita masih punya. Dan itulah yang saya angkat dalam Haluan 100 Tahun dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” tegas Koster saat ramah tamah bersama insan pers di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Minggu (4/1/2026).

Ia menekankan bahwa substansi Haluan Pembangunan Bali Masa Depan sepenuhnya bertumpu pada kelokalan Bali. Pembangunan dirancang untuk membangun Bali sebagai Bali itu sendiri—masyarakat Bali yang berkarakter kuat, beridentitas jelas, dan berjati diri kokoh.

“Yang kita bangun bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menjalankan sebuah peradaban,” ujar Koster.

Karena itu, ia memandang peran media sangat strategis dalam mengawal dan menyosialisasikan haluan pembangunan ini. Pemerintah Provinsi Bali telah menyiapkan berbagai agenda sosialisasi dan implementasi agar Haluan 100 Tahun dipahami secara utuh oleh seluruh elemen masyarakat.

“Ini harus disampaikan luas kepada publik. Dukungan media sangat penting agar pelaksanaannya berjalan baik dan konsisten,” katanya.

Gubernur Koster juga mengungkapkan bahwa lahirnya Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun tidak terlepas dari arahan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, yang menekankan pentingnya memastikan haluan ini benar-benar dijalankan secara berkelanjutan. “Astungkara, ini jalan. Ini bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk Bali,” ucapnya.

Seluruh arah, tatanan, dan substansi pembangunan Bali telah dirumuskan secara komprehensif dalam haluan tersebut. Jika dilaksanakan secara konsisten lintas generasi dan kepemimpinan, Koster meyakini Bali akan tumbuh semakin kuat—adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap berakar pada budaya dan kearifan lokal.

“Inilah yang akan memperkuat fundamental Bali—alamnya, manusianya, dan kebudayaannya—untuk ratusan tahun ke depan,” tegasnya.

Sejumlah kebijakan dan program yang telah berjalan pada periode pertama 2018–2023 disebut menjadi fondasi berkelanjutan dari Haluan 100 Tahun. Di antaranya penggunaan aksara Bali, bahasa Bali, busana adat Bali, penguatan produk lokal, serta berbagai regulasi yang menempatkan kearifan lokal sebagai warisan hidup bagi generasi kini dan mendatang.

Melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Era Baru, Bali menegaskan pilihan strategisnya: maju tanpa kehilangan jati diri, mendunia tanpa meninggalkan akar, dan membangun masa depan dengan peradaban yang berkarakter. Sebuah ikhtiar panjang untuk memastikan Bali tetap Bali—hari ini, esok, dan satu abad ke depan. (*/ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar