𝗗𝗲𝘀𝗮 𝗕𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗶𝗵 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗟𝗲𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴 𝗩𝗶𝗹𝗹𝗮𝗴𝗲 𝟮𝟬𝟮𝟲 - LENSA BALI

Hot


Minggu, 04 Oktober 2026

𝗗𝗲𝘀𝗮 𝗕𝗮𝘁𝘂𝗮𝗻 𝗥𝗮𝗶𝗵 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗿𝗴𝗮𝗮𝗻 𝗜𝗻𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗟𝗲𝗮𝗿𝗻𝗶𝗻𝗴 𝗩𝗶𝗹𝗹𝗮𝗴𝗲 𝟮𝟬𝟮𝟲

Desa Batuan Raih Penghargaan Internasional Learning Village 2026

GIANYAR, Lensabali.id - Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, meraih Juara I kategori Learning Village dalam Innovation CitySEAM & Learning Village Award 2026. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan internasional atas upaya desa mengembangkan budaya dan kehidupan masyarakat sebagai ruang pembelajaran berkelanjutan.

Ajang tersebut diinisiasi Badan Pengembangan Sains dan Teknologi (STA) Thailand bersama Universitas Phayao, National Innovation Agency (NIA), NESDC Kementerian Pendidikan Thailand, EO SEPS, serta Politeknik Pariwisata Bali. Desa Batuan menjadi salah satu dari dua pemenang utama bersama Baan Ton Haen Noi, Chiang Mai, Thailand.

Dari lima desa asal Bali yang masuk nominasi, Batuan menjadi satu-satunya yang meraih predikat pemenang. Empat desa lainnya, yakni Desa Tua, Celuk, Kuku, dan Tegaljadi, memperoleh sertifikat partisipasi.

Kepala Desa Batuan Ari Anggara mengatakan penghargaan tersebut tidak diperoleh dari satu kegiatan sesaat. Sekitar dua bulan sebelum penetapan, desa menjalani proses pengumpulan data, fakta, dan dokumentasi berbagai inovasi yang telah dikembangkan selama beberapa tahun.

"Khususnya dalam membangun ekosistem pembelajaran berbasis kebudayaan," jelas Ari Anggara saat dikonfirmasi Minggu (4/10/2026).

Menurut Ari, konsep Learning Village dipilih karena sesuai dengan karakter Batuan sebagai desa seni dan budaya. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga tumbuh dari kehidupan sehari-hari melalui seni, tradisi, sejarah, lingkungan hingga tata kelola desa.

“Fokus kami adalah Learning Village. Bagaimana inovasi-inovasi desa diarahkan untuk proses pembelajaran berkelanjutan di bidang kebudayaan. Kami punya sanggar, kegiatan seni dan berbagai aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” jelas Ari.

Konsep tersebut kemudian dikembangkan melalui Batuan Experiences, paket wisata edukatif yang mengajak pengunjung tidak sekadar melihat objek wisata, tetapi berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mempelajari seni serta tradisi setempat. Program ini telah berjalan sekitar dua tahun dan disebut turut meningkatkan pendapatan asli desa melalui BUMDes Praja Kerta.

“Paket Batuan Experience ini sudah berjalan sejak dua tahun lalu dan terbukti mendongkrak pendapatan asli desa melalui BUMDes Praja Kerta,” katanya.

Konsep itu juga diperkenalkan kepada sekitar 50 akademisi dari berbagai negara dalam Batuan Experiences: Batuan Village - Living Heritage of Gianyar pada 25 September 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari International Conference IJCHT 2026 tersebut mengajak peserta mengenal rumah tradisional Bali, Pura Puseh Desa Adat Batuan, seni lukis, tari, ukiran kayu hingga pengelolaan sampah melalui TPS3R.

Ari menilai kekuatan Batuan terletak pada warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat. Desa tersebut dikenal sebagai salah satu desa kuno di Bali dan tercatat dalam Prasasti Baturan pada 944 Saka atau 1022 Masehi, masa pemerintahan Raja Bali X, Sri Aji Marakata.

Jejak sejarah itu terus diwariskan melalui seni lukis, tari, tradisi, arsitektur rumah Bali, sanggar, komunitas hingga berbagai aktivitas sosial. Karena itu, konsep Learning Village tidak hanya menampilkan kekayaan budaya, tetapi menjadikannya sebagai pengetahuan yang terus dipelajari dan dikembangkan lintas generasi.

Bagi Desa Batuan, penghargaan tersebut bukan menjadi akhir. Predikat internasional itu justru memperkuat komitmen untuk menjaga budaya sekaligus menjadikannya sumber pembelajaran dan kekuatan ekonomi masyarakat.

“Ini mengukuhkan posisi kita. Ikon kita sebelumnya adalah bagaimana mengembangkan Batuan Experience menjadi satu paket wisata edukatif yang membelajarkan. Jadi bukan hanya wisata, tetapi ada proses pembelajaran di dalamnya,” kata Ari.

Penghargaan tersebut rencananya diserahkan di Bali pada 3 Desember 2026. Dari desa kuno yang namanya tercatat lebih dari seribu tahun lalu, Batuan kini membawa sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakatnya ke panggung internasional melalui konsep desa sebagai ruang belajar yang hidup. (*ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar