DENPASAR, Lensabali.id – Transformasi Posyandu membutuhkan kader yang tidak hanya aktif dalam pelayanan, tetapi juga peka membaca persoalan di lingkungan. Pesan itu mengemuka dalam Aksi Sosial Membina dan Berbagi yang digelar Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali di Kota Denpasar, Senin (7/9/2026).
Kegiatan dilaksanakan di dua titik, yakni Balai Banjar Bun, Kelurahan Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, dan Banjar Kelod, Kelurahan Renon. Pembinaan kader dirangkaikan dengan pemberian bantuan sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian mereka dalam melayani masyarakat.
Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster menyampaikan kader berada pada posisi yang sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat. Dari kedekatan tersebut, kader dapat mengetahui lebih cepat kondisi, kebutuhan, keluhan, maupun aspirasi warga.
Peran tersebut semakin penting setelah Posyandu bertransformasi melalui enam SPM. Pelayanan yang diberikan kini mencakup enam bidang, yakni pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, serta sosial.
Karena cakupan tugas semakin luas, kader dituntut memahami enam SPM secara menyeluruh. Kader tidak hanya mengelola kegiatan Posyandu, tetapi juga berperan mencatat kebutuhan dan permasalahan masyarakat untuk disampaikan kepada pemerintah kelurahan atau pihak yang memiliki kewenangan menindaklanjuti.
Posisi ini membuat kader menjadi penghubung penting antara masyarakat dengan pemerintah. Data dan informasi yang diperoleh dari tingkat lingkungan dapat menjadi dasar agar pelayanan dasar diberikan sesuai kebutuhan, sekaligus membantu pemerintah merespons persoalan secara lebih cepat.
Di Denpasar, penguatan peran tersebut mencakup 459 kelompok Posyandu yang tersebar pada 27 desa/kelurahan. Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Denpasar Sagung Antari Jaya Negara menyebut seluruh Posyandu terus diarahkan untuk menerapkan pelayanan berbasis enam SPM.
Pembinaan dilakukan secara berkelanjutan melalui empat Tim Pembina Posyandu Kecamatan. Tim Pembina Posyandu Kota Denpasar bersama OPD pengarah terus memberikan sosialisasi agar pemahaman dan kemampuan kader dalam menjalankan transformasi Posyandu semakin kuat.
Selain pembinaan, Aksi Membina dan Berbagi juga memberikan bantuan kepada kader. Di Kelurahan Dangin Puri, sebanyak 105 kader dari tujuh kelompok Posyandu menerima masing-masing 30 kilogram beras, dua krat atau 60 butir telur, dan dua kotak susu. Totalnya mencapai 3.150 kilogram beras, 210 krat atau 6.300 butir telur, serta 210 kotak susu.
Di Kelurahan Renon, bantuan menyasar 75 kader dari lima lingkungan atau Posyandu. Setiap kader menerima paket yang sama sehingga total bantuan mencapai 2.250 kilogram beras, 150 krat atau 4.500 butir telur, serta 150 kotak susu. Dua lokasi tersebut secara keseluruhan menyasar 180 kader.
Ny. Putri Suastini Koster menilai makna bantuan tidak terletak semata pada jumlah yang diterima. Bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus apresiasi terhadap kader yang selama ini menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mendampingi masyarakat.
Sementara itu, Pengarah Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali Putu Anom Agustina menekankan bahwa penerapan enam SPM harus dibangun melalui kerja bersama. Menurutnya, pembangunan lingkungan mencakup berbagai aspek, mulai dari kesehatan, keamanan, kebersihan, akses jalan, hingga kondisi permukiman.
“Membangun banjar atau wilayah menjadi tanggung jawab kita semua. Bukan hanya kesehatan, tetapi juga keamanan lingkungan, kebersihan lingkungan, jalan yang layak, serta permukiman yang sehat. Ini tentu menjadi bagian yang harus dikerjakan bersama, tidak hanya oleh perseorangan,” tegas Putu Anom Agustina.
Dengan transformasi enam SPM, Posyandu diharapkan semakin mampu membaca kebutuhan masyarakat sejak dari lingkungan terkecil. Kader didorong aktif memberikan edukasi, mendeteksi persoalan, sekaligus membantu warga memperoleh akses terhadap pelayanan pemerintah.
Aksi sosial tersebut juga memperkuat kolaborasi antara Tim Pembina Posyandu di tingkat provinsi, kota, kecamatan, kelurahan, OPD terkait, dan kader. Sinergi diperlukan agar transformasi Posyandu tidak berhenti pada perubahan sistem, tetapi benar-benar menghasilkan pelayanan yang lebih dekat dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ke depan, kader yang semakin memahami enam SPM diharapkan mampu memperkuat posisi Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat. Dari lingkungan, berbagai kebutuhan warga dapat dikenali, dicatat, dan diteruskan sehingga pemerintah dapat mengambil langkah yang lebih tepat. (hms/ap)

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar