JEMBRANA, Lensabali.id - Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan puluhan kepala keluarga di Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Sejumlah warga bahkan harus berjalan cukup jauh menuju sungai untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Kondisi tersebut dirasakan warga di Lingkungan Pancardawa dan Dewasana. Bantuan air bersih yang disalurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana menjadi tumpuan utama masyarakat, namun jumlahnya dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan.
Warga Lingkungan Dewasana, Ni Nyoman Ariani, mengungkapkan krisis air sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Menurutnya, pasokan bantuan air biasanya datang setiap dua hari sekali dan pernah terhenti hingga tiga hari berturut-turut.
"Warga di sini memang sudah kesulitan air sejak sebulan yang lalu. Jadi sangat bergantung dengan bantuan air bersih ini. Kalau cari air di sungai harus jalan kaki jauh sekali," ujar Ariani.
Ia menuturkan bantuan yang datang kerap habis dalam waktu singkat karena banyak warga yang bergantung pada distribusi tersebut, termasuk kelompok lanjut usia dan penyandang disabilitas. Karena itu, masyarakat berharap pengiriman air dapat dilakukan lebih sering.
"Kemarin ada kiriman langsung habis. Banyak juga lansia termasuk penyandang disabilitas yang bergantung pada air ini. Semoga dikirimnya setiap hari," katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, menjelaskan krisis air dipicu menurunnya debit sumber air pegunungan yang selama ini dimanfaatkan masyarakat melalui jaringan pipa milik desa adat. Kondisi tersebut terjadi akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.
"Di Kelurahan Pendem tidak menggunakan PDAM karena Desa Adat memiliki jaringan pipa sendiri yang memanfaatkan air pegunungan. Karena musim kemarau, debit airnya menurun," jelas Artana.
Menurutnya, distribusi bantuan air telah dilakukan secara terjadwal. Namun, BPBD juga menghadapi keterbatasan karena kuota pengambilan air dari PDAM dibatasi akibat menurunnya debit air di sejumlah sumber pasokan.
"Pengiriman air terjadwal. Suplai air bersih untuk kebutuhan dasar ada ketentuannya. Jadi air yang kita salurkan tidak boleh digunakan di luar kebutuhan dasar seperti masak dan minum. Dari PDAM juga kita dibatasi pengambilan airnya karena debit air PDAM sendiri sedang kecil," ungkapnya.
BPBD mencatat sekitar 70 kepala keluarga di Lingkungan Pancardawa dan Dewasana terdampak kekeringan. Dengan jumlah tersebut, distribusi sebanyak 5.000 liter air dalam satu kali pengiriman diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama dua hingga tiga hari.
Meski bantuan terus disalurkan, warga berharap pasokan air dapat ditingkatkan selama musim kemarau berlangsung agar kebutuhan sehari-hari masyarakat, terutama kelompok rentan, tetap dapat terpenuhi dengan baik. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar