KLUNGKUNG, Lensabali.id – Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sente belum sepenuhnya mengakhiri persoalan bagi petani di sekitar kawasan tersebut. Hingga kini, hasil panen kelapa warga masih belum kembali ke kondisi normal akibat serangan hama serangga yang diduga berasal dari sisa gunungan sampah residu di bekas TPA.
Salah seorang petani di sekitar bekas TPA Sente, Nengah Ranta, mengatakan tumpukan sampah residu yang masih berada di lokasi menjadi tempat berkembang biaknya serangga perusak tanaman. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap produktivitas kelapa petani setempat.
Menurut Ranta, hasil panen saat TPA masih beroperasi bahkan sempat anjlok hingga 70 persen akibat serangan hama. Setelah TPA ditutup, kondisi berangsur membaik, tetapi hasil produksi belum sepenuhnya kembali seperti sebelumnya.
"Dulu waktu TPA Sente belum ditutup, hancur sekali panennya, turun sampai 70% gara-gara hama serangga dari tumpukan sampah. Sekarang memang sudah ditutup dan agak mendingan, tapi dampaknya masih ada sampai sekarang. Hama dari sisa sampah itu masih menyerang bunga kelapa," kata Nengah Ranta, Minggu (30/8/2026).
Ia menyebut produksi kelapa saat ini masih mengalami penurunan sekitar 30 persen dibandingkan kapasitas normal. Serangan hama terutama terjadi pada bagian bunga kelapa sehingga berpengaruh terhadap hasil panen petani.
Petani lainnya, Sudarsa, turut menyambut baik keputusan penutupan TPA Sente. Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan harapan bagi petani yang selama ini merasakan dampak keberadaan tempat pembuangan sampah tersebut.
"Ya kami sangat bersyukur sekali TPA Sente ini ditutup," tegas Sudarsa.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Klungkung, I Komang Aswin, mengatakan pihaknya masih melakukan upaya normalisasi lahan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung yang sebelumnya digunakan sebagai TPA Sente.
Persoalan di lokasi tidak hanya berkaitan dengan sisa tumpukan sampah dan serangan serangga. Gunungan sampah eks TPA Sente juga masih menyimpan gas metana yang berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika memasuki musim kemarau.
"Itu terus kami pantau karena memang masih ada gas metananya. Itu kan sudah lama sekali pembuangan di sana. Kami juga berkoordinasi dengan pemadam untuk menyiapkan mobil tangki. Jadi secara berkala dilakukan penyiraman," terang Aswin.
Untuk rencana pemanfaatan lahan setelah penutupan, Aswin mengatakan hingga kini belum ada tata kelola khusus yang ditetapkan. Salah satu gagasan yang sempat muncul adalah menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang terbuka hijau (RTH).
Namun, rencana itu belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat mengingat kondisi lahan yang masih membutuhkan penanganan. Kandungan gas metana di dalam gunungan sampah menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan sebelum kawasan tersebut dialihfungsikan.
"Saat ini memang belum ada arah ke sana. Karena kita tahu kondisinya masih ada gas metana di sana," jelas Aswin. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar