𝗚𝗶𝗹𝗮! 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗡𝘃𝗶𝗱𝗶𝗮 𝗥𝗧𝗫 𝗣𝗿𝗼 𝟲𝟬𝟬𝟬 𝗧𝗲𝗺𝗯𝘂𝘀 𝗥𝗽 𝟮𝟴𝟱 𝗝𝘂𝘁𝗮 - LENSA BALI

Hot


Selasa, 18 Agustus 2026

𝗚𝗶𝗹𝗮! 𝗛𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗡𝘃𝗶𝗱𝗶𝗮 𝗥𝗧𝗫 𝗣𝗿𝗼 𝟲𝟬𝟬𝟬 𝗧𝗲𝗺𝗯𝘂𝘀 𝗥𝗽 𝟮𝟴𝟱 𝗝𝘂𝘁𝗮

Gila! Harga Nvidia RTX Pro 6000 Tembus Rp 285 Juta

Lensabali.id – Harga kartu grafis Nvidia kembali mengalami lonjakan signifikan. GPU workstation RTX Pro 6000 96GB Blackwell kini terpantau dibanderol hingga USD 16 ribu atau sekitar Rp 285 juta.

Harga tersebut melonjak sekitar 110 persen dibandingkan harga pre-order awal yang berada di kisaran USD 7.600. Kenaikan tidak hanya terjadi pada GPU workstation, tetapi juga merambah lini kartu grafis konsumen Nvidia.

RTX Pro 6000 sendiri telah beberapa kali mengalami penyesuaian harga sejak diperkenalkan. Pada awal 2025, kartu grafis tersebut ditawarkan dengan harga sedikit di atas USD 7.600. Beberapa waktu kemudian, harganya naik menjadi sekitar USD 8.500.

Kenaikan berlanjut hingga Juni 2026 ketika harganya mencapai sekitar USD 13 ribu. Dengan harga terbaru, RTX Pro 6000 kini berharga lebih dari dua kali lipat dibandingkan saat pertama kali diperkenalkan.

Lonjakan juga terjadi pada GPU konsumen. Harga RTX 5090 hingga Agustus 2026 telah menembus USD 4.000, padahal kartu tersebut sebelumnya diluncurkan dengan harga sekitar USD 2.000.

Sementara itu, RTX 5070 kini dijual sekitar USD 900 di sejumlah platform seperti Newegg dan Amazon. Angka tersebut hampir 65 persen lebih tinggi dibandingkan harga peluncurannya yang berada di USD 549. Adapun RTX 5050 telah menembus USD 300, dari MSRP awal USD 249.

Krisis pasokan memori menjadi salah satu faktor utama yang diyakini mendorong kenaikan harga tersebut. Tingginya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) membuat permintaan terhadap komponen memori meningkat tajam, sementara pasokan belum mampu mengimbanginya.

Tekanan tersebut diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. CEO SK Hynix Kwak Noh-Jung bahkan memperingatkan bahwa 2027 berpotensi menjadi periode terburuk bagi industri memori, dengan permintaan yang diproyeksikan tetap melampaui pasokan hingga setelah 2030.

Pakar performa perangkat lunak dan peneliti ilmu komputer Daniel Lemire turut menggambarkan kenaikan harga memori sebagai sebuah "anomali sejarah". Menurutnya, kondisi tersebut telah mengganggu tren penurunan biaya komponen yang selama puluhan tahun menjadi pola industri teknologi.

Dampaknya pun mulai dirasakan lebih luas. Krisis komponen memori berpotensi mendorong kenaikan harga berbagai perangkat elektronik, mulai dari PC dan laptop hingga smartphone, konsol gim, serta perangkat teknologi lainnya, demikian dikutip dari TechSpot, Minggu (16/8/2026). (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar