𝗦𝗰𝗮𝗺 𝗠𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗠𝗮𝗿𝗮𝗸, 𝗦𝗶𝗹𝗲𝗻𝘁 𝗡𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝗩𝗲𝗿𝗶𝗳𝗶𝗰𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻 𝗗𝗶𝗴𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗚𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗠𝗦 𝗢𝗧𝗣 - LENSA BALI

Hot


Kamis, 20 Agustus 2026

𝗦𝗰𝗮𝗺 𝗠𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗠𝗮𝗿𝗮𝗸, 𝗦𝗶𝗹𝗲𝗻𝘁 𝗡𝘂𝗺𝗯𝗲𝗿 𝗩𝗲𝗿𝗶𝗳𝗶𝗰𝗮𝘁𝗶𝗼𝗻 𝗗𝗶𝗴𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗚𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗠𝗦 𝗢𝗧𝗣

Scam Makin Marak, Silent Number Verification Digadang Gantikan SMS OTP

Lensabali.id - Maraknya penipuan digital mendorong industri telekomunikasi mengembangkan metode autentikasi yang lebih aman. Salah satu teknologi yang mulai didorong sebagai alternatif SMS One-Time Password (OTP) adalah Silent Number Verification.

Jika SMS OTP mengharuskan pengguna menerima dan memasukkan kode, Silent Number Verification bekerja di balik layar untuk memverifikasi nomor telepon. Metode ini dinilai lebih praktis sekaligus dapat mengurangi risiko social engineering.

Ancaman scam juga terus meningkat. Laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 mencatat proporsi konsumen ASEAN yang mengaku pernah menjadi korban penipuan naik dari 31% pada 2024 menjadi 45% pada 2025.

Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman mengatakan lebih dari 90% scam berdasarkan data Global Anti-Scam Alliance berkaitan dengan social engineering.

"Tak ada yang salah dengan jaringannya. Tak ada yang salah dengan mekanisme pembayarannya. Ini sebenarnya manipulasi terhadap ketakutan dan kecemasan orang melalui komunikasi," kata Julian dalam virtual media roundtable GSMA, Kamis (20/8/2026).

Menurut Julian, SMS OTP masih memiliki celah karena pengguna dapat dipengaruhi penipu untuk memberikan kode keamanan. Silent Number Verification menawarkan pendekatan berbeda karena proses autentikasi dilakukan tanpa pengguna harus menerima maupun mengetik kode.

"Dari sisi pengalaman pengguna, Silent Number Verification memberikan pengalaman yang lebih baik. Namun dari sisi autentikasi, Silent Number Verification juga jauh lebih aman," jelasnya.

Meski demikian, Julian menilai SMS OTP belum akan sepenuhnya ditinggalkan. Teknologi tersebut masih dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu, sementara Silent Number Verification diperkirakan semakin banyak diterapkan pada layanan yang membutuhkan autentikasi lebih kuat.

"Saya pikir SMS OTP akan tetap memiliki tempat untuk menyampaikan informasi. Namun untuk penggunaan tertentu, Silent Number Verification jelas menjadi semakin dominan," ujarnya.

Teknologi tersebut merupakan bagian dari GSMA Open Gateway, yang kini telah mengembangkan lebih dari 60 API. Sejumlah API bahkan dapat menyediakan sinyal jaringan untuk membantu mendeteksi potensi scam dan fraud.

Telco Tak Bisa Berantas Scam Sendirian

GSMA menegaskan operator telekomunikasi tidak dapat menghadapi ancaman scam seorang diri. Teknologi jaringan memang dapat membantu mencegah penyalahgunaan sistem, tetapi perlindungan tersebut tidak cukup apabila pengguna memberikan data sensitif kepada penipu.

"Upaya teknologi dari operator telekomunikasi dapat membantu mencegah scammer atau hacker membobol jaringan, aplikasi, atau layanan menggunakan perangkat teknologi. Namun, teknologi tidak bisa berbuat banyak jika korban terus membagikan informasi pribadi seperti kredensial akun atau OTP," kata tim GSMA.

Risiko semakin besar ketika data pelanggan bocor dari berbagai institusi, mulai dari bank, maskapai penerbangan, perusahaan asuransi hingga perusahaan lain yang menyimpan informasi konsumen.

Karena itu, GSMA mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, regulator, kepolisian, perbankan, dan operator telekomunikasi. Edukasi masyarakat mengenai modus scam serta penguatan privasi dan perlindungan data juga dinilai penting.

GSMA kini menjalankan Cross-Sector Anti-Scam Task Force. Di Asia Tenggara, organisasi tersebut juga menguji kemungkinan pertukaran sinyal tertentu antara operator dan ekosistem digital untuk membantu mengidentifikasi potensi scam sejak dini. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar