Lensabali.id - Menjelang final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, sebuah simulasi berbasis kecerdasan buatan (AI) menarik perhatian publik. Melalui 50.000 simulasi turnamen, model AI Claude memprediksi Spanyol memiliki peluang terbesar untuk keluar sebagai juara dunia.
Prediksi tersebut dibuat oleh Senior iOS Engineer sekaligus penggemar teknologi, Divyesh Vekariya. Dalam tulisannya di Medium, ia menjelaskan bahwa proyek tersebut dimulai sejak fase penyisihan grup dengan memanfaatkan kemampuan AI Claude untuk membangun sistem prediksi berbasis data historis sepak bola internasional.
"Saya meminta Claude untuk membuat sesuatu yang dapat diperbarui sesuai dengan data tersebut: sebuah sistem peringkat nyata untuk semua 48 tim, yang disesuaikan dengan riwayat pertandingan sebenarnya, diuji terhadap tiga Piala Dunia terakhir, dan dijalankan sebagai simulasi Monte Carlo hingga akhir babak penyisihan grup dan seluruh babak gugur 32 tim," tulis Vekariya.
Claude kemudian diminta mengumpulkan data pertandingan internasional resmi sepak bola putra sejak 1872, yang mencakup lebih dari 49.000 laga. Data tersebut meliputi pertandingan Piala Dunia, babak kualifikasi, turnamen kontinental, hingga laga persahabatan.
Dalam model yang digunakan, setiap hasil pertandingan memengaruhi peringkat tim berdasarkan tingkat kejutan hasil, selisih skor, serta pentingnya pertandingan. Laga Piala Dunia memiliki bobot yang jauh lebih besar dibandingkan pertandingan persahabatan.
Vekariya juga meminta Claude menguji model tersebut menggunakan pendekatan Elo dan simulasi Poisson terhadap Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022. Hasilnya menunjukkan tingkat akurasi sekitar 55 persen dalam memprediksi hasil pertandingan di tiga edisi tersebut.
Dari ribuan simulasi yang dijalankan, Spanyol muncul sebagai tim dengan peluang juara tertinggi. Sekitar satu dari setiap 3,4 simulasi berakhir dengan La Furia Roja mengangkat trofi. Argentina menempati posisi kedua, disusul Prancis, Inggris, Portugal, dan Jerman.
Menurut Vekariya, model tersebut juga menunjukkan bahwa Spanyol dan Argentina merupakan pasangan final yang paling sering muncul dalam simulasi. Pertemuan kedua tim terjadi dalam sekitar satu dari sebelas simulasi yang dijalankan.
"Jika semua 50.000 turnamen digabungkan, final yang paling sering terjadi, yaitu sekitar 1 dari setiap 11 simulasi, adalah Spanyol melawan Argentina. Ini adalah pasangan yang paling mungkin terjadi di panggung terbesar," ujarnya.
Meski demikian, Vekariya mengingatkan bahwa prediksi hanyalah gambaran probabilitas. Sejarah Piala Dunia menunjukkan tim favorit tidak selalu berhasil menjadi juara. Namun berdasarkan data dan simulasi yang dilakukan, Claude menempatkan Spanyol sebagai kandidat terkuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar