𝗠𝗶𝗰𝗿𝗼𝘀𝗼𝗳𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗚𝟰𝟮 𝗛𝗮𝗱𝗮𝗽𝗶 𝗞𝗲𝗻𝗱𝗮𝗹𝗮 𝗘𝗻𝗲𝗿𝗴𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗗𝗮𝘁𝗮 𝗖𝗲𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗔𝗜 𝗱𝗶 𝗞𝗲𝗻𝘆𝗮 - LENSA BALI

Hot


Senin, 18 Mei 2026

𝗠𝗶𝗰𝗿𝗼𝘀𝗼𝗳𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗚𝟰𝟮 𝗛𝗮𝗱𝗮𝗽𝗶 𝗞𝗲𝗻𝗱𝗮𝗹𝗮 𝗘𝗻𝗲𝗿𝗴𝗶 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗗𝗮𝘁𝗮 𝗖𝗲𝗻𝘁𝗲𝗿 𝗔𝗜 𝗱𝗶 𝗞𝗲𝗻𝘆𝗮

Microsoft dan G42 Hadapi Kendala Energi untuk Bangun Data Center AI di Kenya

Lensabali.id - Rencana pembangunan data center kecerdasan buatan (AI) milik Microsoft bersama perusahaan teknologi Abu Dhabi, G42, di Kenya dilaporkan menghadapi hambatan serius terkait pasokan energi listrik.

Berdasarkan laporan Bloomberg, proyek tersebut tertunda karena pemerintah Kenya belum mampu memenuhi permintaan jaminan kapasitas listrik tahunan yang dibutuhkan untuk mendukung operasional fasilitas AI tersebut.

Presiden Kenya, William Ruto, mengungkapkan kebutuhan energi data center itu sangat besar hingga berpotensi membebani sistem kelistrikan nasional.

Ia bahkan menggambarkan Kenya kemungkinan harus memadamkan listrik di separuh wilayah negara demi memastikan fasilitas tersebut tetap beroperasi secara stabil.

Proyek pembangunan data center ini pertama kali diumumkan pada Mei 2024 saat Ruto melakukan kunjungan ke Amerika Serikat. Fasilitas tersebut rencananya dibangun di kawasan Olkaria, Rift Valley, dengan memanfaatkan sumber energi panas bumi atau geothermal.

Dalam kerja sama tersebut, G42 bertugas memimpin pembangunan fasilitas data center, sedangkan Microsoft menyediakan dukungan layanan cloud Azure untuk kebutuhan pelanggan di kawasan Afrika Timur.

Pada tahap awal, fasilitas itu ditargetkan memiliki kapasitas 100 megawatt dan dijadwalkan mulai beroperasi tahun ini. Namun dalam pengembangan jangka panjang, kapasitasnya dirancang meningkat hingga mencapai 1 gigawatt.

Besarnya kebutuhan daya inilah yang kemudian menjadi tantangan utama proyek tersebut. Saat ini, kapasitas listrik nasional Kenya berada di kisaran 3.000 hingga 3.200 megawatt, sementara beban konsumsi puncaknya mencapai sekitar 2.444 megawatt.

Apabila proyek mencapai kapasitas penuh 1 gigawatt, data center tersebut diperkirakan akan menyerap sekitar sepertiga total kapasitas listrik nasional Kenya.

Bahkan pada tahap awal 100 megawatt saja, fasilitas tersebut disebut akan menggunakan porsi besar dari pembangkit panas bumi Olkaria yang saat ini menghasilkan sekitar 950 megawatt listrik.

Meski proyek mengalami penundaan, pemerintah Kenya memastikan pembicaraan dengan Microsoft masih terus berlangsung. Sekretaris Kementerian Informasi Kenya, John Tanui, menyebut skala proyek masih memerlukan sejumlah penyesuaian teknis.

Kerja sama Microsoft dan G42 sendiri menjadi sorotan sejak Microsoft menggelontorkan investasi senilai 1,5 miliar dollar AS ke perusahaan tersebut pada 2024. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar