𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝟱.𝟬𝟬𝟬 𝗗𝗼𝘀𝗶𝘀 𝗩𝗮𝗸𝘀𝗶𝗻 𝗔𝗦𝗙 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗖𝗲𝗴𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗺𝗮𝗺 𝗕𝗮𝗯𝗶 𝗔𝗳𝗿𝗶𝗸𝗮 - LENSA BALI

Hot


Minggu, 31 Mei 2026

𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝟱.𝟬𝟬𝟬 𝗗𝗼𝘀𝗶𝘀 𝗩𝗮𝗸𝘀𝗶𝗻 𝗔𝗦𝗙 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗖𝗲𝗴𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗺𝗮𝗺 𝗕𝗮𝗯𝗶 𝗔𝗳𝗿𝗶𝗸𝗮

Bali Terima 5.000 Dosis Vaksin ASF untuk Cegah Penyebaran Demam Babi Afrika

DENPASAR, Lensabali.id – Pemerintah Provinsi Bali mendapat alokasi sebanyak 5.000 dosis vaksin African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika dari pemerintah pusat sebagai langkah memperkuat perlindungan terhadap populasi ternak babi di Pulau Dewata.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, I Wayan Sunada, menegaskan ASF masih menjadi ancaman serius bagi sektor peternakan karena tingkat penyebarannya yang cepat dan berpotensi menyebabkan kematian ternak dalam jumlah besar.

“ASF menjadi perhatian serius karena penularannya cukup cepat dan dapat menyebabkan kematian pada ternak babi. Karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan oleh seluruh peternak,” ungkap Sunada, Sabtu (30/05/2026).

Menurutnya, ribuan dosis vaksin tersebut dijadwalkan tiba pada Juni 2026 setelah proses pengadaan oleh pemerintah pusat selesai dilakukan. Selanjutnya, vaksin akan mulai didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota di Bali pada Juli mendatang.

“Pemerintah pusat saat ini sedang melakukan proses pengadaan vaksin ASF. Setelah distribusi dilakukan ke daerah, kami akan menyiapkan langkah teknis pelaksanaan vaksinasi sesuai sasaran yang telah ditetapkan,” imbuhnya.

Program vaksinasi nantinya diprioritaskan bagi babi pejantan dan indukan yang memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan produksi serta pembibitan ternak.

Sunada menjelaskan ternak babi penggemukan tidak menjadi sasaran utama karena masa pemeliharaannya relatif singkat sebelum dipasarkan atau dipotong untuk konsumsi.

“Babi pejantan dan indukan menjadi prioritas karena memiliki nilai penting dalam keberlanjutan produksi dan pembibitan ternak babi,” jelasnya.

Selain vaksin ASF, Bali juga akan menerima tambahan 20.360 dosis vaksin Classical Swine Fever (CSF) atau kolera babi yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan kerugian besar bagi peternak.

Di samping program vaksinasi, pemerintah terus mendorong penerapan biosekuriti secara disiplin di lingkungan peternakan untuk mencegah masuk dan menyebarnya virus.

“Penerapan biosekuriti sangat efektif apabila dilakukan secara disiplin dan konsisten oleh peternak. Virus ASF dapat menyebar melalui berbagai media, sehingga perlindungan kandang harus dilakukan secara menyeluruh,” terang Sunada.

Ia juga mengimbau peternak agar segera melaporkan apabila menemukan gejala penyakit seperti demam, nafsu makan menurun, tubuh lemas, perubahan warna kulit, hingga kematian mendadak pada ternak. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar