𝗞𝗲𝗺𝗮𝗿𝗮𝘂 𝗣𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴, 𝗛𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝟯𝟯𝟬 𝗛𝗲𝗸𝘁𝗮𝗿𝗲 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗞𝗲𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗶𝗿 - LENSA BALI

Hot


Sabtu, 05 September 2026

𝗞𝗲𝗺𝗮𝗿𝗮𝘂 𝗣𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴, 𝗛𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿 𝟯𝟯𝟬 𝗛𝗲𝗸𝘁𝗮𝗿𝗲 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗱𝗶 𝗕𝗮𝗹𝗶 𝗞𝗲𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗶𝗿

Kemarau Panjang, Hampir 330 Hektare Sawah di Bali Kekurangan Air

DENPASAR, Lensabali.id - Kekeringan akibat kondisi kemarau berdampak pada 328,78 hektare lahan sawah di Bali. Dari jumlah tersebut, sebagian besar masih berada dalam kategori ringan, sementara 29,95 hektare tanaman dinyatakan puso.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Bali I Wayan Sunada merinci, lahan yang terdampak kekeringan ringan mencapai 288,58 hektare. Kemudian 10,25 hektare masuk kategori sedang dan 29,95 hektare mengalami puso. Sementara itu, belum ada sawah yang masuk kategori kekeringan berat.

"Kami tidak hanya melihat berapa luas lahan yang mengalami kekurangan air, tetapi juga bagaimana kondisi tanaman di lapangan. Karena setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda, maka penanganannya juga harus disesuaikan dengan umur tanaman, ketersediaan air, kondisi irigasi, dan tingkat dampaknya," ujar Sunada, Jumat (4/9/2026).

Menurut Sunada, koordinasi antara pemerintah, subak, dan penyuluh menjadi bagian penting dalam memantau perkembangan kondisi tanaman. Informasi dari lapangan diperlukan agar lahan yang masih berpotensi diselamatkan dapat segera mendapat penanganan.

"Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga pertanaman yang masih bisa diselamatkan. Optimalisasi sumber air, pengaturan distribusi air, pompanisasi di lokasi yang memungkinkan, serta pengaturan waktu tanam menjadi bagian dari upaya kita untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah kondisi kemarau," jelasnya.

Pemantauan juga dilakukan Petugas Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Selain mengecek ketersediaan air, petugas memperbarui data mengenai kondisi tanaman, umur tanaman, tingkat kerusakan, hingga luas lahan yang masih dapat diselamatkan dan yang telah mengalami puso.

Petani juga didorong menyesuaikan pola budidaya dengan kondisi lahan dan ketersediaan air. Penggunaan varietas yang sesuai serta penerapan metode pertanian yang lebih hemat air menjadi salah satu langkah yang dianjurkan.

"Selain itu, petani juga didorong menggunakan varietas yang sesuai dengan kondisi setempat serta menerapkan budidaya yang lebih efisien dalam penggunaan air," ungkap Sunada.

Distanpangan Bali akan terus memperbarui data berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan. Data tersebut nantinya menjadi salah satu dasar dalam menentukan wilayah prioritas pemantauan serta langkah penanganan bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga tanaman yang masih produktif sekaligus menekan dampak kekeringan terhadap sektor pertanian Bali selama musim kemarau. (ap)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar